Guna mengakselerasi kesiapan sumber daya manusia nasional dalam menghadapi disrupsi teknologi, IBM Indonesia bersama platform edukasi Dicoding Indonesia secara resmi telah merayakan kelulusan para peserta program Pijak 2026.
Acara seremonial di Jakarta ini menjadi titik puncak dari rangkaian pelatihan intensif yang didesain khusus untuk menajamkan kompetensi masyarakat Indonesia di bidang kecerdasan buatan (AI) terapan dan memenuhi standar kualifikasi industri digital modern.
Inisiatif Pijak lahir dari sinergi strategis antara Dicoding dan platform pembelajaran global IBM SkillsBuild. Visi utama kemitraan ini adalah mendemokratisasi pendidikan AI yang berkualitas sekaligus menjembatani kesenjangan keahlian antara dunia akademis dan tuntutan profesional.
Melalui program ini, IBM terus memperkuat komitmen globalnya untuk memperluas akses edukasi teknologi ke berbagai lapisan masyarakat melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan hingga entitas nirlaba.
Bagaimana Skala Pencapaian Program Pijak 2026?
Antusiasme masyarakat terhadap program beasiswa teknologi ini terbilang sangat masif. Mengandalkan modul dari platform IBM SkillsBuild, peserta diberikan pemahaman mendasar hingga tingkat lanjut mengenai ekosistem kecerdasan buatan, etika teknologi, hingga kesiapan manajemen karier.
Berikut adalah rincian metrik keberhasilan pelaksanaan program Pijak 2026 dalam angka:
Selama menjalani pelatihan, peserta difasilitasi oleh praktisi industri berpengalaman untuk mengonversi teori menjadi solusi konkret. Salah satu purwarupa (prototype) paling menonjol yang berhasil diciptakan oleh peserta adalah Sigap AI.
Platform ini dirancang khusus untuk membantu sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memantau ulasan konsumen, melakukan analisis sentimen publik, memetakan masalah, serta memberikan rekomendasi bisnis yang siap dieksekusi secara instan.
Menyiapkan Ekosistem Kolaborasi dengan Agen AI
General Manager IBM ASEAN, Catherine Lian, menyoroti urgensi kebutuhan talenta di tengah disrupsi algoritma open-source yang kian cerdas. Menurutnya, pemahaman literasi AI saat ini tidak hanya soal pemakaian, tetapi juga tentang kolaborasi tingkat lanjut.
“Seiring dengan munculnya mode AI open-source yang semakin canggih dan mudah diakses, satu hal menjadi jelas: laju transformasi akan terus meningkat,” papar Catherine. Ia menegaskan bahwa masa depan industri akan didorong oleh talenta yang tidak sekadar mampu mengoperasikan alat, melainkan bisa mengelola agen AI secara beretika dan membangun solusi generasi mendatang.
Pijak Career Fair dan Dukungan Berkelanjutan Pemerintah
Guna memastikan keberlanjutan karier para lulusan, Narenda Wicaksono selaku Chief Executive Officer Dicoding Indonesia memastikan bahwa komitmen program ini tidak berhenti pada seremonial kelulusan saja.
Dalam waktu dekat, penyelenggara akan memfasilitasi penyerapan tenaga kerja melalui ajang Pijak Career Fair pada bulan Agustus ini. “Inisiatif ini merupakan salah satu langkah nyata Dicoding untuk menghubungkan para peserta dengan perusahaan yang membutuhkan talenta digital berkualitas,” tutur Narenda.
Keberhasilan program yang melibatkan ribuan anggota komunitas akademik di Indonesia ini turut menuai apresiasi dari jajaran pemerintahan. Prof. Dr. med. Setiawan, dr., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), berharap inisiatif positif semacam ini dapat dipertahankan di masa mendatang.
“Keterampilan AI yang diperoleh melalui Pijak dapat memberdayakan para peserta untuk menjawab tantangan nyata. Saya mendorong IBM untuk melanjutkan Pijak hingga 2027, agar semakin banyak talenta Indonesia dapat berkontribusi terhadap transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi nasional,” tutupnya.
—
Disclosure: Artikel ini disusun dari rilis dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.