Esports Ecosystem

Napak Tilas Bigetron RA dari Juara Lokal Hingga Menjadi Juara Dunia

09 Nov 2020 | Akbar Priono
Melihat proses Zuxxy, Luxxy, Ryzen, dan Microboy dari juara nasional hingga menjadi juara dunia PUBG Mobile.

Dua pekan lalu kita menjadi saksi atas sejarah baru yang diciptakan oleh tim esports asal Indonesia yaitu Bigetron Esports di skena PUBG Mobile. Pada hari itu, tepatnya tanggal 25 Oktober 2020, Bigetron RA (divisi PUBG Mobile Bigetron Esports ) berhasil merengkuh piala PUBG Mobile Profesional League kawasan Asia Tenggara setelah bertarung sengit melawan sesama tim Indonesia dan jagoan-jagoan PUBG Mobile dari kawasan SEA.

Mendapat juara SEA mungkin terdengar biasa saja, tetapi rangkaian piala yang sudah didapat Bigetron RA sampai akhirnya dapat juara PMPL SEA Finals Season 2 yang jadi luar biasa. Sebelum PMPL SEA, Bigetron RA sudah memenangkan kejuaraan nasional Indonesia sebanyak dua kali (PMPL ID Season 1 dan 2), kejuaraan tingkat Asia (PMWL Season Zero 2020: East Region), dan kejuaraan tingkat dunia (PMCO Global Finals 2019). Dari rangkaian kemenangan yang mereka dapatkan, siapa yang sangka kalau bisa ada tim Indonesia melakukan dominasi total dengan memenangkan semua tingkat kompetisi, dari lokal hingga internasional.

Ibarat anime Dragon Ball, mungkin saat ini Tencent harus mempertimbangkan membuat turnamen PUBG Mobile antar galaksi agar ada sesuatu yang mengalahkan Bigetron RA. Berkat pencapaiannya, Bigetron RA mungkin bisa dibilang sebagai tim paling sukses sepanjang sekitar 2 tahun sejarah skena esports PUBG Mobile. Kesuksesan seperti ini mungkin akan sulit diulang mengingat memiliki prestasi yang konsisten di kancah esports bukanlah hal yang mudah.

Sembari merayakan kemenangan tersebut, mari kita sedikit melakukan napak tilas, menyusuri masa lalu, dan coba belajar dari perjalanan tersebut. Bagaimana bisa si kembar berbakat, Zuxxy dan Luxxy, mengenal PUBG Mobile hingga menjadi juara seperti sekarang? Bagaimana bisa kehadiran Ryzen dan Microboy justru malah semakin mendongkrak prestasi Bigetron Esports? Berikut pembahasan Hybrid.co.id.

 

Si Kembar Berbakat Bagas “Zuxxy” dan Bagus “Luxxy”

Si kembar nan berbakat Bagas Pramuditha “Zuxxy” dan Bagus Prabaswara “Luxxy” terbilang sebagai komponen utama bagi divisi PUBG Mobile tim Bigetron Esports. Mengapa begitu? Salah satu alasannya adalah karena posisi mereka yang hampir tidak tergantikan sepanjang divisi PUBG Mobile Bigetron Esports ada. Salah satu alasannya mungkin karena memang bakat dua pemain ini yang sudah terlihat sedari lama.

Menurut catatan, salah satu penampilan perdana Zuxxy dan Luxxy di dalam kompetisi game tembak menembak adalah pada gelaran Indonesia Games Championship 2017. Ketika itu mereka berdua bertanding untuk game Crisis Action.

Lucunya Zuxxy dan Luxxy justru bertanding di dua tim yang berbeda pada masa itu. Mengutip dari duniagames.co.id, dikatakan bahwa Zuxxy bermain dengan tim MPZ sementara Luxxy berada di tim PROCLAZ. Ketajaman mereka berdua memang sudah terlihat sejak turnamen IGC 2017. Buktinya adalah prestasi yang didapatkan oleh dua tim yang mereka bela. Tim MPZ yang dibela oleh Zuxxy mendapat peringkat 2 sementara tim PROCLAZ yang dibela oleh Luxxy berhasil memperoleh gelar juara.

Zuxxy sempat bercerita bahwa dirinya masuk ke Bigetron Esports pasca momen kemenangan di turnamen Crisis Action IGC 2017. Beberapa waktu berlalu, Rules of Survivor muncul ke permukaan. Zuxxy dan Luxxy yang katanya memang menyukai game bertipe tembak-tembakan sejak kecil pun segera memilih game tersebut sebagai medan kompetisi terbaru. Mereka kembali mencuat di skena Rules of Survival dengan menjadi juara RoS Indonesia Championship yang diadakan sekitar Juni 2018 lalu. Ketika itu Zuxxy dan Luxxy bertarung bersama dua rekan lamanya, Robby “Natic” dan Galang Yoga “Kingzzz”.

Pada tahun itu juga PUBG Mobile resmi dirilis, Zuxxy dan Luxxy pun kembali berpindah game. PINC 2018 menjadi kompetisi pertama yang diikuti oleh Zuxxy dan Luxxy bersama dengan rekannya di turnamen RoS yaitu Natic serta Kingzzz. Lagi-lagi mereka berhasil menjadi pemenang setelah melalui persaingan skor yang sengit dengan EVOS Esports dan RRQ.

Pasca PINC 2018, sisanya menjadi sejarah yang kita tahu saat ini. Menjadi juara dunia di PMCO 2019, juara nasional di PMPL ID 2020 Season 1, peringkat 1 di babak Regular Season PMPL ID 2020 Season 2m Asia di PMWL 2020 Season Zero – East Region, dan terakhir juara Asia Tenggara di PMPL SEA 2020 Season 2 kemarin.

 

Kepergian Kingzz dan Ryzen si Rusher Eksplosif

Ada yang berbeda pada roster Bigetron Esports sebelum berubah nama menjadi “Red Aliens”. Ketika itu Zuxxy dan Luxxy masih ditemani oleh Galang Yoga “Kingzzz” yang terakhir kali terlihat berkompetisi bersama tim Red Rocket dan Robby “Natic” yang terakhir kali dikabarkan pensiun dari dunia esports. Dengan roster tersebut, satu-satunya gelar yang berhasil didapatkan oleh Bigetron Esports adalah PINC 2018.

Kingzzz membela Bigetron Esports sampai PUBG Mobile Star Challenge 2018. Pada turnamen tersebut Bigetron Esports harus puas mendapat peringkat 9 saja. Pasca PMSC 2018 selesai, Kingzzz memutuskan keluar dari tim Bigetron Esports. Pada video perpisahannya yang mengudara 6 Januari 2019 lalu, Kingzzz mengatakan alasan kepergiannya adalah karena gaya permainan yang dia lakukan kurang cocok dengan roster Bigetron Esports saat itu.

Sumber Instagram @bigetronesports
Sumber Instagram @bigetronesports

Kepergian Kingzzz lalu digantikan oleh Muhammad Albi “Ryzen”. Mengutip dari Instagram resmi Bigetron Esports, Ryzen bergabung ke tim sejak 11 November 2018 lalu. Kedatangan Ryzen ternyata menjadi angin segar bagi Bigetron Esports. Setelah Kingzzz pergi, roster divisi PUBG Mobile Bigetron Esports menjadi Zuxxy, Luxxy, Natic, dan Ryzen.

Kehadiran Ryzen sedikit banyak mengubah gaya permainan mengingat Ryzen yang terkenal hobi bermain agresif yang dilengkapi dengan kemampuan aim di atas rata-rata. Perubahan gaya permainan dan penambahan Ryzen berhasil membawa Bigetron Esports berhasil meraih prestasi yang cukup memuaskan walau belum mendapatkan juara.

Dengan roster tersebut di atas divisi PUBG Mobile Bigetron Esports berhasil menjadi juara satu di PMCO Indonesia 2019. Pertandingan lalu berlanjut ke turnamen PMCO SEA – Spring ketika Bigetron Esports mendapat peringkat 3 saja pada fase liga dan peringkat 2 pada fase Championship.

PMCO SEA – Spring pun selesai dan divisi PUBG Mobile Bigetron Esports lagi-lagi harus menghadapi momen-momen berat dengan kepergian sang kapten yaitu Robby “Natic”.

 

Microboy yang Diragukan, Lahirnya Bigetron Red Aliens, dan Gelar Juara Dunia

Kepergian Natic terbilang menjadi momen yang membuat fans cukup kecewa. Natic memang tersohor sebagai sosok dewasa nan karismatik di hadapan para fans. Posisinya sebagai kapten tim/In-Game Leader terbilang menjadi sosok dewasa yang menuntun dan melengkapi Zuxxy, Luxxy, serta Ryzen yang berusia lebih muda dari dirinya. Namun apa mau dikata, ada masanya pertemuan memang harus diakhiri dengan sebuah perpisahan.

Lewat sebuah video yang mengudara tanggal 22 Agustus 2019, Natic menjelaskan bahwa alasan ia undur diri adalah karena dirinya tak lagi bisa mencurahkan waktu lebih banyak untuk turnamen dan ingin lebih fokus menata masa depan kehidupannya. Berdekatan dengan momen kepergian Natic, Bigetron Esports pun mengumumkan roster beserta dengan penamaan baru terhadap tim PUBG Mobile yang dimiliki oleh manajemen berlogokan robot merah tersebut.

Dalam pengumuman tersebut Bigetron Esports mengungkap dua divisi tim PUBG Mobile. Dua divisi tersebut adalah Bigetron Red Aliens (RA) sebagai tim utama dan Bigetron ION sebagai tim sekunder. Natic mundur ke Bigetron ION yang lalu digantikan oleh Nizar Lugatio atau yang kini lebih dikenal sebagai Microboy.

Kehadiran Microboy ketika itu sempat mengundang keraguan dari para fans. Selain karena posisi Natic yang lebih lekat di hadapan para fans, Microboy juga terbilang masih sangat belia dari segi pengalaman ataupun usia jika dibandingkan dengan Natic.

“Dampaknya sudah pasti ada, namun sebenarnya tidak akan sebegitu krusial.” Kalau dari sisi in-game leader, posisinya sudah dipegang Zuxxy sejak bulan April. Walaupun begitu kehilangan sosok yang dewasa mungkin akan berdampak pada komunikasi mengingat sosok penengah yang dewasa biasanya dipegang oleh Natic.” Ucap Isfan Satria Wijaya selaku manajer divisi PUBG Mobile Bigetron Esports kepada saya pada saat perubahan roster tersebut terjadi.

“Microboy adalah sosok yang kalem dan fokus pada permainan. Harapannya sih dia bisa menjadi sosok yang membantu menenangkan anak-anak. Dia akan menjadi second rusher, mengisi posisi yang dahulu dimainkan oleh Ryzen. Menurut saya, memang berpotensi tinggi dan bisa mengikuti permainan anak-anak (Zuxxy, Luxxy, dan Ryzen) sampai sejauh ini.” Tukas Isfan melanjutkan membahas sosok Microboy pada masa itu.

Setelah beberapa turnamen besutan sponsor di kancah lokal, kemampuan Microboy segera diuji lewat PMCO SEA League 2019 – Fall Split sebagai turnamen official Tencent perdana yang ia jalani.

Microboy sebagai pendatang baru di dalam roster ternyata berhasil memecah keraguan para penggemar dengan membawa gelar juara satu fase liga di dalam turnamen PMCO SEA League 2019. Sayangnya Bigetron RA malah menciut ketika masuk babak Championship Stage. Dari peringkat 1 di babak liga, Bigetron RA harus puas berada di peringkat 6 saat pertandingan Championship Stage. Keraguan pun kembali muncul.

Profil Bigetron Esports
Bigetron Red Aliens saat pertama kali diperkenalkan. Sumber: Bigetron Official

Setelah PMCO SEA, pertandingan lalu berlanjut ke PMCO Global Finals di bulan Desember 2019 yang merupakan pertandingan PUBG Mobile tingkat dunia. Turnamen tersebut diikuti oleh 16 tim asal 10 kawasan dari berbagai belahan dunia.

Tanpa disangka dan tanpa diduga, Bigetron Esports ternyata berhasil keluar menjadi juara dengan skor yang sangat dominan ketika itu. Mereka berhasil mengumpulkan 303 poin, terpaut sangat jauh dari TOP Esports pengisi peringkat 2 yang hanya mendapat 197 poin.

“Kami mempersiapkan 2 manajer, coach asing, dan juga bootcamp untuk mereka. Saya merasa peran Boyka (pemain PUBG Mobile asal Malaysia) sebagai coach terbukti sangat membantu terutama dalam hal meningkatkan mental dan membantu komunikasi tim. Saya memang sudah percaya bahwa mereka adalah pemain paling berbakat di esports Indonesia sejak saat mereka masih berkompetisi di kancah RoS. Kami betul-betul senang melihat segala perjuangan mereka sejauh ini akhirnya berbuah manis dalam bentuk gelar juara dunia di kancah PUBG Mobile.” Ucap Edwin Chia CEO dan Co-Founder Bigetron Esports kepada saya lewat pesan singkat pasca momen kemenangan tersebut.

Siapa yang disangka bahwa empat bocah dengan latar belakang yang mungkin biasa-biasa saja, bisa melanglang buana ke berbagai belahan dunia gara-gara PUBG Mobille dan bahkan membanggakan Indonesia dengan gelar juara dunia yang mereka dapatkan.

Melihat Ryzen dan Microboy yang datang belakangan dibanding Zuxxy dan Luxxy, Thomas Vetra selaku Head of Esports dari manajemen Bigetron mengatakan. “Mereka berdua (Microboy dan Ryzen) adalah orang yang bisa membuat tim ini terlihat sempurna. Mereka memiliki skill serta tingkah laku yang baik. Menurut saya jika dulu kami gagal mendapatkan Ryzen dan microboy, Bigetron RA mungkin tidak akan sekuat seperti sekarang.”

 

Tahun 2020 dan Era Gemilang Bigetron RA

Masuk tahun 2020, mental Bigetron RA terbilang sudah tertempa begitu tajam setelah segala turnamen yang mereka lalui. Pasalnya, tingkat persaingan PUBG Mobile di tingkat Asia Tenggara memang cenderung jauh lebih keras dibanding dengan tingkat dunia. Hal tersebut menjadi alasan kenapa Bigetron RA bisa mendominasi cukup jauh saat bertanding di dalam gelaran PMCO Global Finals 2019.

Pada tahun ini Tencent memulai sebuah inisiatif baru bernama PUBG Mobile Professional League. Jika sebelumnya liga PUBG Mobile hanya ada pada tingkat Asia Tenggara saja, kini Tencent mencoba untuk juga menghadirkan insiatif liga level nasional agar kemampuan bersaing dari tim-tim di regional-regional besar semakin tinggi. Indonesia turut mendapat kesempatan berharga tersebut lewat gelaran PMPL ID 2020 Season 1 yang diselenggarakan mulai bulan April 2020 kemarin.

Dalam PMPL ID, Bigetron RA terbilang memiliki satu kelebihan tersendiri karena posisi mereka yang sudah pernah dan terbiasa menjalani kompetisi dalam format liga yang panjang. Ternyata benar saja, PMPL ID 2020 Season 1 pun didominasi habis-habisan oleh Bigetron RA. Mereka berhasil menjadi juara di babak liga dengan dominasi yang jauh yaitu 1251 berbanding dengan 806 poin yang didapatkan oleh AURA Esports sang Runner-Up.

Dominasi Bigetron RA sedikit mengendur di babak Final. Walaupun begitu Bigetron RA tetap berhasil menjadi juara dengan perolehan 233 berbanding dengan 192 poin yang didapatkan oleh MORPH Team selaku Runner Up.

Setelah PMPL Indonesia selesai, rangkaian turnamen kembali berlanjut. PMCO kini berganti menjadi PMPL SEA. Dalam turnamen tersebut Bigetron RA lagi-lagi gagal mendapatkan juara walaupun berhasil mendapatkan peringkat kedua. Pasca PMPL SEA, Bigetron RA kembali harus membuktikan dirinya lewat sebuah turnamen yang bertajuk PUBG Mobile World League.

Turnamen PMWL awalnya direncanakan untuk diselenggarakan secara offline. Namun mengingat situasi pandemi, PMWL jadi diselenggarakan online saja. Demi meminimalisir lag koneksi, maka turnamen dibagi menjadi dua bagian turnamen. Ada PMWL East untuk negara-negara Asia dan PMWL West untuk negara-negara Barat (AS, Eropa, dan Sekitarnya). Bigetron RA mengikuti PMWL East untuk membuktikan diri sebagai yang terbaik di tingkat Asia.

Sebelum turnamen tersebut, saya sempat berbincang dengan Florian George “Wolfy” dalam salah satu episode dari Hybrid Talk. Lewat perbincangan tersebut Wolfy menganalisa bahwa Bigetron RA mungkin akan kesulitan di PMWL East. Analisa tersebut terlontar mengingat kehadiran tim asal Tiongkok yang menurut cerita Wolfy sangatlah tangguh secara skill ataupun strategi.

Walau akhirnya PMWL East berjalan tanpa kehadiran tim Tiongkok namun benar adanya Bigetron RA kesulitan di kompetisi tersebut. Persaingan poin begitu ketat walaupun Bigetron RA bisa bertahan di posisi 5 besar sepanjang pertandingan.

Puncaknya terjadi pertandingan hari terakhir dan ronde terakhir. Ketika itu Bigetron RA, RRQ Athena, dan Orange Rock memiliki selisih poin yang sangat tipis. Untungnya RRQ terkena Too Soon, Orange Rock berakhir di peringkat 7, dan Bigetron RA berakhir di peringkat 6. Walaupun demikian total perolehan poin Bigetron RA tetap lebih banyak di akhir pertandingan sehingga mereka pun berhasil mendapatkan gelar juara Asia di PMWL 2020 Season Zero – East Region.

PMWL East Region Selesai, Bigetron RA digenjot lagi dalam turnamen PMPL ID 2020 Season 2. Dalam turnamen tersebut Bigetron RA berhasil mendapatkan peringkat pertama di babak liga.

Namun sesuatu yang janggal terjadi ketika masuk babak utama. Bigetron RA berkali-kali mendapat Too Soon dan hampir tidak pernah mendapatkan Chicken Dinner di sepanjang pertandingan. Mereka hanya dapat Chicken Dinner di akhir pertandingan sehingga mereka harus puas finish di peringkat 10.

Walaupun begitu mereka sudah mendapat kesempatan untuk bertanding di PMPL SEA. Lagi-lagi PMPL SEA menjadi batu sandungan terakhir. Berkali-kali Bigetron RA bertanding di tingkat Asia Tenggara namun belum juga berhasil mendapatkan gelar juara. Akhirnya piala yang didamba-dambakan tersebut baru berhasil mereka dapatkan di PMPL SEA 2020 – Season 2 kemarin. Bigetron RA menjadi akhirnya berhasil melengkapi jajaran piala mereka setelah bertarung sengit dengan Aerowolf LIMAX dan Secret Jhin.

 

Taktik Reset Mental dan Kedewasaan Pemain-Pemain Bigetron RA

Kenapa Bigetron RA bisa begitu gemilang prestasinya? Saya sebagai jurnalis yang mengamati dari kejauhan mungkin bisa bilang jawabannya adalah karena ketekunan dan konsistensi.

Coba saya tanya, seberapa sering sih Anda mendengar soal “drama” yang melibatkan Zuxxy, Luxxy, Ryzen atau Microboy? Saya juga sebenarnya tidak tahu. Saya lalu iseng mengetik kata kunci “Drama Bigetron RA” di mesin pencari Google. Dari pencarian tersebut, halaman pertama Google malah menampilkan reportase media yang menceritakan prestasi-prestasi dari empat orang bocah tersebut. Coba kalau bandingkan jika Anda coba Googling kata kunci “drama” disambung dengan nama pemain esports lain. Perbandingannya mungkin biar Anda yang menilainya sendiri.

Saya melihat roster Bigetron RA ibarat seperti jagoan-jagoan game asal Korea Selatan yang terkenal begitu tekun berlatih dan haus akan pencapaian. Jujur, saya sih tidak tahu bagaimana latihan ataupun pribadi mereka secara dekat. Tapi setidaknya hal tersebut yang saya lihat dari sudut pandang seorang jurnalis yang mengamati dari luar.

“Manajemen selalu berusaha melakukan pendekatan kepada mereka. Kami berusaha untuk tidak hanya membentuk mereka menjadi pemain yang baik tetapi juga manusia yang baik. Hal tersebut juga mengingat usia mereka yang masih muda. Maka dari itu saya merasa arahan adalah salah satu hal yang mereka butuhkan.” Jawab Thomas Vetra membahas peran manajemen dalam hal tersebut.

Hal lain yang juga menjadi kunci keberhasilan roster Bigetron RA saat ini mungkin adalah kedewasaan emosional yang dimiliki oleh pemain-pemain Bigetron RA walaupun mereka masih muda secara usia. Menurut data Liquidpedia, Zuxxy dan Luxxy masih berusia 17 tahun, Ryzen 18 tahun, dan Microboy 20 tahun. Namun Bagas “Zuxxy” memancarkan aura kedewasaan saat meladeni pertanyaan dari para media di acara konfrensi pers Bigetron RA pasca kemenangan di PMPL SEA 2020 Season 2.

Pada acara tersebut awak media bertanya-tanya, kenapa Bigetron RA bisa berkali-kali bangkit walaupun sempat beberapa kali terjatuh. Pada PMPL SEA 2020 Season 2 sendiri Bigetron RA sebenarnya mengalami rentetan hasil yang buruk di hari pertama. Zuxxy mengakui bahwa ada adu mulut yang terjadi antara dirinya dengan tim di hari pertama.

“Kenapa hari pertama performa kami drop? Waktu itu kami saling egois, saling tidak mendengarkan, seterusnya jadi bertengkar, dan saling adu mulut. Lalu di hari kedua kami mulai adem dan coba untuk analisis lagi. Hari ketiga kami coba reset mental, moveon, buka lembaran baru, keraguan diubah jadi keyakinan, ego masing-masing dikurangi, dan komunikasi ditambahi.” Ucap Bagas menanggapi pertanyaan media.

Ia lalu juga menambahkan pentingnya kemampuan reset mental tersebut dalam sebuah tim yang ideal. “Tim ideal itu adalah tim yang habis bertengkar bisa segera baikan lagi, tidak membawa masalah sebelumnya, dan fokus menghadapi masalah berikutnya.”

Selain itu Thomas Vetra berpendapat bahwa kawan-kawan tim RA merupakan sesososok “Golden Talent”. Ia juga menyoroti bahwa walaupun masing-masing memiliki pemain punya pribadi yang berbeda namun mereka bersatu dalam satu mindset yang sama. Lebih lanjut Thomas lalu memberi pendapatnya terhadap pribadi dari masing-masing pemain RA.

Zuxxy adalah leader in-game yang baik. Dia sering mendengarkan masukan dari orang lain lain dan bisa mempertahankan pendirian dia di saat yg tepat. Luxxy adalah kapten yang penuh dedikasi terhadap tim. Berkat dia Bigetron RA menjadi tim yang kuat seperti sekarang. Ryzen adalah sosok perekat tim RA. Dia selalu mampu menyatukan setiap pemain RA dalam setiap kondisi. Terlebih, Ryzen juga adalah pemain yang selalu konsisten dalam setiap permainannya. Terakhir Microboy bisa dibilang sebagai pemain yang menyeimbangkan tim lewat kedewasaan yang dimiliki sehingga ego tim bisa terkendali.” Tukas Thomas.

Walaupun kini Indonesia sudah punya banyak pemain esports, jujur saya merasa masih sedikit yang punya mentalitas seperti Bagas dan kawan-kawan Bigetron RA.

Beberapa kali saya menggunakan jurus orang dalam untuk menanyakan alasan pemain keluar dari sebuah tim. Dari sana saya mendengar info bahwa alasan keluar seorang pemain kerap kali adalah karena cekcok mulut, saling baper, lalu menganggap ada “ketidakcocokan”. Sementara pemain-pemain lain masih sibuk baper menanggapi ketidakcocokan, Anda bisa lihat sendiri Bigetron RA.

Setelah bulan Agustus 2019 Bigetron RA diumumkan, tidak pernah ada masa lagi Bigetron Esports mengumumkan perubahan roster. Zuxxy, Luxxy, Ryzen, dan Microboy terus bersama selama kurang lebih satu tahun tiga bulan. Hasilnya? Seperti yang bisa Anda lihat sendiri, trofi PUBG Mobile mereka pun lengkap dari berbagai tingkat kompetisi.

Bertengkar? Sudah pasti. Saya tidak tahu bagaimana dapur tim Red Aliens. Tetapi saya merasa adu mulut antar pemain adalah suatu kepastian. Kita-kita yang sedang push-rank bersama teman saja sering adu mulut, apalagi para pemain Red Aliens yang harus menghadapi tekanan turnamen yang berat.

Namun menurut saya, alih-alih menganggap adu mulut sebagai ketidakcocokan, roster Bigetron RA justru mencoba berkonsolidasi dan fokus untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi sebagai tim.

Bagaimana kekompakkan dan kedewasaan mereka menghadapi sebuah pertengkaran mungkin bisa Anda lihat sendiri pada video vlog terakhir di channel Bigetron TV. Video tersebut menampilkan perjuangan Bigetron RA menjalani turnamen sambil liburan. Dalam video Anda bisa melihat Ryzen sempat kesal dengan Microboy karena kesalahan konyol yang ia lakukan. Namun pasca pertandingan hubungan antara Ryzen dan Microboy terlihat baik-baik saja. Momen kemarahan tersebut dilupakan dan dianggap sebagai kenangan lucu atas tindakan konyol si “Coboy” saja.

 

Belajar Dari Bigetron RA

Melatih skill di dalam game cenderung lebih mudah karena Anda bisa melihat guide di YouTube atau kanal media seperti Hybrid.co.id. Skill Zuxxy, Luxxy, Ryzen, dan Microboy mungkin juga bisa dilampaui dengan cukup mudah oleh Anda-Anda sekalian, asalkan berlatih dengan tekun.

Namun saya sangat mengacungi jempol mental dan kedewasaan dari tim Bigetron Red Aliens. Saya merasa Anda apabila Anda ingin menjadi pemain esports profesional, Anda perlu belajar ragam soft-skill tersebut dari kawan-kawan Bigetron RA.

Bagaimanapun menjadi pemain profesional bukan hanya butuh skill bermain game. Pemain esports juga butuh soft-skill seorang “professional” yang tampil dalam bentuk mental yang kuat, kemampuan bekerja bersama dengan tim, dan kemampuan memecahkan masalah dalam situasi tekanan yang tinggi.