Esports Ecosystem

4 Dampak Negatif Esports untuk Kaum Muda di Indonesia

03 Dec 2019 | Yabes Elia
Nyatanya, melihat kondisi industri dan ekosistem esports kita sekarang, ada sejumlah dampak negatif yang mungkin perlu disadari.

Biasanya, opini-opini tentang dampak negatif esports dan game datang dari kalangan konservatif ataupun masyarakat awam. Sebaliknya, para pelaku yang punya kepentingan di esports seringnya, jika tak mau dibilang selalu, meneriakkan betapa mulianya pengaruh esports bagi kaum muda.

Saya? Saya memang aneh… Saya pribadi memang punya kepentingan dan keinginan melihat industri dan ekosistem esports di Indonesia maju karena kebetulan saya sudah berkarier di industri game dan sekitarnya dari 2008. Namun demikian, saya tak ingin terjebak dengan bias-bias kognitif yang biasanya terlihat jelas pada dikotomi pilihan politik.

Lagipula, saya percaya betul bahwa setiap hal pasti punya dampak positif dan negatif di saat yang sama. Demikian juga dengan dampak esports yang kini sedang hingar bingar di kalangan anak muda ataupun industri. Lalu apa tujuannya? Saya hanya berharap dengan menyuguhkan wacana ini, kita, semua yang peduli dengan keberlangsungan ekosistem esports, bisa setidaknya menyadari atau bahkan menentukan sikap lanjutan.

Tanpa panjang lebar lagi, inilah 4 dampak negatif esports bagi kaum muda di Indonesia.

Pemupuk Arogansi Dosis Tinggi

Sumber: Escape Artist
Sumber: Escape Artist

Sepanjang perjalanan saya jadi seorang jurnalis dari 2008, inilah keanehan yang saya temukan. Atlet ataupun selebriti esports seringkali lebih arogan ketimbang petinggi perusahaan internasional sekalipun. Kebetulan saja, saya sudah mewawancarai sejumlah petinggi perusahaan, bahkan yang kelasnya internasional ataupun konglomerasi. Kebanyakan dari mereka justru lebih ramah menjawab ataupun merespon pertanyaan saya ketimbang saat saya mewawancarai atlet esports ataupun beberapa selebriti sosmed yang berkecimpung di sini.

Memang, ada banyak juga pro player ataupun mereka-mereka yang sering tampil di industri esports itu begitu terbuka dan ramah terhadap media — setidaknya ke saya… Di sisi lain, saya juga beberapa kali menemukan petinggi perusahaan yang jelas menunjukkan keengganannya berinteraksi dengan media — atau mungkin, spesifik ke saya saja juga kwkakwka…

Di satu sisi, hal tadi memang aneh mengingat petinggi perusahaan biasanya punya kuasa, kapasitas, dan pengalaman yang lebih berharga ketimbang para atlet esports yang memang relatif muda. Meski demikian, di sisi lainnya, saya juga memahami kenapa hal ini bisa terjadi.

Ketika seseorang yang masih berusia 20an (atau bahkan belasan) sudah merasa berada di puncak dunia, arogansi itu memang mungkin tak bisa dibendung. Setidaknya saya pribadi juga dulu merasakan hal tersebut. Komunitas esports memang punya kecenderungan mengelu-elukan dan memuja-muja jagoan atau idolanya masing-masing. Hal inilah yang memupuk arogansi ego masing-masing dengan dosis tinggi.

Kenapa saya bisa bilang arogansi jadi sebuah dampak negatif? Karena, saya kira setiap manusia punya kecenderungan untuk memilih lebih banyak berinteraksi dengan mereka-mereka yang menerima dengan tangan terbuka. Ditambah lagi, arogansi membuat kita kehilangan empati dan kian sempit melihat dunia.

Indoktrinasi Budaya Instan

Dengan pesatnya industri dan ekosistem esports di Indonesia, hal ini menyebabkan para pelaku di dalamnya terbiasa dengan budaya instan. Hal ini sebenarnya pernah dibahas di artikel yang saya tulis soal regenerasi esports namun izinkan saya menjelaskannya singkat di sini.

Ekosistem dan industri esports kita saat ini memang bisa saja meroketkan karier seseorang dengan begitu cepat. Atlet esports yang tadinya bukan siapa-siapa bisa jadi idola sejumat ‘umat’ dalam sekejap. Dibandingkan dengan atlet olahraga, menurut penjelasan Yohannes Siagian yang saat ini jadi Kepala Pengembangan Esports Sekolah PSKD (saat kami berbincang soal regenerasi tadi), karier instan ini lebih jarang terjadi. Pasalnya, di olahraga ‘tradisional’, mereka yang ingin jadi atlet pelatnas harus melewati berbagai fase seperti mewakili sekolah, kota, ataupun provinsi.

Sayangnya, hal ini juga terjadi tak hanya untuk pro player tapi para profesional yang berkecimpung di esports. Dengan antusiasme pasar esports yang memang sedang tinggi-tingginya, tak sedikit juga banyak orang yang jadi merasa ‘ahli’ di esports padahal pengalamannya baru seumur jagung. Tak sedikit juga para pelaku esports di Indonesia sekarang ini yang hanya bermodal passion.

Sumber: Acadia Software
Sumber: Human Resource Online

Mungkin memang saya yang terlalu konservatif soal hal ini namun saya sangat percaya bahwa belajar itu mengalami. Saya juga percaya betul bahwa setiap keahlian, apapun itu bidangnya, butuh proses yang panjang, melelahkan, dan tak jarang membosankan.

Sebenarnya indoktrinasi budaya instan ini juga terjadi tak hanya karena esports tapi juga karena kemajuan industri digital dan teknologi yang kerap kali menyuguhkan gratifikasi instan.

Meski begitu, menurut saya, indoktrinasi budaya instan ini aneh karena justru bertentangan dengan apa yang coba diajarkan dari kegiatan bermain gameGame itu justru memberikan penekanan bahwa semua hal pasti butuh proses. Anda tidak mungkin tiba-tiba level 100 saat mulai bermain. Anda harus membasmi ribuan atau bahkan jutaan musuh untuk mengumpulkan EXP yang dibutuhkan untuk naik level di RPG. Anda juga harus bertahap mendaki competitive ranks di game-game multiplayer yang kompetitif.

Menjadikan Uang Sebagai Tujuan Akhir

Sumber: Every Geek
Sumber: Every Geek

“Kenapa harus terjun ke esports? Karena Anda bisa mendapatkan banyak uang dari sana…”

Mungkin itulah argumentasi yang paling sering saya temui di banyak talkshow soal esports yang belakangan juga mulai menjamur. Di luar acara-acara kampus dan sekolah, seperti di artikel, video, postingan sosmed atau apapun itu, uang jugalah yang dijadikan motivasi utama kenapa generasi muda harus terjun ke esports. Saya sendiri juga harus mengaku ‘dosa’ karena menyuguhkan argumentasi yang sama di beberapa kali kesempatan.

Tidak, saya tidak akan berargumen soal uang yang tidak bisa membeli semua hal. Saya sendiri cinta uang (wkwkwkwk) dan percaya banyak, jika tidak semua, hal bisa dibeli dengan uang. Kita bisa mempercepat proses belajar dengan uang. Kita juga bisa memperkaya pengalaman dengan membayar. Bahkan cinta pun katanya juga bisa dibeli dengan uang.

Argumentasi soal uang tadi sebenarnya wajar karena jadi jawaban paling mudah yang bisa dipahami semua orang. Namun sekarang, saya akan mencoba menawarkan argumentasi yang lebih jauh lagi.

Di sini, saya lebih berargumen bahwa yang negatif adalah menjadikan uang sebagai tujuan akhir. Muasalnya, uang hanyalah salah satu alat untuk mencapai tujuan, bukannya tujuan akhirnya itu sendiri. Lalu, apa contoh tujuan akhir yang lebih konkret kalau bukan uang? Banyak…

Ingin membelikan rumah untuk orang tua atau untuk membiayai orang tua agar bisa naik haji adalah tujuan akhir yang lebih masuk akal — meski jadinya overused untuk jadi konten… Kuliah bahkan sampai S3, beli rumah atau apartemen mewah, ataupun modal mendirikan startup sendiri adalah contoh-contoh lain dari tujuan akhir yang memang butuh uang. Bahkan menikah pun juga butuh uang, apalagi bagi yang berniat poligami ataupun poliandri — I won’t judge.

Beberapa contoh yang saya sebutkan tadi lebih positif karena hal tersebut membuat kita punya rencana yang lebih panjang dan terarah. Lagipula, sejumlah tujuan akhir tadi juga tak hanya butuh uang namun juga menuntut hal-hal lainnya untuk bisa diwujudkan.

Izinkan saya menutup bagian ini dengan sebuah analogi. Di game MOBA, kita juga harus mengumpulkan gold/uang dari creeping, jungling, atau bahkan membunuh lawan. Namun apakah tujuan akhirnya hanyalah sekadar mengumpulkan gold? Bisa dipastikan Anda akan kalah dan menanggung malu jika Anda hanya mengumpulkan gold sebanyak-banyaknya tanpa mengubahnya jadi item/equipment yang lebih pragmatis.

Seperti tadi saya sebutkan soal uang yang hanya jadi alat untuk meraih tujuan akhir, demikian juga hal ini berlaku di MOBA. Tujuan akhirnya adalah mengalahkan lawan — menghancurkan base/nexus tim musuh. Untuk sampai ke sana, selain butuh gold, juga butuh kerja sama, strategi, dan mental juara.

Ruang Sembunyi atas Kemalasan

Sumber: University of Rochester
Sumber: University of Rochester

Sebelum esports berkembang sampai ke titik ini, profesi yang bisa dikembangkan dari hobi bermain game itu memang sungguh sangat terbatas — seperti jadi jurnalis media game, game master di publisher, tukang farming gold dan item langka, atau joki level/rank.

Sekarang, dengan perkembangan esports, ada banyak sekali ruang-ruang profesional baru yang bisa dikejar oleh komunitas gamer. Sayangnya, hal ini kadang jadi alasan atau bahkan kambing hitam atas kemalasan.

Misalnya, seorang pelajar jadi melupakan atau meninggalkan kewajibannya demi bermain game dengan alasan ingin menjadi pro player. Saya juga beberapa kali menemukan judul berita seperti ini, “seorang anak mencuri uang orang tuanya demi membeli game.” Ada juga bentuk tindak kriminal lain yang lebih parah yang menjadikan game sebagai kambing hitam.

Selain itu, berhubung saya juga sudah lumayan lama bekerja di industri game dan sekitarnya (yang kebanyakan para pekerjanya memang gamer), saya juga beberapa kali menemukan para pekerja yang gagal memenuhi tanggung jawabnya karena terlalu lama/sering bermain.

Entah kenapa, saya paling tidak suka melihat yang seperti itu… Saya juga gamer dan saya bahkan tidak jarang menghabiskan waktu 2-8 jam sehari untuk bermain game (bahkan weekdays sekalipun). Tahun ini, saya bahkan menghabiskan anggaran sampai Rp30 juta agar PC saya bisa menghasilkan performa yang mulus dengan setting rata kanan saat bermain game.

Dokumentasi Pribadi
Pamer PC kesayangan boleh yak… Dokumentasi: Pribadi

Namun demikian, saya selalu mencoba untuk bisa diandalkan dari sisi profesional — yang akhirnya waktu tidur yang biasanya saya korbankan — meski memang saya sendiri juga mengaku masih punya banyak sekali kekurangan soal ini.

Lagi-lagi, kemalasan ini juga bertolak belakang dengan filosofi hidup yang coba diajarkan dari game. Kembali ke analogi MOBA, Anda harus farming lebih cepat dari yang lain jika ingin cepat kaya. Reward & punishment di game itu dijabarkan dengan gamblang dan diimplementasikan dengan lebih adil.

Bagi saya pribadi, mungkin inilah kekurangan utama hidup dibanding game. Saya tahu betul bahwa kadang orang yang lebih pintar, rajin, dan selalu berbuat baik kepada sesamanya bisa saja kalah sukses dengan yang beruntung. Meski demikian, bukan gamer juga namanya jika kita mengasihani diri, menyalahkan keadaan, dan menyerah pada tantangan.

Akhirnya

Saya di sini hanya ingin menyuguhkan pendapat saya tanpa bermaksud menggurui atau malah menghakimi. Saya hanya berharap dengan industri esports yang semakin besar, hal tersebut tidak mengingkari sejumlah pelajaran hidup yang sebenarnya bisa ditawarkan dari sebuah permainan.

Sumber Feature Image: MPL Indonesia