Provinsi Banten resmi mencetak sejarah sebagai daerah pertama di Indonesia yang membawa rumusan strategis mengenai kesiapan tenaga kerja berbasis Artificial Intelligence (AI) langsung ke meja kebijakan nasional.
Melalui acara GARUDA AI Regional Summit I yang digelar secara hybrid di Universitas Prasetiya Mulya, Banten pada 2 April lalu, BINAR, Microsoft Indonesia, dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) bersinergi untuk mempercepat transformasi digital di sektor publik.
Acara ini merupakan bagian dari payung program Microsoft Elevate, yang menargetkan pelatihan dan sertifikasi AI aplikatif bagi 145.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia.
Target dan Pencapaian Program GARUDA AI
Program GARUDA AI tidak sekadar memberikan teori, melainkan berfokus pada integrasi teknologi AI secara langsung ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) dan pelayanan publik. Sejak dimulai pada Oktober 2025, program ini telah mencatatkan rekor signifikan:
-
Partisipasi Masif: Melatih lebih dari 100.000 ASN dari 30 provinsi dan 100 instansi pemerintah.
-
Inovasi Aktif: Menghasilkan 800+ ide inovasi layanan publik melalui ajang hackathon nasional.
-
Target Akhir: Mencapai angka 145.000 ASN siap AI dan mencetak 5.000 Pembuat Kebijakan AI (AI Policy Makers) bersertifikat.
Alasan Banten Dipilih Sebagai Pelopor AI Daerah
Pemilihan Banten sebagai kota pembuka rangkaian summit ini didasarkan pada kesiapan infrastruktur digital dan ekosistem inovasi yang unggul dibandingkan daerah lain.
Faktor utamanya adalah keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Industri Kreatif (KEK ETKI) di Banten yang berfungsi sebagai pusat inovasi, inkubasi, dan penggodokan regulasi teknologi. Selain itu, Banten mencatatkan pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi yang sangat positif di angka 5,37%, yang didorong oleh sektor investasi dan industri perdagangan.
Untuk merangkum pandangan lintas sektor dalam inisiatif ini, berikut adalah pernyataan kunci dari para pemangku kepentingan:
Ini Rumusan Kebijakan ASN Banten untuk Nasional
Puncak dari GARUDA AI Regional Summit I adalah sesi parallel working group. Sebanyak 80 ASN yang hadir secara luring dan 700 peserta daring ditantang untuk merumuskan terobosan kesiapan kerja (job readiness) berbasis AI dalam tiga tahapan konkret:
-
Definisi Masalah: Menentukan problem statement (akar masalah) yang nyata di lapangan sebelum mengadopsi teknologi apa pun.
-
Literasi Kritis: Membangun literasi AI agar ASN mampu mengevaluasi hasil kerja mesin secara kritis dan mendeteksi potensi data palsu/halusinasi AI.
-
Integrasi Alur Kerja: Memasukkan AI langsung ke dalam alur kerja harian untuk mendongkrak produktivitas pelayanan publik secara berkelanjutan.
Hasil dari diskusi tersebut dirangkum ke dalam sebuah dokumen cetak biru bertajuk Draft Regional Policy Recommendations on AI-Enabled Job Readiness and Workforce Development. Dokumen ini memuat tata kelola data, indikator kinerja utama (KPI) dampak sosial-ekonomi, dan rancangan pilot project.
Draf rekomendasi dari Banten ini tidak akan berhenti di tingkat provinsi. Hasil rumusan tersebut akan dibawa langsung sebagai masukan resmi dalam perumusan kebijakan AI negara pada ajang AI National Summit di Jakarta pada bulan Juni 2026 mendatang.
Rangkaian summit regional ini juga akan dilanjutkan ke empat kota besar lainnya untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai pusat talenta digital di ASEAN.
Disclosure: Artikel ini