Musim perayaan Ramadan dan Idulfitri, lanskap industri ritel mengalami pergeseran perilaku konsumen yang signifikan. Berdasarkan studi global yang dilakukan bersama National Retail Federation (NRF), integrasi antara kanal belanja fisik dan teknologi digital—khususnya Kecerdasan Buatan (AI)—kini semakin tidak terpisahkan.
Meskipun mayoritas konsumen (72%) masih gemar berbelanja langsung di toko fisik untuk melihat dan mencoba produk, hampir separuhnya (45%) kini telah mengadopsi teknologi AI untuk memandu perjalanan belanja mereka sebelum tiba di kasir.
Pergeseran Ekspektasi dan Pemanfaatan AI oleh Konsumen
Kehadiran konsumen di toko fisik kini didorong oleh preferensi yang lebih terarah berkat riset digital. Laporan tersebut mencatat rincian pemanfaatan AI oleh konsumen sebagai berikut:
Selain itu, ekspektasi terhadap pengalaman belanja secara menyeluruh juga meningkat. Konsumen modern mendambakan:
-
35% menginginkan toko fisik yang menarik secara visual dengan sistem belanja tanpa antrean.
-
33% mencari super app yang mengintegrasikan layanan belanja dengan kebutuhan harian lainnya.
-
30% mengharapkan ekosistem smart home yang dilengkapi personal shopper berbasis AI serta pengiriman otonom.
-
29% menginginkan proses transaksi yang mulus melalui platform media sosial (social commerce).
Potensi Pasar Ritel dan E-Commerce Indonesia
Tren digitalisasi ini sangat relevan dengan postur ekonomi Indonesia. Sektor perdagangan dan ritel merupakan salah satu pilar utama perekonomian nasional, menyumbang sekitar 12,96% terhadap PDB.
Berdasarkan data International Trade Administration (ITA), Indonesia menguasai lebih dari 52% total volume bisnis online di kawasan ASEAN, menjadikannya pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Nilai pasar ini diperkirakan menembus USD 52,93 miliar pada tahun 2023 dan diproyeksikan meroket hingga USD 86,81 miliar pada tahun 2028.
Juvanus Tjandra, Managing Director IBM Indonesia, menegaskan bahwa industri ritel tanah air telah memasuki fase transformatif. “AI tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan menjadi fondasi untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, aman, dan cerdas… Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI ke dalam strategi data dan pengalaman pelanggan akan menentukan era pertumbuhan berikutnya,” ujarnya.
5 Strategi Ritel Hadapi Konsumen Berbasis AI
Agar tetap kompetitif di era “Kecerdasan Massal” ini, merek dan pelaku ritel disarankan untuk menerapkan lima langkah strategis berikut:
-
Desain Ulang Perjalanan Pelanggan (Customer Journey): Petakan titik-titik di mana konsumen menggunakan AI (riset, komparasi harga) dan pastikan transisinya menuju tahap pembelian berjalan mulus.
-
Manfaatkan Agen AI Proaktif: Gunakan asisten virtual bukan sekadar untuk layanan pelanggan (customer service), tetapi untuk membantu konsumen mencari promo dan menafsirkan ulasan sejak tahap awal agar keraguan mereka berkurang.
-
Prioritaskan Kesiapan Data: Mengingat 54% eksekutif ritel melaporkan adanya kendala integrasi lintas kanal, penyelarasan informasi produk secara end-to-end menjadi sangat krusial.
-
Tonjolkan Keaslian Merek (Brand Authenticity): Gunakan AI untuk mengurangi hambatan teknis berbelanja, namun tetap pertahankan sentuhan kreativitas dan identitas asli merek.
-
Investasi pada Kapabilitas dan Kemitraan AI: Sebanyak 51% eksekutif menyadari kurangnya keahlian AI di internal perusahaan. Hal ini menuntut adanya kemitraan strategis dengan penyedia teknologi untuk implementasi yang efektif dan bertanggung jawab.
Momentum hari raya ini menjadi pembuktian bahwa kunci keberhasilan ritel masa depan terletak pada integrasi AI yang cerdas, tanpa menghilangkan kedekatan budaya dan interaksi personal yang selama ini menjadi kekuatan utama ritel di Indonesia.
Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.