Esports Ecosystem

Angkatan Bersenjata Amerika Bentuk Tim Esports untuk Tarik Minat Kawula Muda

30 Jan 2019 | Ayyub Mustofa
U.S. Army ingin masyarakat paham bahwa angkatan bersenjata itu isinya bukan prajurit saja

Tahun 2019 ini adalah tahun di mana esports merambah ke segala lembaga. Anda mungkin sudah mendengar bahwa grup idola JKT48 telah membentuk tim esports sendiri, begitu juga dengan lembaga lain seperti PT Kereta Api Indonesia. Tak hanya di dalam negeri, di seluruh dunia pun hal serupa telah terjadi. Salah satunya yang baru-baru ini diluncurkan adalah pembentukan tim esports angkatan bersenjata Amerika Serikat (U.S. Army).

U.S. Army mengambil langkah ini bukan semata-mata untuk mencari untung, tapi bagi mereka, esports adalah sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap peran angkatan bersenjata di negaranya. Esports sendiri sudah memiliki banyak cabang permainan yang bertema militer, misalnya Counter-Strike: Global Offensive atau Tom Clancy’s Rainbow Six: Siege. Mereka yakin bahwa program esports ini bisa menjadi sarana untuk menjangkau dan merekrut audiens baru, utamanya kawula muda.

U.S. Army Esports - Player
6.500 orang telah mendaftar ke program esports U.S. Army | Sumber: U.S. Army/Staff Sgt. Ryan Meaux

“Bila kita ingin sukses dalam merekrut, maka kita harus berada di tengah-tengah para pemuda – dan mereka beroperasi di dunia digital,” kata Major General Frank Muth, commanding general U.S. Army Recruiting Command, dilansir dari FedScoop. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 6.500 peserta yang mendaftar untuk masuk ke tim esports U.S. Army. Nantinya dari sekian banyak pendaftar itu akan diambil 30 orang sebagai pemain inti tim dan juga cadangan.

Para peserta yang lolos kemudian akan mengikuti program pelatihan militer dan esports selama tiga tahun di Marketing and Engagement Brigade di Fort Knox, Kentucky. Ya, lembaga besar seperti U.S. Army juga punya divisi khusus yang menangani soal pemasaran. Peserta program, yang merupakan hibrida antara tentara dan atlet esports tersebut, nantinya bertindak sebagai penghubung antara tim rekrutmen U.S. Army dengan publik Amerika Serikat. Harapannya, program ini dapat membuat masyarakat paham bahwa ada banyak peran dalam U.S. Army, tidak hanya prajurit tapi juga peran-peran pendukung seperti ini.

Esports sendiri bukanlah sesuatu yang baru di kalangan angkatan bersenjata. Banyak prajurit U.S. Army yang di kesehariannya merupakan gamer, dan sebagian dari mereka juga gemar bermain secara kompetitif. Di bulan Januari ini pun ada beberapa prajurit yang bertanding di acara PAX South, San Antonio, bahkan meraih juara 1 dan 2 di turnamen Street Fighter V. Mereka didampingi oleh beberapa kru dari San Antonio Recruiting Batallion, dan hasilnya, mereka berhasil menemukan beberapa calon potensial untuk direkrut. Kegiatan serupa rencananya juga akan dilakukan di PAX East, Boston, bulan Maret nanti.

Dari sudut pandang militer, baik esports, olahraga konvensional, serta ilmu keprajuritan sebenarnya punya kemiripan. Kita tidak bisa tiba-tiba ahli dalam bidang ini, tapi perlu latihan yang disiplin dan terarah. Mirip seperti keahlian menembak, atau terjun payung, tidak cukup hanya satu-dua kali mencoba saja.

Tapi terlepas dari komitmen tersebut, program esports ini juga memberi suasana baru yang menyenangkan di U.S. Army. “Bagi banyak prajurit, termasuk saya, ini seperti mimpi yang jadi nyata,” kata Sergeant 1st Class Christopher Jones di situs resmi U.S. Army, “Ini hanyalah salah satu dari banyak cara untuk membuka dialog (dengan masyarakat).”

Bagaimana dengan Indonesia? Kira-kira, perlukah program serupa diterapkan di angkatan bersenjata negara kita tercinta?

Sumber: FedScoop, U.S. Army