Samsung Electronics Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak inovator muda melalui program Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. M
enyaring lebih dari 4.000 pendaftar, sebanyak 2.600 pelajar tingkat menengah atas (SMA) dan mahasiswa dari 27 provinsi di Indonesia terpilih untuk mengikuti lokakarya intensif berbasis Design Thinking.
Inisiatif pendidikan ini dirancang agar generasi muda tidak sekadar piawai menggunakan teknologi berbasis STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) serta Kecerdasan Buatan (AI), melainkan mampu memformulasikan solusi yang relevan dan berdampak nyata bagi akar permasalahan di masyarakat.
Kehadiran program ini merespons paradigma baru di dunia teknologi. Saat ini, menghasilkan sebuah ide komputasi bukanlah tantangan utama, melainkan bagaimana ide tersebut dapat menjawab kebutuhan riil pengguna akhir.
Menyikapi hal ini, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, menegaskan bahwa potensi generasi muda harus diarahkan secara strategis. “Tantangan saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak ide, melainkan memastikan ide tersebut berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata. Melalui Samsung Solve for Tomorrow, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengubah potensi tersebut menjadi inovasi berbasis STEM dan AI,” papar Anggi.
Mengapa Design Thinking Krusial di Era Kecerdasan Buatan?
Banyak pengembang pemula sering kali terjebak pada kecanggihan teknologi tanpa memetakan urgensi permasalahan. Design Thinking atau pemikiran desain bertindak sebagai kerangka kerja (framework) yang mencegah peserta melompat langsung pada kesimpulan solusi, dan memaksa mereka untuk berempati terhadap kelompok yang terdampak.
Kusuma Sukma, Partner Coach UD Impact Korea sekaligus trainer dalam program SFT 2026, menjelaskan bahwa empati adalah aspek yang tidak bisa digantikan oleh mesin.
“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu cepat jatuh cinta pada ide, sebelum benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan. Banyak anak muda langsung fokus pada bentuk solusi yang terlihat canggih, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna,” jelas Kusuma. Ia menambahkan bahwa perpaduan antara kecepatan analisis AI dan empati manusia adalah kunci melahirkan inovasi yang inklusif.
Tahapan Lokakarya dan Tren Tema Inovasi SFT 2026
Untuk memastikan pola pikir inovasi terbangun secara terstruktur, peserta lokakarya dibimbing melalui empat sesi pelatihan yang masing-masing berdurasi 2,5 jam. Rangkaian pembelajaran praktik ini meliputi tahapan observasi mendalam hingga uji coba purwarupa, dengan rincian sebagai berikut:
-
Introduction & Empathize: Memahami konteks isu sosial dari sudut pandang korban terdampak.
-
Define & Ideate: Merumuskan pernyataan masalah (problem statement) dan sesi curah gagasan (brainstorming).
-
Prototyping: Mewujudkan ide menjadi konsep solusi awal yang aplikatif.
-
Testing: Melakukan validasi sederhana untuk mengukur tingkat relevansi solusi.
Sebagai luaran dari lokakarya ini, para peserta diwajibkan menyusun concept paper berdasarkan tiga pilar tema utama, yaitu Sustainability & Environment, Education, dan Sport & Technology.
Menariknya, data menunjukkan kepedulian yang sangat tinggi dari generasi muda terhadap masa depan bumi. Sebanyak 47,83% peserta memilih untuk memecahkan masalah di bidang Sustainability & Environment (Keberlanjutan & Lingkungan). Fokus ini beririsan langsung dengan agenda pembangunan nasional dalam menjaga ketahanan lingkungan.
Perjalanan Menuju Semifinal: Mengubah Empati Menjadi Solusi
Pasca-penyusunan konsep, program ini akan mengerucut dengan menyeleksi 40 tim terbaik untuk melangkah ke babak semifinal. Pada fase krusial ini, peserta akan mendapatkan pelatihan AI Amplification serta bimbingan eksklusif dari para pakar internal Samsung dan mitra strategis.
Metode Design Thinking ini sebelumnya telah terbukti mencetak solusi juara. Nathanael, perwakilan dari Tim KYGB yang sukses meraih juara ketiga pada ajang SFT 2025 lalu, menceritakan bagaimana kerangka berpikir ini mengubah cara timnya berinovasi. “Metode ini memastikan kami untuk mengidentifikasi akar masalah dari sudut pandang mereka yang terdampak,” ungkapnya.
Melalui sinergi antara kemampuan rekayasa teknis, kecerdasan buatan, dan empati sosial, program berkelanjutan dari Samsung ini diharapkan terus menjadi katalis bagi lahirnya inovator-inovator lokal yang tangguh di masa depan.
—
Disclosure: Artikel ini disusun dari rilis dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.