Esports Ecosystem

Apa Saja yang Dibutuhkan untuk Jadi Jurnalis di Media Game dan Esports?

07 Sep 2020 | Yabes Elia
Kualitas apa sajakah yang penting untuk disadari dan dimiliki?

Saya tahu, buat generasi yang lebih muda, menjadi YouTuber atau malah menjadi atlet esports terdengar lebih mentereng. Memang, pendapat itu tadi benar adanya. Jurnalis biasanya memang tak dikagumi atau malah dikenal khalayak luas.

Meski demikian, jurnalis adalah salah satu pekerjaan yang punya usia produktif paling panjang. Kenyataannya, pekerjaan-pekerjaan di belakang layar memang kemungkinan besar punya usia produktif lebih panjang. Jika Anda tidak percaya, di Indonesia sendiri, ada Rosihan Anwar dan Goenawan Mohammad (GM) — yang juga jadi idola saya. Keduanya masih aktif menulis meski sudah masuk di usia senja. Rosihan Anwar (alm.) dan GM bahkan masih aktif menulis meski sudah berusia 80an.

Tidak sedikit juga senior-senior saya di meja redaksi yang mencapai puncak masa kariernya justru di usia 40an ke atas.

Di sisi lain, siapakah yang tidak ingin bekerja sesuai dengan passion? Jurnalis media game dan esports, nyatanya, memang akan banyak berkutat dengan topik-topik di ranah itu setiap harinya — meski juga dituntut untuk belajar ranah lainnya, yang akan saya bahas nanti.

Jadi, jika Anda seorang gamer dan fans esports yang ingin mencari pekerjaan sesuai passion dan punya usia produktif sangat panjang, jadi jurnalis di media game dan esports adalah salah satu jalan yang bisa Anda tempuh.

Via: World Scholarship Forum
via: World Scholarship Forum

Namun demikian, nyatanya, saya selalu percaya bahwa tidak ada pekerjaan yang mudah di dunia ini jika Anda punya tujuan untuk sampai ke tingkat profesional. Masak mie instan memang mudah namun memasak sampai ke tingkat chef hotel atau restoran bintang lima? Selamat berjuang selama bertahun-tahun. Sekadar bisa bermain gitar atau piano juga tak butuh waktu sampai setahun. Namun, untuk sampai ke level yang sama seperti Yovie Widianto atau malah Carlos Santana? Anda tidak bisa mencapai tingkat itu dalam sekejap. Demikian juga dengan keahlian tulis menulis ataupun jurnalistik.

Saya sendiri sudah mengawali karier saya sebagai jurnalis/penulis di majalah cetak dari 2008. Pengalaman 12 tahun di industri game/esports mungkin memang kedengarannya cukup panjang namun, di ranah tulis menulis, pengalaman tersebut masih terhitung bau bawang, eh bau kencur — mengingat ada yang sekelas Rosihan Anwar ataupun GM.

Jadi, jika Anda ingin mencari jalan pintas ataupun popularitas sesaat, mungkin ada baiknya Anda menutup artikel ini sekarang. Sebaliknya, jika Anda orang yang sabar dan ingin berjuang dalam waktu yang panjang bekarier sebagai penulis/jurnalis di media game/esports, inilah beberapa hal fundamental yang harus Anda pelajari.

Via: Reddit
via: Imgur

Kemampuan berbahasa di atas rata-rata

Bagi saya pribadi, inilah kemampuan dasar pertama yang harus disadari dan dipelajari terus menerus — tidak peduli seberapa lama Anda sudah belajar berbahasa.

Kenapa kemampuan berbahasa jadi yang pertama? Karena, sepintar apapun, Anda tidak akan ada gunanya jika tak mampu menerjemahkan ide menjadi bentuk yang lebih verbal. Hal ini juga sebenarnya berlaku buat banyak profesi lainnya, jika ingin disadari.

Kemampuan berbahasa ini juga tidak sedangkal yang dibayangkan. Mengenali dan memahami unit bahasa, seperti kata, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf hanyalah salah satu pengetahuan dasar yang wajib disadari. Demikian juga soal 4 aspek berbahasa: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

4 aspek berbahasa tadi mungkin memang kedengarannya mudah. Kita bisa mendengar sejak lahir. Kita juga bisa berbicara sejak usia 1-2 tahun. Kita juga bisa membaca dan menulis setidaknya dari mulai kelas 1 SD. Namun, sekali lagi, kemampuan membaca itu nyatanya bahkan tidak semudah itu. Jangankan membaca, saya tahu menjadi pendengar yang baik saja tidak semua orang mampu melakukannya.

Padahal, faktanya, untuk jadi penulis yang cukup baik, Anda harus jadi pembaca yang sabar. Jika Anda punya tujuan untuk mengasah kemampuan menulis ataupun berbicara, hal fundamental yang harus selalu disadari dan dilakukan adalah mendengar dengan seksama dan membaca dengan teliti.

Hal yang selalu saya tekankan pada setiap penulis yang ada di tim saya adalah kebiasaan untuk membaca dengan kesadaran, apalagi tulisan diri sendiri.

Analoginya, jika tidak suka membaca tulisan Anda sendiri, jangan berharap ada orang lain yang senang membaca tulisan Anda.

 

Kemampuan dan kesabaran untuk menggali pengetahuan

Hal terpenting kedua yang bagi saya wajib dimiliki oleh seorang jurnalis adalah mampu dan sabar dalam mencari tahu sesuatu.

Bagi saya pribadi, pengetahuan yang kita miliki sekarang tidak ada artinya jika kita tidak mau dan sabar menggali lebih jauh. Kita semua lahir tanpa tahu apapun di dunia ini. Perbedaan antara satu orang dan orang lainnya hanyalah soal bagaimana kita mau terus belajar dan menambah pengetahuan seiring waktu.

Hal ini juga mungkin kedengarannya konyol dan mudah, apalagi di zaman demokratisasi informasi sekarang ini. Namun demikian, dengan begitu banyaknya informasi yang tersedia hanya dengan sejumlah jentikan jari, manusia justru jadinya terlalu malas untuk mencari tahu lebih jauh.

Misalnya saja, saya yakin tidak banyak gamer yang menyadari perbedaan antara developer dan publisher game. Padahal informasi ini mudah sekali dicari.

Beberapa tahun belakangan, fenomena bertanya di media sosial juga jadi lebih marak padahal sebagian besar jawaban pertanyaan tadi bisa juga ditemukan di dunia maya. Manusia, saya dan Anda (karena saya tidak ingin terjebak dengan dikotomi kita dan mereka), lebih suka disuapi informasi ketimbang mencarinya sendiri.

Game dan esports juga sebenarnya bukan ranah yang mudah dipahami. Bahkan saya tahu banyak orang tidak menyadari ada banyak perbedaan mendasar antara industri game dan esports. Memahami dan menghafalkan tim-tim, pemain, dan kompetisi esports itu juga sebenarnya tidak mudah. Apalagi soal pemahaman gameplay dari setiap game yang berbeda-beda.

Kenapa pengetahuan dan usaha menggali pengetahuan ini penting? Karena, sederhananya seperti ini, jika Anda tidak paham betul dengan hal yang sedang dijelaskan (baik itu lewat lisan ataupun tulisan), jangan berharap pembaca atau pendengar bisa paham juga dengan penjelasan Anda.

Selain pengetahuan tentang game dan esports yang tentunya jadi kebutuhan dasar setiap orang yang berkecimpung di industri ini (tak hanya jurnalis di media game/esports), bagi saya pribadi, belajar dari luar ranah ini akan jadi advantage tersendiri untuk Anda. Misalnya saja, saya pribadi tertarik mempelajari hal-hal berbau filsafat, bisnis, dan psikologi. Ketertarikan inilah yang membuat saya memiliki keunikan tersendiri dibanding jurnalis/penulis lain di industri ini.

Saya sungguh percaya bahwa pola pikir kita juga terbentuk dari pengetahuan apa saja yang kita cari. Ditambah lagi, saya kira penting juga untuk belajar dari luar topik profesi yang kita tekuni agar kita tak terjebak dengan lingkaran sempit yang membatasi kekayaan perspektif diri.

 

Kemampuan sosial dan titik keseimbangan

Bagi saya pribadi jurnalis yang hebat adalah mereka yang punya kapasitas yang berimbang antara kemampuan personal dan sosial. Dengan kata lain, jurnalis yang ideal itu tidak hanya butuh pengetahuan tetapi juga pintar berkawan.

Di kepala saya, jika harus menyederhanakan kategori kemampuan manusia, saya membaginya menjadi dua. Pertama adalah kemampuan kognitif manusia, yang bisa berupa cara berpikir kritis, kecepatan dalam memahami berbagai konsep, kemampuan menghafal, dan lain sebagainya. Kedua, adalah soal kapabilitas emosional seperti bagaimana berempati, kendali diri, bagaimana cara berkomunikasi yang efektif, ataupun tidak canggung saat bertemu dengan kawan baru.

Saya tahu ada orang-orang pintar yang mungkin kesulitan mencari kawan. Sebaliknya, saya tahu juga ada orang-orang yang populer dan punya kawan banyak tapi bodoh… Wkwkakwkakwa…

Dari pengalaman saya, seorang jurnalis yang baik harus bisa berada di tengah-tengah itu — mengingat setiap kita manusia punya keterbatasan waktu setiap harinya. Untuk mengembangkan kapasitas diri ataupun bersosialisasi, kita butuh waktu. Sedangkan setiap kita hanya punya waktu 24 jam setiap harinya. Karena itulah, kita yang harus pintar membagi waktu antara belajar hal baru atau membangun (atau menjaga) jaringan.

Saya percaya ada pekerjaan-pekerjaan lain yang memang lebih cocok bagi mereka yang ingin menitikberatkan di satu sisi saja. Programmer atau engineer misalnya, kemampuan kognitif mereka tentu lebih penting ketimbang kemampuan sosial. Sebaliknya, jaringan Anda lebih penting ketimbang kemampuan kognitif buat yang berkecimpung di bisnis atau malah jadi selebriti…

Seorang jurnalis yang baik, harus bisa menemukan titik keseimbangan di kedua sisi tadi. Walaupun, memang, saya juga sebenarnya percaya bahwa keseimbangan antara dua kapasitas tadi penting juga untuk setiap profesi. Elon Musk, Bill Gates, ataupun Mark Zuckerberg, bukanlah yang paling pintar di bidangnya masing-masing namun mereka adalah yang paling bisa menjaga keseimbangan antara kemampuan kognitif dan sosial.

Sebelum jadi melebar ke mana-mana, kemampuan sosial bagi jurnalis ini penting karena wawancara adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan. Faktanya, ada banyak informasi yang tidak tersedia di internet sana.

Via: Vox
via: Vox

Saya pribadi sebenarnya lebih sering mendapatkan informasi off-the-record yang tak bisa disampaikan ke publik. Jika sebuah informasi tidak dapat dipublikasikan, lalu apa gunanya buat jurnalis? Hmmm… Banyak sekali sebenarnya. Meski ada banyak informasi yang tidak bisa saya publikasikan, informasi tadi bisa jadi bahan pertimbangan saya menilai dan memahami banyak hal. Faktanya, kemampuan kita berpikir dan menilai sesuatu juga berdasarkan pada seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki.

Selain itu, trust itu juga penting dimiliki. Nyatanya, kedekatan personal tetap saja berpengaruh terhadap perjalanan karier profesional kita. Misalnya saja, jika setiap curhatan para pelaku esports itu saya tuliskan jadi artikel, kemungkinan besar, mereka tidak akan lagi percaya saya bisa jadi tempat bercerita. Hal ini berarti semakin sedikit informasi yang akan saya dapatkan di masa mendatang. Ditambah lagi, saya juga tahu bahwa image jurnalis di zaman modern ini juga tidak selalu positif karena media-media tak jarang memilih untuk mengeluarkan berita bombastis demi menarik perhatian pembaca.

Saya bisa memahami metode tersebut sebenarnya. Karena begitu banyaknya informasi dan konten yang ada di zaman internet ini, media juga harus menarik perhatian dengan berbagai cara. Namun demikian, jujur saja, saya tidak ingin mengorbankan kepercayaan rekan-rekan saya di industri ini hanya untuk mendapatkan jutaan pembaca lebih banyak.

 

Kesabaran berproses dan ketelitian pada detail

Akhirnya, kita sampai pada aspek terakhir yang menurut saya penting untuk dimiliki oleh seorang jurnalis di media game dan esports.

Kenapa hal ini jadi penting untuk saya sebutkan? Karena, industri game dan esports memang biasanya dipenuhi dengan anak-anak muda yang mungkin tak sabar dengan proses. Industri ini juga biasanya dipenuhi dengan orang-orang yang memang punya passion di esports dan game. Jika Anda ingin terkenal atau sukses dengan cepat, mungkin Anda tidak cocok dengan profesi jurnalis di media game/esports.

Seperti yang saya bilang tadi, usia produktif seorang jurnalis itu panjang. Ibaratnya, jika dianalogikan dengan lomba lari, profesi jurnalis seperti lari maraton — bukan lari jarak dekat. Anda harus berpikir jangka panjang untuk membangun karier.

Via: Ethical Journalism Network
via: Ethical Journalism Network

Jurnalisme juga sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1400an. Jurnalisme modern juga sudah dimulai dari tahun 1703. Jadi, sudah banyak sekali orang-orang yang jauh berpengalaman di sini. Anda boleh bangga jika sudah berpengalaman sebagai social media specialist selama 15 tahun karena memang Facebook baru berdiri di 2004 dan, sebelumnya, belum ada profesi tersebut (sepengetahuan saya). Contoh lain, Anda juga bisa bangga jika sudah belajar Phyton (bahasa pemrograman) selama 20 tahun karena memang Phyton 2.0 memang baru dirilis tahun 2000.

Namun di jurnalistik ataupun dunia tulis menulis (yang bahkan lebih tua lagi), pengalaman saya yang 12 tahun pun sebenarnya masih terhitung seumur jagung. Saya memang sempat menuliskan yang sama di awal artikel tadi sebenarnya. Namun demikian, saya memang ingin menekankannya sekali lagi karena melihat banyak kaum muda yang sepertinya cepat puas dan bangga dengan pengalaman 1-2 tahun semata…

Kemampuan untuk memperhatikan detail kecil juga saya kira berhubungan dengan soal kesabaran… Tidak sedikit para pekerja sekarang yang inginnya cepat selesai dalam mengerjakan sesuatu. Karya jurnalistik, bagi saya, tidak dapat diperlakukan seperti itu — yang penting selesai. Memang, deadline juga jadi bagian tak terpisahkan dari publikasi berita namun bukan berarti jadi harus mengorbankan banyak detail.

Menurut saya, di sinilah kompleksitasnya. Di satu sisi, tuntutan waktu pasti ada namun tuntutan kualitas juga tak boleh dikorbankan.

 

Penutup

Mungkin, setiap kualitas yang saya tuliskan tadi juga berguna buat profesi lainnya. Namun demikian, berhubung memang sebagian besar pengalaman saya memang hanya soal jurnalistik/tulis menulis di industri game, saya tidak bisa berbicara untuk profesi lainnya.

Bagi saya, kesulitan utama dari seorang jurnalis adalah pada titik keseimbangan. Terlalu banyak menghabiskan waktu mengembangkan kapasitas diri namun tak punya kawan, akhirnya juga kurang maksimal. Sebaliknya, terlalu banyak nongkrong di warung kopi bersama kawan tanpa pernah membaca buku akhirnya pun tulisannya tak ada isinya. Di sisi lain, menjaga keseimbangan antara deadline dan detail juga bukan hal yang mudah dikuasai dalam waktu sesaat.

Sebagai penutup, saya pribadi juga masih harus banyak sekali belajar dan penuh dengan cela. Namun setidaknya, hal-hal di atas tadi yang berhasil membawa saya ke titik ini sekarang. Semoga artikel ini berguna untuk Anda.

Feat Image: via Bangkok Post