Dark
Light

[Simply Business] Uang Dulu, Hasrat Akan Mengikuti

2 mins read
April 5, 2012

Saya masih ingat raut muka ayah saya ketika saya mengatakan padanya bahwa saya ingin berhenti dari pekerjaan tetap saya. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu tetapi masih terasa seperti kemarin. Kekecewaaan, kebingungan yang menggambarkan sebuah pertanyaan “Kenapa? Kenapa kamu mau meninggalkan pekerjaan baik seperti itu?” Saya yang masih muda dan naif menjawab dengan penuh keyakinan bahwa saya akan mengikuti hasrat kreatif saya dan mendirikan agensi desain.

Saya berhasil mendirikan agensi desain dan mimpi saya menjadi kenyataan, Dua tahun kemudian perusahaan saya bangkrut, saya gagal. Saya tidak memiliki model bisnis yang tepat, tidak pernah membuat rencana bisnis dan tidak pernah berurusan dengan perputaran uang di perusahaan selama hidup saya. Saya sendiri heran perusahaan tersebut bisa bertahan sampai 2 tahun. Itu masa-masa menyenangkan.

Setelahnya, saya belajar dari kesalahan dan mulai menggeluti hal-hal dasar dari bisnis, saya belajar pajak (yang sampai sekarang masih membingungkan), akuntansi, dan manajemen cash flow melalui textbook manapun yang bisa saya baca. Saya sama sekali tidak tertarik dengan pajak penghasilan, membuat laporan pemasukan, atau membuat rencana bisnis tiga tahun, tetapi saya perlu untuk belajar itu semua untuk benar-benar sukses di dunia bisnis. Kadang kala kita perlu melakukan hal yang tidak kita suka untuk mendapatkan hal yang kita mau. Dalam kasus ini, uang adalah yang saya inginkan.

Babak yang terjadi dalam hidup saya ini telah mengubah diri saya dalam beberapa hal. Hal ini membuat sisi idealis dalam diri saya menerima kenyataan tentang kejamnya dunia: Uang menggerakkan dunia. Anda bisa berbicara tentang keinginan Anda mendirikan startup yang akan mengubah hidup orang lain, digunakan oleh miliaran orang dan menyatakan para semua orang bahwa Anda melakukannya bukan karena uang. Well, itu omong kosong. Startup adalah sebuah bisnis dan bisnis menghasilkan uang. Jika Anda mengatakan sebaliknya, maka Anda tengah mendirikan lembaga amal, bukan sebuah startup.

Saya tidak mengatakan bahwa passion itu tidak penting, tentu hal itu penting. Siapa lagi yang bisa bertahan dari gempuran kerja lembur dan mengorbankan akhir minggu jika kita tidak memiliki minat/hasrat atas apa yang Anda lakukan. Saya mengatakan hal ini agar startup Anda sukses, Anda harus berpikir dari mana Anda akan mendapatkan uang. Pikirkan model bisnis Anda bahkan sebelum membuat sebuah produk.

Uang datang duluan, hasrat datang belakangan. Bagaimana Anda bisa menjalankan perusahaan Anda jika tidak punya uang? Bagaimana rencana kelangsungan Anda? Anda sadar kan kalau pendanaan dari investor bukan sebuah model bisnis? Pada akhirnya, hasrat tidak bisa membayar tagihan dan memberi makan anak Anda.

Saya mendirikan beberapa perusahaan sejak beberapa tahun yang lalu di bidang yang bermacam-macam mulai dari desain, teknologi, startup, media, dan fashion. Semuanya lahir dari hasrat saya dalam berbagai bidang (ya, saya memang orang yang penuh hasrat). Banyak perusahaan ini gagal, beberapa malah tidak pernah diluncurkan, tetapi perusahaan yang bertahan (dan sampai sekarang masih berjalan) adalah perusahaan yang menghasilkan uang dari hari pertama (atau setidaknya menghasilkan pada akhir bulan pertama).

Saya akan menutup artikel ini dengan mengutip sebuah artikel dari spinsucks.com:

You can hear cash is king over and over and over again and perhaps you’ll think of it the same way I did. Instead, I hope you create a cash account that has a minimum of 90 days expenses in it. This goes for both your business and your personal lives. And, sometimes, it’s not enough to grow revenues or ask for a raise. Sometimes you have to cut expenses – a lot – in order to get yourself in a cash positive range.

Uang adalah Raja, berpikir sebaliknya maka Anda akan mati.

Aria Rajasa adalah CEO dari GantiBaju.com, startup di bidang busana yang tidak berbeda dengan Threadless tetapi dengan sentuhan lokal Indonesia, GantiBaju juga memiliki komunitas desain yang sangat kuat. Semangat Aria di dunia wirausaha membuatnya mendirikan beberapa perusahaan setelah lulus kuliah.

16 Comments

  1. Harus seimbang mungkin ya bro Rajasa 🙂

    Kadang kalau mikirnya uang dulu, kualitas dan hasrat dinomorduakan. Akibatnya ga sustain in the long run…ada kemungkinan timbul conflict, meaningless, dll yang disebabkan karena prioritas utama adalah uang dulu. just an opinion.

  2. Harus seimbang mungkin ya bro Rajasa 🙂

    Kadang kalau mikirnya uang dulu, kualitas dan hasrat dinomorduakan. Akibatnya ga sustain in the long run…ada kemungkinan timbul conflict, meaningless, dll yang disebabkan karena prioritas utama adalah uang dulu. just an opinion.

  3. Saya justru melihat perusahaan2 digital terbesar di dunia, seperti Facebook dan Twitter, malah sebaliknya, hasrat dulu bisnis akan mengikuti. Jadi menurut saya, jalan hidup itu pilihan. Pilihan hidup itu dipengaruhi/dipertimbangkan oleh banyak hal, di antaranya bakat/kemampuan, kemauan/hasrat, uang, dll. Pilihan hidup tidak selalu dipengaruhi oleh uang. Bagi beberapa orang, uang adalah pertimbangan terakhir. Saya sering membaca/mendengar cerita beberapa tokoh yang lebih memilih hasratnya, tidak menghamba pada uang, tapi dia tidak mati.

  4. menurut saya, perusahaan digital seperti facebook dan twitter, sangat berbeda konteksnya dengan yg disampaikan oleh mas rajasa di atas.

    karena, di AS, orang-orang di sana mampu utuk melihat sejauh apa dan seberapa lama suatu bisnis akan bertahan. belum perusahaan tersebut menghasilkan duit saja, investor-investor di sana, punya pengetahuan dan keyakinan bahwa perusahaan yg di-invest tersebut akan tumbuh, karena itu mereka berani berinvestasi.

    facebook dan twitter belum menghasilkan duit saja, investor sudah datang, dan berani membayar gaji dan semua kebutuhan perusahaan. saya kira, yg dimaksud oleh mas rajasa dlm artikel ini adalah pada bisnis yg tidak/belum ada investornya, harus bergantung pada cash positif dan kinerja penjualan sendiri.

    di Indonesia, valuasi bisnis/perusahaan sangat ditentukan oleh valuasi terhadap barang-barang yg tangible-nya. ya mesin-mesinnya, bahan baku, dst..  bukan terhadap seberapa besar “digital user”-nya di masa datang.. kedua jenis metode ini memang bisa digunakan untuk menentukan, berapa nilai perusahaan, dan berapa investor harus membayar nilai investasi yg ditanamkannya..

  5. Pemikiran saya ini sederhana, mohon dikoreksi kalau salah. Saya pikir tulisan ini berlaku secara umum, sama saja di bagian manapun di dunia ini.

    Di indonesia ada kok perusahaan seperti saya bilang di atas. Pada awalnya (startup) tersebut lebih mengutamakan hasrat daripada uang. Dia tidak menghasilkan uang/berbisnis, hanya mengandalkan uang pribadi dari pendirinya untuk bertahan. Mungkin saja sejak awal dia (si pendiri) juga punya cita-cita mendirikan perusahaan (bukan lembaga amal). Justru jika ingin mendirikan lembaga amal kita perlu menarik uang dari para donatur untuk kemudian disalurkan kepada yang membutuhkan.
    Teman-teman yang pada awalnya ikut membangun startup tersebut satu-persatu meninggalkannya, karena mungkin mereka mempunyai pilihan seperti mas Rajasa. Dia sendiri bertahan karena ada hasrat/kemauan yang kuat. Pada akhirnya, sekarang startup tersebut tumbuh menjadi perusahaan besar, meskipun apa yang dia buat tidak menghasilkan uang dari bulan pertama.
    Sekali lagi ini masalah pilihan hidup. Mas Rajasa sudah jelas menuliskan di artikel ini bahwa dia menginginkan uang, sedangkan ada orang2 tertentu di dunia yang luas ini, lebih menginginkan hasratnya terpenuhi dibandingkan uang.

  6. nek wes kepepet, kabeh2 iso kelakon 🙂

    kalau sudah terdesak, semua bisa terjadi :)yg penting jaga kwalitas dan terus berinovasi, buatlah agar uang bekerja untuk anda* :D*kutipan dari Cameron Johnson

  7. bagi saya sama saja rasanya, hasrat dulu uang belakangan boleh, uang dulu belakangan hasrat boleh..tinggal pilih yg sesuai dengan kondisi saat memulai, ujung-ujungnya kalau sudah sukses tetap bayar pajak kan (uang dong hahaha)…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Yahoo! Koprol to Relaunch In May, Refocuses on Neighborhoods

Next Story

Yahoo Koprol Akan Diluncurkan Kembali Bulan Mei, Kini Akan Fokus Pada Lingkungan

Latest from Blog

Don't Miss

NFT Collectors: An Ancient Dream to Directly Support Creators

Before NFT happens, the appreciation form for an artist’s or
DailySocial mencoba menjaring pendapat para kolektor lokal terkait prospek NFT di Indonesia

Kolektor NFT: Impian Lama Mendukung Kreator Secara Langsung

Sebelum NFT hadir, bentuk menghargai suatu karya seniman atau kolektor