Esports Ecosystem

Flashpoint Jadi Liga CS:GO Baru, Apa Uniknya?

06 Feb 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Flashpoint jadi liga CS:GO pertama yang dimiliki dan diselenggarakan oleh tim yang ikut

Counter-Strike: Global Offensive kini memiliki liga baru bernama Flashpoint. Satu hal yang membedakan liga tersebut dengan liga CS:GO profesional lainnya (seperti Pro Tour dari DreamHack dan ESL) adalah Flashpoint dimiliki dan dijalankan oleh tim esports yang ikut bertanding di dalamnya. Tujuan liga ini dibuat adalah untuk membuat ekosistem esports yang sustainable. Beberapa organisasi esports besar yang telah mengumumkan keikutsertaan dalam liga ini antara lain Cloud9, Gen.G, Dignitas, dan Overactive Media. Mereka membayar US$2 juta sebagai biaya franchise.

Dalam Flashpoint, yang akan dimulai pada Maret 2020, akan ada 12 tim yang bertanding: 10 tim yang merupakan rekan dan 2 tim yang lolos babak kualifikasi terbuka. Jika dua tim yang berhasil lolos kualifikasi tidak dibawahi organisasi esports profesional, maka tim tersebut akan mendapatkan bayaran tetap dari Flashpoint sebesar US$25 ribu per bulan. Sementara untuk total hadiah, Flashpoint menawarkan US$2 juta. Untuk broadcast talent, Flashpoint akan mengajak veteran CS:GO Duncan “Thorin” Shields dan Christopher “MonteCristo” Mykles.

Flashpoint diklaim sebagai liga yang menawarkan pembagian saham terbesar untuk organisasi esports dan pemain profesional yang turut serta di dalamnya. Memang, struktur Flashpoint berbeda dari kebanyakan turnamen esports. Di turnamen esports berbasis franchise seperti Overwatch, Call of Duty dan League of Legends, publisher game bertanggung jawab atas turnamen. Jadi, publisher game memiliki kuasa paling besar. Dan hal ini berpotensi menyebabkan pertikaian antara organisasi esports yang mengikuti liga-liga tersebut dengan pihak publisher.

“Di satu sisi, ada publisher yang menyelenggarakan liga, dan di sisi lain, ada tim dan pemain profesional,” kata Co-founder Gen.G, Kent Wakeford, menurut laporan The Verge. “Ketika mereka mendapatkan sponsor atau mencari pembeli hak siar, atau ketika mereka mengadakan turnamen langsung, pihak liga hanya akan memikirkan liga itu sendiri. Bagaimana kita bisa mendapatkan uang? Bagaimana kita menguntungkan diri kita sebagai liga esports? Mereka merahasiakan cara mereka untuk mendapatkan untung, dan para tim mungkin bisa mendapatkan untung dari struktur yang pihak liga tetapkan. Struktur turnamen seperti ini tidak berusaha meyelaraskan apa yang dilakukan oleh pihak liga dan apa yang dilakukan oleh tim atau pemain profesional.”

Wakeford percaya, hal ini tidak terjadi di Flashpoint. Karena setiap tim berusaha untuk mencapai tujuan yang sama, mereka akan bersedia untuk saling membantu. Dia membandingkan struktur Flashpoint dengan liga lain. Dia menyebutkan, liga esports terasa seperti ada perebutan kekuasaan antara organisasi esports yang berlaga dengan pihak penyelenggara liga.

Format turnamen

Flashpoint akan terdiri dari dua fase. Dalam masing-masing fase, 12 tim yang berlaga akan dibagi ke dalam 3 grup yang masing-masing terdiri dari 4 tim. Dari 12 tim, tiga tim terbaik akan dimasukkan ke dalam grup yang berbeda secara random. Kapten dari tim tersebut lalu berhak untuk memilih tim lain untuk masuk ke grupnya. Setiap grup kemudian akan bertanding dengan satu sama lain menggunakan format double-elimination. Pada fase kedua, hal yang sama juga dilakukan. Dua belas tim dibagi ke dalam 3 grup yang akan saling bertanding dengan satu sama lain, lapor Dexerto.

Anda bisa mengetahui lebih lanjut tentang format Flashpoint dalam video di bawah.

Setiap tim akan mendapatkan poin berdasarkan posisi mereka di grup. Tim yang keluar sebagai juara grup mendapatkan 75 poin, juara kedua 50 poin, juara ketiga 30 poin, dan juara empat 15 poin. Delapan tim dengan nilai tertinggi akan bisa masuk ke babak playoff. Delapan tim tersebut akan bertanding dengan sistem double-elimination bracket. Setiap pertandingan dalam Flashpoint akan menggunakan sistem best-of-three.

Sebagai liga profesional, Flashpoint harus siap bersaing dengan turnamen esports lain, termasuk ESL Pro League, liga CS:GO yang telah diadakan sejak 2015 dan diikuti oleh beberapa tim besar, seperti FaZe Clan, Team Liquid dan Fnatic. Meskipun begitu, Wakeford optimistis, keunikan Flashpoint akan membuatnya dapat bertahan. “Jika kami bisa menyelenggarakan turnamen ini dengan benar, saya tidak khawatir akan liga lain,” ujarnya.

Sumber header: Twitter