Esports Ecosystem

Fnatic Masih Menunggu Waktu yang Tepat untuk Membentuk Divisi VALORANT Mereka

05 Aug 2020 | Narendra Soejoedi
Memulai sebuah tim esports dari awal tentu saja menuntut jumlah dana yang tidak sedikit, termasuk bagi organisasi sebesar Fnatic.

Di tengah menanjaknya tren game FPS terbaru besutan studio Riot Games, Fnatic terpantau belum memiliki roster di divisi game VALORANT. Dalam sebuah pernyataan Colin “Cojo” Johson sebagai Senior Team Director dari Fnatic menyampaikan dalam sebuah wawancara bahwa sejauh ini Fnatic belum akan membentuk tim divisi VALORANT dan masih membuka diri sambil terus memantau pemain potensial, setidaknya sampai tahun 2021.

Sebagai organisasi yang namanya mengudara dengan menjadi salah satu tim CS:GO terbaik, tentu saja tumbuh harapan dari para penggemar agar Fnatic bisa turut serta dalam skena kompetitif VALORANT sejak tahap awal perkembangannya. Sekalipun dari segi umur game VALORANT bisa dikatakan masih seumur jagung, nyatanya game VALORANT sudah berhasil menarik banyak organisasi esports ternama untuk bersiap dengan sejumlah roster VALORANT mereka.

Di waktu yang kurang lebih bersamaan game VALORANT menjadi sebuah fenomena migrasi beberapa pemain profesional yang sudah lama aktif di game FPS lain. Hingga saat ini sudah tercatat beberapa nama yang meninggalkan disiplin gamenya untuk memulai bermain serta menguji peruntungannya di dsiplin game VALORANT.

Adapun melalui gelaran turnamen IGNITION SERIES, Riot Games melalui VALORANT memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada komunitas untuk secara aktif mengadakan turnamen di level akar rumput. Tercatat juga organisasi esports sepreti Team Vitality, T1, dan FaZe Clan yang mengambil kesempatan menggelar turnamen sekaligus sebagai ajang pencarian bakat untuk melengkapi roster tim VALORANT mereka.

Fenomena keengganan yang sama juga bisa terlihat dari skena Asia Tenggara. Beberapa tim yang sudah terlebih dahulu memiliki pengalaman di dispilin game FPS, sejauh ini masih dalam tahapan membidik kesempatan untuk lebih terjun ke dalam divisi game VALORANT dan membuat tim.

Fnatic menyampaikan bahwa langkah yang akan diambilnya tidak terlalu terbu-buru serta masih memberikan ruang dan waktu yang lebih untuk melihat potensi game VALORANT. Apa yang dilakukan oleh Fnatic menegaskan kehati-hatian menginggat secara bisnis, sebuah tim esports memerlukan dana yang tidak sedikit untuk digelontorkan di satu waktu.

Di sisi lain juga tercatat bahwa gaji pemain profesional game VALORANT sudah menyentuh angka yang perlu diantispisasi sekalipun belum ada turnamen VALORANT yang digelar secara resmi oleh Riot Games.

via: Essentially Esports
via: Essentially Esports

Adapun arus pemasukan dari tim esports sejauh ini masih mengandalkan pendaanan internal maupaun hdaiah uang dari rangkaian turnamen IGNITION SERIES yang belum menunjukana tanda-tanda melambat dan digantikan oleh turnamen yang sepenuhnya dijalankan Riot Games.

Secara bisnis tidak dapat dipungkiri bahwa gaji pemain bukan satu-satunya faktor yang masuk dalam pertimbangan sebuah organisasi esports, ketersedian dan perburuan pemain profesional potensial juga mendatangkan tantangan tersendiri.

Di tengah situasi pandemi dan skena kompetisi yang masih tidak kunjung menentu, memulai sebuah tim esports baru akan menjadi langkah ayng dibayangi oleh faktor resiko kerugian yang lebih besar dari sebelumnya.