Esports Ecosystem

Belajar Tentang Perbedaan, Daya Juang, dan Keterbatasan dari Seorang Gamer Difabel

02 Jan 2019 | Yabes Elia
yang bernama Angga Tribuana Putra

Wajahnya sumringah sembari melambaikan tangannya di bawah dagu saat video call saya tersambung dengan Angga. Bersama dengan ibunya yang setia berada di sampingnya di sebuah kamar kecil yang sederhana, Angga tak terlihat lesu meski berada di atas kursi roda.

Obrolan kami bertiga kala itu pun sedikit berbeda dengan kebanyakan video call. Angga mengetikkan jawaban lewat Whatsapp dari pertanyaan yang saya lontarkan di video call karena ia juga tuna wicara. Ibu Angga, Nurhikmah, sesekali menerjemahkan desahan suara Angga sehingga lebih mudah dipahami.

Cerita Angga Tribuana Putra

Sumber: Angga Zerotoshine
Angga bersama ibunya. Sumber: Angga Zerotoshine

Angga Tribuana Putra adalah nama lengkapnya. Ia tak bisa berbicara, kedua kakinya pun tak dapat bergerak. “Dokter bilang aku polio akut. Jadi syaraf tulang belakangku terjepit dan pita suaraku ga berfungsi. Dan kalau ga ileran, kepalaku yang besar.” Cerita Angga. Ibunya Angga pun menambahkan bahwa hanya jari tangan kanannya saja yang bisa bergerak.

Gamer yang mengaku suka dengan Pro Evolution Soccer (PES) dan Clash Royale ini menjelaskan bahwa ia suka bermain game karena bisa mendapatkan semangat, selain kesenangan. Baginya, game bukanlah sekadar hobi. Ia melihat game sebagai salah satu sarana untuk mencetak prestasi. Bagi Angga, esports adalah salah satu hal yang bisa membuatnya menghadapi dunia dengan penuh senyuman. Pasalnya, di esports ia bisa mengembangkan bakatnya, menggunakan otak, dan melatih tangannya.

Angga yang menyukai PES karena, menurutnya, game tersebut adalah yang paling realistis ini mengaku sekarang sedang menjalani lisensi untuk kepelatihan PSSI. Karena hal itu jugalah ia selalu setia bermain PES karena ia percaya strategi yang ada di PES bisa juga diterapkan di sepak bola. “Dari PES lah aku mengenal sepak bola. Aku main game bukan untuk menang tapi untuk mendalami taktiknya.” Jawab Angga yang bercita-cita menjadi pelatih sepak bola.

Menariknya, penggemar Manchester United, Christiano Ronaldo, dan Ibrahimovic ini mengaku pernah jadi juara kedua untuk ASIAN Games Vlota Tournament di Mumbai India. Angga pun berpesan untuk semua gamer untuk tak mudah menyerah dan ia juga berharap ada kompetisi game untuk para difabel.

Sumber: Liga1PES
Sumber: Liga1PES

Sedangkan buat kawan-kawannya yang sesama penyandang disabilitas, Angga pun mengajak untuk terus berjuang melawan gejolak batin dan berhenti mempertanyakan di mana keadilan Tuhan. Baginya, para penyandang disabilitas adalah manusia-manusia fenomenal yang harus mampu menunjukkan pada dunia bahwa mereka punya kelas dan kemampuan yang luar biasa.

Saya pun juga sempat berbincang dengan sang ibu lewat Whatsapp untuk cari tahu lebih jauh tentang kehidupan dan keseharian Angga. Kesehariannya, Angga selalu dibantu oleh ibunya karena keterbatasannya. Namun ibunya masih bersyukur karena merasa Angga punya banyak kelebihan.

Ibunya mengaku bahwa Angga bisa menggunakan PS3 ataupun PC tanpa bantuan dari siapapun. Sampai hari ini, Angga juga tidak sekolah. Ibunya mengaku karena ada dua alasan, yaitu karena memang keterbatasan dana dan memang Angga sendiri tidak mau. “Katanya, ga usah sekolah Ma. Nanti insya Allah Angga bisa sendiri.” Ujar Ibunya menirukan Angga.

Ibunya pun tak menyangka bahwa Angga dapat belajar membaca ataupun menggunakan komputer secara otodidak. Ia juga bercerita bahwa memang tak sedikit orang yang menghina dan memandang Angga sebelah mata. Bahkan menurut penuturan sang ibu, hanya ia lah yang mendukung Angga dari sisi keluarganya.

Sumber:
Sumber: Angga Zerotoshine

Ibunya berharap agar Angga bisa terus semangat dan berjuang demi impian dan cita-citanya meski kerap diremehkan dan dianggap berhalusinasi. Namun demikian, Angga juga mungkin memang istimewa. “Mama tenang. Insya Allah Angga bisa membanggakan Mama satu saat. Angga juga ga mau lihat Mama bersedih terus.” Cerita Nurhikmah kembali menirukan Angga.

Itu tadi secuil cerita Angga dan ibunya, Nurhikmah, tentang perjuangannya masing-masing. Memang tentunya keterlaluan memampatkan satu kisah hidup dalam satu tulisan, bahkan ribuan halaman sekalipun. Namun, saya pribadi percaya ada 2 hal penting yang bisa kita pelajari dari perjuangan Angga dan ibunya tadi.

Komunitas Gamer yang Seharusnya adalah Komunitas Inklusif

Dari cerita Angga, game adalah kegiatan yang bisa membuatnya semangat untuk menjalani hidup. Game mampu memberikannya tantangan-tantangan baru tanpa melihat keterbatasan dari aspek fisik. Esports bisa memberikannya sebuah sense of achievement yang mungkin tak dapat ditawarkan oleh ranah lainnya.

Sebenarnya, ranah lainnya yang lebih tradisional seperti kesenian (musik, seni lukis, dan yang lainnya) juga dapat memberikan tantangan dan tujuan baru tanpa melihat keterbatasan fisik. Namun game dan esports sekarang juga bisa jadi tujuan hidup baru buat semua orang, tanpa terkecuali.

Sumber:
Sumber: Angga Zerotoshine

Sayangnya jejaring sosial yang begitu dominan di kehidupan sehari-hari kita sebagai masyarakat modern tak jarang justru semakin meruncingkan perbedaan, termasuk di komunitas gamer.

Faktanya, perdebatan antara MOBA mana yang lebih baik, game-game mana yang lebih sahih diangkat di event olahraga seperti SEA Games ataupun ASIAN Games, platfom gaming mana yang lebih ideal, dan segala macam perdebatan lainnya tak akan berdampak positif di perkembangan industri game ataupun esports Indonesia; setidaknya jika bentuk perdebatannya masih sebatas kekonyolan yang sering terjadi di dunia maya sekarang ini.

Saya sendiri yang sudah 10 tahun di industri gaming mendapatkan banyak kawan-kawan baru sesama gamer dari latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda. Bagi saya pribadi, inilah komunitas gamer yang seharusnya: komunitas yang tak pandang bulu soal agama, pandangan politik, kelas ekonomi, latar belakang budaya, jenis kelamin, apalagi soal keterbatasan fisik.

Silakan setuju atau tidak, namun bagi saya gamer sejati adalah mereka-mereka yang terbuka dengan segala macam perbedaan. Kenapa? Karena faktanya, game sendiri adalah kulminasi antara titik bertemunya seni dan teknologi yang mungkin dianggap terlalu berbeda bagi orang-orang tradisional.

Gamer Sejati tak Mudah Mengeluh dan Tak Berhenti Berjuang

Sumber:
Sumber: Angga Zerotoshine

Nyatanya, banyak orang merasa bahwa merekalah orang paling menderita di muka bumi ini. Tak jarang, kita manusia memang lebih mudah melihat keterbatasan dan ketidakberuntungan hidup kita masing-masing.

Saya pribadi percaya bahwa gamer sejati ya seharusnya seperti Angga. Dengan segala keterbatasannya, ia tak berhenti berjuang. Ia tak mau menyerah dan menyalahkan nasib. Selain Angga, saya kira ibunya pun juga bisa diteladani ketekunan dan ketahanannya karena selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Angga.

Terlepas dari apakah Angga bisa mewujudkan impiannya atau tidak nanti, saya kira itu urusan belakang. Hal yang lebih penting di sini, bagi saya, adalah bagaimana kita tak menjadikan keterbatasan diri sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Bahkan faktanya, gamer sejati seharusnya adalah orang-orang yang justru tertarik saat bertemu tantangan baru ataupun yang berat.

Sumber: Angga
Sumber: Angga Zerotoshine

Baik singleplayer ataupun multiplayer, kita menikmati proses bermain game karena ada tantangan dan ada tujuan yang ingin kita selesaikan – kecuali Anda bermain Pou atau My Little Pony di Android ataupun iOS (yang berarti Anda salah masuk website).

Akhirnya, tak ada salahnya juga jika kali ini kita semua berkaca dari Angga dan ibunya. Kemungkinan besar, kita semua lebih beruntung dari Angga karena keterbatasan kita kebanyakan adalah soal tatanan sosial dan ekonomi (itupun juga tak separah yang Anda bayangkan jika Anda masih punya akses internet). Jadi, bersyukurlah dan teruslah berjuang…