Dark
Light

Bagaimana Nemo Menyeimbangkan Kehidupan Pro Gamer dengan Kerja Kantoran

2 mins read
July 24, 2019
Naoki Nemoto

Mendengar istilah pro gamer, sebagian orang akan berpikir bahwa ini adalah profesi yang mudah dan menyenangkan. Lagi pula, seorang pro gamer kerjanya hanya bermain game saja, bukan? Padahal kenyataannya tidak demikian. Pro gamer punya banyak kesibukan yang makan waktu dan tenaga, termasuk berlatih, bertanding, menciptakan konten, berinteraksi dengan penggemar, dan tampil di berbagai event. Malah, pekerjaan pro gamer terkadang bisa lebih melelahkan daripada kerja kantoran.

Karena itu bisa kita bayangkan betapa padatnya kegiatan Naoki “Nemo” Nemoto, atlet esports Street Fighter di Team Liquid yang juga menjalankan pekerjaan full time sebagai karyawan perusahaan Square Enix. Pada bulan Juni lalu, Nemo membagikan pengalaman dalam siaran streaming di Twitch tentang bagaimana ia membagi waktu antara kesibukan hidupnya sebagai pro gamer dan karyawan kantoran. Percakapan tersebut baru-baru ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh channel YouTube FGC Translated, dan Anda dapat menontonnya di bawah.

https://www.youtube.com/watch?v=mpgorHTgzjo

Ada dua hal penting yang membuat Nemo dapat menjalankan dua profesinya secara bersamaan. Pertama, yaitu jadwal turnamen esports yang sering kali jatuh pada akhir pekan. Dan kedua, kultur kerja di Square Enix yang cenderung fleksibel.

Beda dari image karyawan kantoran Jepang yang umumnya punya jam kerja panjang dan sering pulang larut malam, Square Enix justru memiliki sistem menyerupai sebuah perusahaan startup. Di Square Enix tidak ada jam lembur, tapi para karyawannya harus menerapkan “sistem kerja mandiri”. Artinya, lembur atau tidak itu tergantung pada keputusan dan kebutuhan kerja seorang karyawan. Nemo mengaku bahwa umumnya ia bekerja kurang lebih 7 jam sehari bila sedang tidak lembur. Ketika masa turnamen mulai mendekat, ia akan berusaha menyelesaikan pekerjaan lebih cepat (misalnya selesai jam 2 siang) agar dapat bermain game atau berlatih bersama teman-temannya.

Adanya jam kerja kantoran artinya Nemo tidak bisa datang ke sembarang turnamen. Bila pergi ke negara yang tak terlalu jauh, seperti Taiwan atau Korea Selatan, ia bisa berangkat pada hari Jumat dan pulang ke Jepang pada hari Senin, lalu langsung bekerja kembali di kantor. Tapi bila lokasi turnamennya terlalu jauh (misal di Republik Dominika), atau berlangsung di hari kerja, pria yang dikenal sebagai pakar karakter Urien ini akan memilih untuk tidak menghadirinya.

Square Enix memang menyediakan fasilitas cuti yang bisa digunakan untuk menghadiri event. Namun jumlahnya terbatas, jadi sebisa mungkin Nemo berusaha untuk tidak mengambil cuti. Nemo juga sudah melakukan langkah negosiasi dengan HR perusahaan untuk antisipasi bila cuti tahunannya sudah habis terpakai. Untungnya Square Enix memperbolehkan dirinya untuk mengambil unpaid leave (cuti tak berbayar), asalkan sudah mendapat persetujuan dari atasan.

Posisi Nemo di Square Enix sendiri dapat dibilang cukup penting. Ia bertanggung jawab atas manajemen Quality Assurance sebuah proyek, memastikan progres berjalan lancar, mengidentifikasi adanya peningkatan beban kerja karyawan, menurunkan ongkos produksi, hingga mencari sponsor. Nemo sendiri tidak menyebutkan nama jabatan pasti, tapi dari deskripsi yang ia jabarkan, kemungkinan ia menempati posisi sebagai seorang Associate Product Manager. Ini berbeda dengan posisi ketika ia baru bergabung dengan perusahaan tersebut di tahun 2018, yaitu System Engineer.

Tentu saja, semakin sering ia mengambil cuti maka itu akan berpengaruh juga terhadap performa kerjanya. Apalagi unpaid leave juga akan membuat gaji Nemo terpotong. Tapi pengurangan gaji itu pada akhirnya akan tertutup juga dengan penghasilan sebagai pro gamer, bahkan bisa lebih banyak. Jadi Nemo tidak ambil pusing akan masalah tersebut.

Dengan manajemen waktu, perencanaan, serta pemilihan event yang tepat, Nemo tetap bisa menjalankan perannya sebagai karyawan Square Enix sambil menjadi atlet Street Fighter berprestasi. Buktinya ia berhasil masuk peringkat tiga besar di Capcom Cup 2017, CPT Japan Premier TGS 2018, serta Versus Masters 2019. Nemo juga sempat meraih juara di turnamen Headstomper 2019, Top 4 di Red Bull Kumite 2018, Top 8 di EVO Japan 2019, dan masih banyak lagi. Ia juga masih punya waktu untuk melakukan streaming di Twitch, meski tidak rutin.

Mungkin tak semua orang bisa menjalankan profesi ganda seperti Nemo. Ada banyak faktor berperan, terutama tentang kultur kerja di perusahaan yang ia tempati. Akan tetapi setidaknya Nemo menunjukkan bahwa gaya hidup seperti ini tidak mustahil. Memang ada hal yang harus dikorbankan, misalnya waktu istirahat di akhir pekan yang kerap kali hilang karena mendatangi turnamen. Tapi hasilnya pun akan setimpal.

Mirip seperti karakter Urien yang menjalani kehidupan ganda sebagai pebisnis sekaligus petarung, Nemo terus menjalankan passion hidup sebagai atlet esports sambil berkarier di dunia white collar. Bagaimana, apakah Anda berminat mengikuti jejak Nemo?

Sumber: FGC Translated

Previous Story

Menciptakan Model Pendapatan yang Tepat Bagi Startup

EVO Presented by PS4
Next Story

Sony PlayStation Jadi Sponsor EVO 2019, Akankah Street Fighter VI Diumumkan?

Latest from Blog

Don't Miss

Justin Wong Utarakan Keresahannya Terhadap Masalah Netcode di Game Fighting

Jika Anda pemain game fighting, Anda mungkin sudah tidak asing

Hasil EVO Japan 2020, Dominasi Jepang dan Kemunculan Juara Asia Tenggara Pertama

EVO Japan 2020 telah usai digelar. Petarung dari berbagai belahan