Esports Ecosystem
for SEO
Esports Ecosystem

Mengintip Lebih Jauh Coral Island, Game Farming Sim dari Yogyakarta

19 February 2021Ellavie Ichlasa Amalia

Di Kickstarter, Stairway Games telah mendapatkan miliaran rupiah untuk mengembangkan Coral Island

Originality is overrated. Sekarang, menemukan ide yang sama sekali baru adalah hal yang hampir mustahil. Sebagai gantinya, orang-orang harus mencari cara baru untuk mengeksekusi ide lama. Tampaknya, hal ini juga berlaku di dunia game. Ketika genre battle royale menjadi populer, banyak developer berlomba-lomba membuat game serupa. Pada akhirnya, hanya ada beberapa game battle royale yang bertahan.

Sekarang, Stairway Games, developer asal Yogyakarta, mencoba untuk membuat game farming sim baru, yang dinamai Coral Island. Jika Anda pernah memainkan game-gamefarming sim, seperti Harvest Moon atau Stardew Valley, Anda akan melihat ada banyak kesamaan di Coral Island. Namun, Coral Island juga menawarkan berbagai keunikan tersendiri. Berikut ulasannya.

 

Gameplay dan Fitur Unik di Coral Island

Coral Island merupakan game farming sim. Jadi, salah satu tugas utama Anda di sini adalah bercocok tanam. Stairway Games menawarkan lebih dari 75 tanaman, termasuk beberapa tanaman yang hanya bisa ditemukan di Asia. Selain itu, Anda juga bisa menanam pohon yang membutuhkan waktu 11 hari untuk tumbuh. Salah satu pohon yang bisa Anda tanam adalah durian, yang jarang ditemukan di game farming sim lain.

Selain bercocok tanam, Anda juga bisa membuat kandang untuk hewan ternak. Ada berbagai hewan ternak yang bisa Anda pelihara di Coral Island, mulai dari hewan ternak yang biasa ditemui di game farming sim, seperti ayam, kambing, sapi, dan domba sampai binatang yang lebih unik, seperti llama, luwak, dan burung puyuh.

Bertani dan beternak memang penting. Namun, jika bosan, Anda juga bisa mencari kegiatan lain, seperti memancing atau menjelajahi gua. Satu hal yang harus diingat, di Coral Island, Anda akan menemukan monster di gua. Jadi, sebaiknya Anda membawa senjata ketika pergi ke gua. Ketika pertama kali menghadapi monster di Stardew Valley, saya cukup kaget. Tapi, keberadaan monster di game farming sim membuat kehidupan damai sebagai petani/peternak menjadi lebih menarik.

Stairway Games memang menyediakan banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Tapi, mereka juga tidak mengacuhkan warga Starlet Town. Di kota itu, Anda akan menemukan 32 karakter. Sebanyak 16 orang bisa Anda ajak kencan dan nantinya, menikah. Jika dibandingkan dengan game farming sim lain, Coral Island menawarkan karakter yang bisa di-romance yang cukup banyak. Sebagai perbandingan, di Stardew Valley, ada 12 orang yang bisa Anda kencani. Sementara di Story of Seasons: Friends of Mineral, jumlah karakter yang romanceable hanya mencapai 16 jika Anda juga menghitung Harvest Goddess dan Kappa.

Di halaman Kickstarter, Stairway menyebutkan bahwa mereka berusaha untuk membuat game farming sim yang lebih inklusif melalui Coral Island. Dan memang, kulit para karakter tidak melulu putih dan nama mereka juga tidak selalu kebarat-baratan. Stairway bahkan membuat NPC dengan nama khas Indonesia, seperti Joko dan Dinda. Karakter Joko bahkan mengenakan blankon. Dengan ini, Stairway Games sukses menyelipkan “budaya khas Indonesia” ke dalam game-nya.

NPCs di Coral Island yang bisa diajak kencan. | Sumber: Kickstarter
NPCs di Coral Island yang bisa diajak kencan. | Sumber: Kickstarter

 

Last but not least, Coral Island punya fitur menyelam. Saat menyelam, Anda bisa membersihkan sampah agar ikan-ikan bisa kembali hidup di habitatnya semula. Selain itu, Anda juga bisa berusaha untuk memulihkan terumbu karang. Fitur ini merupakan salah satu keunikan Coral Island dari game farming sim lainnya. Saat menyelam, Anda bahkan bisa mengunjungi Merfolk Underwater Village. Hanya saja, para Merfolk memiliki bahasa sendiri. Artinya, Anda hanya bisa berkomunikasi dengan para Merfolk setelah memahami bahasa mereka.

But, there is no hero without villain. Sebagai “villain”, Stairway Games menyiapkan Pufferfish Drilling Corp. Seperti namanya, perusahaan ini hendak melakukan pengeboran minyak di sekitar Coral Island. Di Stardew Valley, Anda juga akan menemukan “musuh” serupa, yaitu Joja Corp. Dalam game itu, Anda bisa “mengalahkan” korporasi itu dengan memulihkan Community Center. Dan Anda bisa melakukan itu dengan mengumpulkan item-item yang diperlukan di Community Center bundles.

Pufferfish merupakan korporasi yang akan menjadi "lawan" para pemain. | Sumber: Kickstarter
Pufferfish merupakan korporasi yang akan menjadi “lawan” para pemain. | Sumber: Kickstarter

Di Coral Island, juga terdapat berbagai proyek komunitas yang bisa Anda lakukan. Semakin banyak proyek komunitas yang Anda selesaikan, Starlet Town akan menjadi semakin hidup.

 

Coral Island Penuhi Target di Kickstarter, Apa yang Harus Diwaspadai?

Stairway Games menyatakan bahwa mereka sebenarnya punya cukup dana untuk mengembangkan Coral Island. Namun, pada awal Februari 2021, mereka memutuskan untuk melakukan pengumpulan dana di dalam Kickstarter. Coral Island mencapai target pendanaan, sebesar US$70 ribu (sekitar Rp985 juta), dalam waktu kurang dari 36 jam. Per 17 Februari 2020, Coral Island telah mendapatkan lebih dari US$726 ribu (sekitar Rp10,2 miliar), jauh lebih banyak dari target semua mereka. Hal ini menunjukkan betapa tingginya minat para gamer — lokal maupun internasional — akan game ini.

“Kami ingin bisa membuat Coral Island yang sempurna. Kami rasa, satu-satunya cara kami dapat melakukan itu adalah dengan melibatkan komunitas,” ujar Stairway Games dalam halaman Kickstarter Coral Island. “Melalui Kickstarter, kami harap kami bisa memuat komunitas yang antusias dan kami akan bisa menyertakan kalian semua dalam pengembangan dari game ini. Semua ini kami lakukan demi bisa membuat game farming sim terbaik.”

Peta dari Coral Island. | Sumber: Kickstarter
Peta dari Coral Island. | Sumber: Kickstarter

Hanya saja, suksesnya Stairway Games dalam mengumpulkan dana untuk mengembangkan Coral Island bukan akhir dari perjuangan mereka. Sebelum ini, telah ada beberapa game Indonesia yang juga berhasil mencapai target pendanaan di Kickstarter tapi tidak pernah diluncurkan. Hal itu menunjukkan bahwa setelah mengumpulkan dana pengembangan pun, developer masih bisa mengalami berbagai masalah.

Ketika ditanya tentang masalah apa yang mungkin dihadapi oleh para developer, Program Manager, Asosiasi Game Indonesia, Febrianto Nur Anwari menjawab, “Yang pasti manajemen proyek. Kalkulasinya harus tepat, mereka butuh berapa orang untuk menyelesaikan game dalam waktu sekian bulan, dengan scope game yang sudah ditentukan. Tentu saja, mereka juga harus menghitung dana cadangan kalau proses pengembangan game molor sekian bulan.”

Selain itu, Febri juga menekankan pentingnya komunikasi, tidak hanya pada para backers yang mendanai sebuah game, tapi juga ke masyarakat luas. Hal ini bertujuan untuk menghindari rumor tidak sedap. “Nggak semua orang yang nungguin game ini jadi backer. Dan kalau tidak ada update sama sekali, pasti bakal muncul kabar bernada miring, kayak, ‘Sudah funded, tapi kok menghilang, tidak ada update‘,” jelasnya.

Kabar baiknya, Stairway Games tidak hanya membuka komunikasi melalui media sosial seperti Facebook dan Twitter. Mereka juga membuat server Discord khusus untuk orang-orang yang tertarik dengan Coral Island. Sejauh ini, jumlah anggota server itu mencapai lebih dari 6 ribu orang. Server Coral Island bahkan memiliki channel khusus untuk berbagai bahasa, mulai dari Indonesia, Spanyol, Portugis, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Thai.