Dark
Light

Everybody Loves Twitter, Or not?

1 min read
December 14, 2009

yahooMinggu kemarin adalah satu dari sekian banyak minggu-minggu sibuk Google, banyak sekali perubahan serta kemajuan dan produk layanan baru yang di rilis, termasuk salah satunya adalah real-time search yang merupakan salah satu efek kerja sama dengan Twitter.

Real-time menjadi track balapan yang melibatkan para pembalab kakap, seperti Google, Bing dan kini Yahoo. Setelah sempat menjalankan pencarian real-time dengan format semi manual, yaitu membuat tab khusus untuk pencarian real-time, kini Yahoo menjalankan perbaikan integrasi untuk hasil pencarian real-time.

Pada halaman utama hasil pencarian, Yahoo kini menampilkan juga hasil pencarian dari Twitter, tapi hanya untuk konten real-time yang sedang menjadi trend dan tidak semua konten real-time akan muncul. User masih bisa melihat tab-tab pilihan untuk hasil pencarian lain, seperti foto, video, dan Twitter, tapi untuk topik yang banyak dibicarakan orang dan sesuai dengan konten yang anda cari, Yahoo akan menampilkan langsung di halaman utama hasil pencarian.

Jika dilihat gerakan Yahoo ini sedikit terbelakang dari pada pembalab lain seperti Google dan Bing, yang menampilkan langsung hasil pencarian real-time, contohnya Google yang menampilkan hasil pencarian real-time lengkap dengan memilih option ‘updates’ yang bisa anda temukan jika anda mengklik pilihan tab ‘show options’. Dengan keterbatasan akses, bisa jadi baru ini yang bisa dilakukan Yahoo, dari pada tertinggal sama sekali, lebih baik mengakalinya agar tetap bisa menampilkan hasil pencarian real-time.

Ini menunjukkan bahwa popularitas konten real-time, khususnya dari Twitter memang banyak dicari dan dibutuhkan oleh user, sehingga para giant search angine berlomba untuk menampilkan hasil pencarian real-time yang relevan. Dan akhirnya kita sampai pada kesimpulan, semua orang menyukai Twitter? Atau tidak?

Hasil pencarian real-time mungkin belum berpengaruh sangat besar pada user Indonesia, pencarian konten di sini, bisa jadi masih terbatas pada sumber-sumber data yang pasif, atau tidak bergerak cepat seperti konten real-time yang terus berubah setiap saat. Mungkin, hanya kantor berita serta konten-konten yang berbau news yang sangat tergantung dari pola kerja real-time, seperti info tentang pengumpulan koin untuk Prita kemarin yang hampir separuh jalur informasi berkembang lewat Twitter, serta berita bencana beberapa waktu yang lalu, berita tentang kebakaran lampu logo di Citos pun tidak luput dari kehebatan konten real-time dari Twitter.

Untuk jenis konten lain seperti brand building, pemasaran, promo-promo on line, masih sedikit sekali, saya mencoba mengetikkan beberapa brand terkenal tanah air di search engine, sebagian besar brand yang saya ketikkan tidak muncul di hasil pencarian real-time dari Twitter, lalu saya mencoba berapa event populer, beberapa muncul dan yang lain tidak.

Memang sudah ada yang mulai mencoba untuk masuk ke ranah real-time, tapi masih banyak sekali perusahaan dan para praktisi profesional yang belum sadar betapa besar kekuatan aplikasi real-time, seperti Twitter.

Apakah mungkin ini dikarenakan pengguna internet kita hanya sekitar 30-an juta? Atau para praktisi yang belum sadar kekuatan internet untuk program mereka? Did everybody loves Twitter? Or not ?

Share pendapat anda tentang real-time search, siapa tau pendapat anda bisa memberikan ide pada para startup lokal untuk semakin berkembang. 🙂

Wiku Baskoro

Penggemar streetphotography, penikmat gadget, platform agnostic gamers, build Hybrid.co.id to make impact.

6 Comments

  1. Saya sendiri merasa memang kekuatan real time microblog ini luar biasa. Mungkin lebih tepatnya dibilang “real time amateur journalism”. Dan ini pertanyaan yang bagus, apakah orang-orang menyukai atau tidak? Dari suka kemudian nantinya bisa ditanyakan “butuh atau tidak?”.

    Pola pemakaian di Indonesia (kecuali HP!) memang selalu menjadi “Laggard” dan bukan innovator ataupun early adopter (Everett M. Rogers, 1962). Kalau belum ada yang sukses memakai, mereka takut terjun dan mencoba sendiri. Nanti ketika sudah ada yang sukses, baru deh berlomba-lomba untuk “ikutan ngetren”.

    Jadi saya rasa untuk sekarang ini kuantitas pembuktian yang ada belum cukup di mata banyak perusahaan / praktisi professional Indonesia sehingga mereka mau keluar dari status inertia mereka. Mereka masi memiliki mental “so what?” dan belum “what's that?”.

    Kita lihat 6 bulan lagi 😀

  2. Twitter disukai dan sudah terbukti saat kejadian-kejadian yang menggemparkan yang saat itu para pewarta media massa belum bisa melaporkan apa yang terjadi, sedangkan warga sipil disekitar mempostingkan keadaan sekitarnya dengan twitter menjadi acuan pemberitaan detik itu …

  3. mas pandu, komentar yang sangat menarik, seru nih komennya. 🙂

    saya setuju, sepertinya semester pertama tahun depan akan menjadi saat yang seru bagi para praktisi internet, dan siapa yang lebih cepat, kemungkinan menjadi leader lebih besar, meski proses edukasi pasar pasti akan lebih berat. 😀

  4. terima kasih wikupedia 🙂

    yes, masalah edukasi memang tantangan paling berat untuk sesuatu yang baru, apalagi di Indonesia. Saya sudah pernah mengalaminya sendiri dengan beberapa aspek di internet. Tapi mungkin kalau social networking, saya lihat orang Indonesia bisa lebih cepat beradaptasi dan mereka cenderung mampu untuk self-educate.

    good topic 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

When Blogging And Microblogging Unite

Next Story

FocalPop: Menjual Foto Sesuai Pesanan

Latest from Blog