Dark
Light

Bos ESA: Stereotipe Negatif akan Game Semakin Memudar

3 mins read
August 2, 2023
CEO ESA, Stanley Pierre-Louis. | Sumber: ESA

Ada banyak stereotipe negatif tentang game. Mulai dari game membuat pelajar menjadi malas, sampai game bisa menyebabkan para pemainnya punya kecenderungan untuk berbuat kasar. Stanley Pierre-Louis, CEO dari Entertainment Software Association (ESA) mencoba untuk menghapus stereotipe negatif tersebut. Dalam Games for Change 2023, Pierre-Louis membahas tentang laporan terbaru dari ESA tentang keberagaman di industri game dan di komunitas gamers.

Gamers Berasal dari Berbagai Umur

Pierre-Louis mengungkap, 65% dari penduduk Amerika Serikat, sekitar 212,6 juta orang, bermain game setiap minggu. Tak hanya itu, 59% populasi AS punya konsol di rumah. Hal ini menjadi bukti bahwa game merupakan bagian penting dari kehidupan di AS. Menurut ESA, banyak orang menghabiskan waktu senggang mereka untuk bermain game. Dengan begitu, bagi para brands, game menjadi cara efektif untuk menarik perhatian konsumen.

Di Amerika Serikat, game populer baik di kalangan remaja ataupun orang dewasa. Buktinya, 26% gamers masih berumur di bawah 18 tahun dan 25% berumur di atas 45 tahun. Walaupun bermain game sering diidentikkan sebagai hobi untuk para laki-laki, jumlah gamers perempuan sebenarnya tidak kalah banyak. Data dari ESA menunjukkan, 53% gamers merupakan laki-laki, 46% perempuan, dan 1% enggan untuk menyebutkan gender mereka.

Sekarang, sudah ada banyak gamers perempuan. | Sumber: Pexels

Gamers juga sering dianggap sebagai penyendiri. Namun, seiring dengan naiknya popularitas game online, semakin banyak orang yang menjadikan game sebagai tempat untuk hangout dengan teman. Hal ini diperkuat dengan temuan dari laporan ESA, yang menunjukkan bahwa 80% gamers di Amerika Serikat bermain bersama gamers lain.

Sebagian besar gamers, 88%, bahkan merasa, game membantu mereka untuk memperluas jaringan pertemanan mereka. Dan 82% dari gamers menganggap, game membantu mereka untuk menemukan teman baru atau bahkan kekasih baru. Tak hanya itu, sebanyak 76% dari orang tua di Amerika Serikat bermain game bersama anak mereka. Bagi 90% gamers, bermain game tidak hanya bisa melepas stres, tapi juga mengasah kemampuan kognitif mereka.

Pierre-Louis percaya, sekarang, stereotipe negatif akan game mulai memudar. Seiring dengan naiknya popularitas game, semakin banyak orang yang tahu akan manfaat dari bermain game. Dan usaha developer untuk membuat game pun akan semakin dihargai. Walau memang, stereotipe negatif akan game belum hilang sepenuhnya.

Mengingat jumlah gamers di Amerika Serikat mencapai 65% dari populasi, Pierre-Louis merasa, banyak non-gamers yang memiliki teman atau keluarga yang senang bermain game. Dengan begitu, para non-gamers pasti akan melihat dampak positif dari bermain game, walau mereka sendiri bukan gamers, apalagi setelah pandemi berlalu.

CEO ESA, Stanley Pierre-Louis. | Sumber: VentureBeat

“Orang-orang mulai melihat fungsi game untuk menjadi jembatan antara teman dan keluarga,” kata Pierre-Louis pada VentureBeat. “Bahkan orang-orang yang benci game sekalipun mendorong orang-orang untuk tetap bermain game selama pandemi. Dan sekarang, mereka tidak lagi mengambinghitamkan game untuk berbagai hal.”

Masalah di Industri Game: Budaya Toxic dan Diversity

Reputasi game di mata masyarakat memang sudah membaik. Meskipun begitu, baik industri game maupun komunitas gamers juga masih punya masalah. Salah satu masalah yang dihadapi oleh banyak gamers adalah budaya toxic. Tak hanya itu, industri game juga masih didominasi oleh pria berkulit putih. Leo Olebe, Global Head of YouTube Gaming, merasa khawatir akan dua masalah tersebut, apalagi karena industri game masih terus berkembang.

“Salah satu hal yang membedakan industri game dari industri lain adalah kita tidak takut untuk berdiskusi tentang masalah yang ada,” kata Pierre-Louis. “Kita tidak lari dari masalah. Walau budaya toxic dan diversity memang masalah yang sulit untuk dihadapi. Tapi, kita selalu berusaha untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Dan diskusi bisa mendorong momentum perubahan.”

Cynthia Williams, President dari Wizard of the Coast. | Sumber: Forbes

Pierre-Louis menjadikan Wizard of the Coast sebagai contoh. Dalam obrolan dengan Pierre-Louis, Cynthia Williams, President dari Wizards of the Coast menjelaskan bahwa saat perusahaan yang dipimpinnya sedang membuka lowongan pekerjaan, mereka selalu berusaha untuk menjangkau berbagai komunitas. Selain itu, mereka juga memastikan bahwa bahasa yang mereka gunakan tidak membuat orang-orang enggan untuk mendaftarkan diri. Di fase wawancara, mereka juga menampilkan pewawancara yang beragam.

Generative AI Dalam Game

Di tengah hype akan Artificial Intelligence (AI), penggunaan AI di industri game pun kini menjadi perdebatan. Di satu sisi, Valve telah memutuskan bahwa mereka akan menolak game-game yang menggunakan Generative AI untuk membuat artwork. Di sisi lain, AI juga bisa digunakan untuk membuat game menjadi lebih aksesibel.

Pierre-Louis melihat perdebatan akan penggunaan AI di industri game sebagai sesuatu yang menarik. Apalagi karena sebenarnya, game telah menggunakan teknologi AI sejak lama. Contohnya, untuk Non-Playable Characters (NPC) atau aspek lain dari gameplay. Namun, penggunaan Generative AI berbeda dengan AI yang selama ini digunakan dalam game.

AI sudah digunakan sejak lama untuk NPC. | Sumber: Den of Geek

“Kita harus memastikan bahwa para regulator mengerti akan perbedaan antara Generative AI dengan AI yang telah digunakan dalam pembuatan game selama ini,” kata Pierre-Louis. “Sehingga, apa yang developer lakukan dengan AI untuk membuat gameplay menjadi lebih menarik tidak disamakan dengan penggunaan Generative AI.”

Pierre-Louis menyebutkan, sejauh ini, para pemimpin industri game menganggap bahwa keberadaan AI akan membantu proses pembuatan game. Namun, AI tidak akan menggantikan posisi pekerja manusia. Dia menjelaskan, pertanyaan penting yang harus dijawab terkait penggunaan AI adalah bagaimana AI bisa digunakan untuk melakukan tugas yang repetitif dan melelahkan untuk manusia.

“Bagaimana Anda bisa menggunakan AI untuk mempercepat proses pembuatan game sehingga tim kreatif punya ruang lebih untuk membuat hal baru?” tanya Pierre-Louis. “Topik inilah yang sering dibahas oleh para pemimpin industri game.”

Sumber header: ESA

Previous Story

Kolaborasi dengan Brand Lokal, Samsung Hadirkan Galaxy Z Flip5 dan Z Fold5 Nusantara Edition

Review-Vivo-Y36
Next Story

Review Vivo Y36, Desain Menawan dengan Spesifikasi Sedang-sedang Saja

Latest from Blog

Don't Miss

H3RO Land dari Bima+, Teman Mabar Anak Esports

Salah satu bentuk dukungan untuk perkembangan esports di tanah air

Pentingnya Industri Telekomunikasi untuk Kembangkan Industri Game dan Esports

Nilai dari industri game meroket selama pandemi COVID-19. Bahkan setelah