Dark
Light

Awal Sejarah Game MOBA: Berawal dari Mod Sampai Jadi Game Esports Global

7 mins read
November 16, 2022
sejarah MOBA

Mobile Legends merupakan game mobile esports terpopuler di Asia Tenggara di 2021. Sepanjang 2022, turnamen Mobile Legends juga sering memuncaki daftar turnamen esports terpopuler bulanan.

Dengan jumlah peak viewers mencapai 5,1 juta orang, League of Legends World Championship 2022 merupakan salah satu kompetisi esports terpopuler di dunia pada tahun ini.

Sementara itu, The International — kompetisi tahunan Dota 2 paling bergengsi — selalu menawarkan total hadiah yang fantastis. Mobile Legends, League of Legends, dan Dota 2 memiliki satu kesamaan: ketiganya merupakan game dengan genre Multi-player Online Battle Arena (MOBA). Karena itu, kali ini, saya akan membahas tentang sejarah MOBA.

Aeon of Strife

Mod menjadi awal dari sejarah MOBA. Pada 1998, modder Aeon64 membuat custom map untuk StarCraft, game Real-Time Strategy (RTS) buatan Blizzard. Peta itu dinamai Aeon of Strife. Dalam mod ini, empat pemain akan tergabung dalam satu tim melawan tim musuh yang dikendalikan oleh AI. Setiap pemain akan mengendalikan satu hero unit. Tujuan utama pemain adalah mempertahankan markas mereka dan menghancurkan markas musuh. Untuk mencapai markas musuh, ada tiga jalur aka lanes, yang bisa dipilih oleh para pemain.

sejarah MOBA
Aeon of Strife menjadi awal dari genre MOBA. | Sumber: YouTube

Walau Aeon of Strife merupakan pondasi dari genre MOBA, ia memiliki beberapa perbedaan dengan game MOBA yang ada sekarang. Salah satunya, di Aeon of Strife, tim pemain hanya terdiri dari empat orang dan bukannya lima orang. Selain itu, musuh para pemain juga bukan pemain lain, tapi AI. Hero unit yang digunakan para pemain juga tidak bisa naik level. Terakhir, peta Aeon of Strife tidak memiliki jungle yang penuh dengan creeps.

Defense of the Ancients

Pada 2002, Blizzard merilis game RTS terbarunya, Warcraft 3. Sama seperti StarCraft, game itu juga dilengkapi dengan tools yang memungkinkan pemain utnuk membuat peta atau skenario khusus. Satu tahun setelah Warcraft 3 diluncurkan, seorang map editor bernama Eul membuat mod bernama Defense of the Ancients, yang mengambil inspirasi dari Aeon of Strife. Tidak lama setelah mod buatan Eul dirilis, muncul berbagai varian mod dari Dota.

Sama seperti Aeon of Strife, di Dota, tujuan utama pemain adalah menghancurkan markas musuh, yang terhubung melalui tiga lanes yang berbeda. Dalam mod ini, pemain juga hanya dapat memainkan satu hero unit. Hanya saja, Dota mengadu dua tim yang dimainkan oleh pemain. Jadi, para pemain tidak lagi melawan tim AI. Perbedaan lain antara Dota dan Aeon of Strife, tim di Dota terdiri dari lima orang. Di Dota, hero yang pemain mainkan juga bisa naik level. Selain itu, Dota juga memiliki bagian jungle, yang penuh dengan creeps.

Defense of the Ancients. | Sumber: MMOGames

Kemunculan berbagai varian Dota mendorong modder Steve “Guinsoo” Feak untuk membuat Dota Allstars. Sesuai namanya, Dota Allstars menggabungkan berbagai varian dari Dota. Alhasil, mod ini dengan cepat menjadi varian Dota paling populer. Namun, Allstars tetaplah tidak lebih dari mod untuk Warcraft 3. Artinya, semua aset dalam mod itu, seperti karakter atau items, merupakan aset Warcraft 3. Dota tidak akan bisa menampilkan karakter hero yang sama sekali baru.

Terakhir, walau Dota berhasil menjadi sangat populer, kreator dari mod ini tidak akan bisa mendapatkan uang. Feak lalu mempercayakan pengembangan Allstars ke modder lain, yaitu IceFrog. Di bawah tanggung jawab IceFrog, Dota menjadi game yang lebih seimbang, yang justru membuatnya semakin populer.

Demigod

Popularitas Dota menarik perhatian para developer game. Salah satunya, Gas Powered Games, yang lalu membuat game MOBA berjudul Demigod. Game ini dirilis pada 2009, bahkan sebelum istilah MOBA digunakan. Ketika itu, game dengan genre MOBA dikenal sebagai game “Dota”.

sejarah MOBA
Demigod dari Gas Powered Games. | Sumber: Steam

Dalam Demigod, karakter hero yang dimainkan oleh para pemain disebut “Demigod”. Selain itu, Demigod sangat mirip dengan Dota, yang merupakan mod dari Warcraft 3. Kemiripan inilah yang membuat Demigod gagal meraih minat para gamers. Selain itu, saat peluncuran, Demigod juga sempat mengalami masalah pada server.

League of Legends

Selain Demigod, di 2009, ada game MOBA lain yang dirilis. Ialah League of Legends, karya Riot Games. Ketika Feak memutuskan untuk meninggalkan Dota, dia akhirnya bergabung dengan Riot. Dari segi desain dan style, League of Legends memang mirip dengan mod dari Warcraft 3. Namun, League of Legends memiliki artstyle yang berbeda dan gameplay yang lebih mudah untuk dimengerti.

Bisnis model free-to-play yang dipilih oleh Riot merupakan kunci di balik kesuksesan League of Legends. Karena League of Legends bisa dimainkan dengan gratis, semua gamers yang penasaran dengan game MOBA baru ini akan bisa langsung mencobanya, tanpa harus mengeluarkan uang. Para pemain bebas untuk menggunakan sejumlah heroes gratis di League of Legends. Tapi, jika pemain ingin mencoba karakter berbayar, dia harus membeli hero tersebut. Selain sukses dengan League of Legends, Riot juga menjadi pihak yang menciptakan istilah “MOBA”.

Per Januari 2014, jumlah pemain aktif harian League of Legends mencapai 27 juta orang dan jumlah pemain aktif bulanan menembus 67 juta orang. Sementara per Agustus 2022, jumlah pemain League of Legends meningkat, menjadi 124 juta orang. Sebanyak 117 juta orang merupakan pemain aktif bulanan.

Heroes of Newerth

Pada 2010, muncul game MOBA baru. Ialah Heroes of Newerth, yang dibuat oleh S2 Games. Sama seperti Demigod, Heroes of Newerth juga terinspirasi dari Dota Allstars. Sayangnya, S2 Games merilis game ini sebagai game premium, yang membatasi pemain yang bisa memainkannya. Nantinya, S2 Games memutuskan untuk menjadikan Heroes of Newerth sebagai game gratis. Meskipun begitu, game ini tidak pernah meraih popularitas layaknya League of Legends.

Dota 2

Di 2009, Valve — yang dikenal sebagai kreator dari Half-Life — mengumumkan bahwa mereka telah mempekerjakan IceFrog, modder yang bertanggung jawab atas Dota Allstars setelah Feak bergabung dengan Riot. Bersama Valve, IceFrog mengembangkan Dota 2, penerus dari Dota pertama. Peta dari Dota 2 sangat mirip dengan peta asli dari Dota yang merupakan mod Warcraft 3. Namun, grafik Dota 2 jauh lebih baik dari mod tersebut, berkat game engine Source milik Valve. Saat dirilis pada 2011, Dota 2 bisa dimainkan secara gratis via Steam, toko digital Valve.

Pada Mei 2021, jumlah pemain aktif bulanan Dota 2 mencapai 9,5 juta orang. Jika dibandingkan dengan League of Legends, jumlah pemain Dota 2 memang masih kalah banyak. Meskipun begitu, Dota 2 berhasil menjadi salah satu game esports yang menarik perhatian banyak orang. Pasalnya, selama bertahun-tahun, The International selalu dapat memberikan total hadiah yang jauh lebih besar dari kebanyakan turnamen esports.

Smite

Hi-Rez Studios merilis Smite pada 2014. Game ini bisa dimainkan di Windows, PlayStation 4, Xbox One, dan Nintendo Switch. Di Smite, pemain akan bisa memainkan karakter berupa dewa, dewi, atau tokoh mitologi lain. Hal lain yang membedakan Smite dari game MOBA kebanyakan adalah ia menggunakan behind-the-hero camera view dan bukannya top-down, seperti yang banyak digunakan oleh game MOBA.

sejarah MOBA
Smite. | Sumber: Steam

Vainglory

Super Evil Megacorp merilis Vainglory untuk iOS di November 2014. Pada Juli 2015, mereka meluncurkan game tersebut untuk Android. Dalam sejarah MOBA, Vainglory menjadi game mobile pertama yang berhasil menerapkan gameplay MOBA di mobile. Vainglory juga sempat dirilis untuk Windows dan Mac pada Februari 2019. Sayangnya, pada April 2020, Rogue Games — developer Vainglory yang sempat menjadi publisher sementara dari Vainglory– mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan proses pengembangan Vainglory.

Heroes of the Storm

Blizzard akhirnya memutuskan untuk meluncurkan game MOBA mereka sendiri — Heroes of the Storm — pada Juni 2015. Heroes yang tampil di game ini merupakan karakter dari berbagai game Blizzard yang lain, termasuk Warcraft, Diablo, StarCraft, dan Overwatch. Mengikuti jejak League of Legends dan Dota 2, Blizzard juga mencoba untuk mengembangkan ekosistem esports dari Heroes of the Storm.

Namun, pada Desember 2018, Blizzard mengumumkan bahwa mereka akan berhenti mendukung sirkuit esports dari Heroes of the Storm. Satu tahun kemudian, pada November 2019, Blizzard mengungkap bahwa sebagian tim dari Heroes of the Storm akan dipindahkan ke tim lain.

Honor of Kings/Arena of Valor

Setelah mengakuisisi Riot pada 2015, Tencent meminta developer itu untuk membuat versi mobile dari League of Legends. Ketika itu, belum ada banyak game MOBA mobile. Satu-satunya game MOBA mobile yang dikenal hanyalah Vainglory. Dan Tencent melihat potensi pasar untuk game MOBA Mobile. Namun, Riot menolak permintaan Tencent. Alasannya, Riot percaya, gameplay League of Legends tidak bisa diterapkan untuk game mobile.

Walau ditolak oleh Riot, Tencent tetap berkeras untuk membuat game MOBA mobile. Pada akhirnya, Lightspeed & Quantum Studios dan TiMi Studios berlomba-lomba untuk membuat game MOBA mobile, sesuai dengan keinginan Tencent. Pada Agustus 2015, Lightspeed & Quantum merilis We MOBA, sementara TiMi meluncurkan League of Kings. Satu bulan kemudian, We MOBA berhasil menjadi game mobile yang paling banyak diunduh di App Store.

Melihat League of Kings kalah populer, TiMi memutuskan untuk merombak game tersebut. Mereka lalu menggunakan League of Legends sebagai dasar dari League of Kings yang baru. Kali ini, mereka juga mengimplementasikan 5v5, setelah gagal dengan sistem 3v3. Setelah dirombak, League of Kings berhasil mengalahkan We MOBA. Akhirnya, Tencent pun mendukung League of Kings untuk memastikan game itu sukses.

Masalah tidak berhenti sampai di sana. Riot menganggap desain dan skill dari karakter di League of Kings sebagai tiruan dari League of Legends yang mereka buat. Mereka pun mengadukan hal ini pada Tencent. Perusahaan Tiongkok itu menjawab keluhan Riot dengan mengubah League of Kings agar ia tidak terlalu menyerupai League of Legends.

Sayangnya, League of Kings sudah terlanjur populer sebagai “versi mobile dari League of Legends” di kalangan gamers Tiongkok. Tencent menganggap, di tahap ini, akan sulit bagi mereka untuk merombak League of Kings. Alhasil, mereka memutuskan untuk hanya mengganti judul game tersebut, menjadi Honor of Kings.

Tencent juga membatalkan peluncuran Honor of Kings secara global. Sebagai gantinya, mereka akan membuat game serupa dengan nama yang berbeda dan memiliki konten yang berbeda. Dan hal inilah yang menjadi awal dari terciptanya Arena of Valor dalam sejarah MOBA.

Mobile Legends: Bang Bang

Dalam sejarah MOBA, game MOBA mobile baru muncul pada 2016. Ialah Mobile Legends: Bang Bang, buatan Moonton. Game itu merupakan game kedua dari Moonton, yang didirikan di Shanghai pada 2014. Sekarang, Mobile Legends merupakan game esports terpopuler di Asia Tenggara.

Perjuangan Moonton untuk membesarkan game buatannya tidak mudah. Karena, pada awal peluncuran, Mobile Legends memiliki karakter dengan tampilan yang mirip dengan karakter dari game lain. Contohnya, Alucard yang mirip dengan Dante dari Devil May Cry.

Selain itu, Moonton juga pernah dituntut oleh Riot pada 2017. Tuntutan ini berakhir dengan keadaan forum non conviens pada 2018. Tak lama setelah itu, Moonton kembali dituntut oleh perusahaan besar lain, yaitu Tencent. Kali ini, Moonton harus membayar denda pada Tencent. Jika Anda ingin tahu tentang perjuangan Moonton untuk membuat Mobile Legends menjadi sepopuler sekarang, Anda bisa membacanya di sini.

League of Legends: Wild Rift

Awalnya, Riot memang menolak permintaan Tencent untuk membuat versi mobile dari League of Legends. Namun, pada Oktober 2020, Riot akhirnya merilis League of Legends: Wild Rift. Tidak lama setelah peluncuran Wild Rift, ekosistem esports dari game ini pun segera terbentuk. Baik Riot maupun komunitas mengadakan berbagai kompetisi untuk Wild Rift.

Per Juli 2022, total player spending dari Wild Rift dikabarkan telah mencapai US$500 juta. Selain itu, ekosistem esports Wild Rift kini juga sudah cukup berkembang. Riot menggelar turnamen Wild Rift di berbagai tingkat, mulai dari nasional, regional, sampai global.

Sumber header:  RODNAE Productions

Review ROG Phone 6
Previous Story

Review ASUS ROG Phone 6: Upgrade Gaming dengan Snapdragon 8+ Gen 1

Snapdragon 8 Gen 2
Next Story

Fitur Utama Snapdragon 8 Gen 2, Chipset Flagship Terbaru Qualcomm

Latest from Blog

Don't Miss

Erajaya Digital Adakan Turnamen Esports Berhadiah Ratusan Juta Rupiah

Dukungan Erajaya Digital terhadap industri esports Indonesia kini memasuki tahun

H3RO Land dari Bima+, Teman Mabar Anak Esports

Salah satu bentuk dukungan untuk perkembangan esports di tanah air