Hybrid

[Review] Logitech G431 yang Garang Kala Berdendang

27 Feb 2019 | Yabes Elia
Headset gaming 7.1 ini mampu menawarkan kualitas audio yang mantab dengan koneksi USB

Mencari gaming headset mungkin memang lebih tricky ketimbang mencari headset untuk musik. Muasalnya, buat yang berada di kelas menengah dan bawah, mungkin kita tak punya anggaran untuk membeli 2 headset untuk keperluan yang berbeda.

Karena itulah, saya pribadi setidaknya mencari headset gaming yang juga bisa digunakan untuk semua keperluan; bahkan sampai mendengarkan musik di ponsel. Padahal kebutuhan audio untuk gaming dan musik sebenernya jauh berbeda, setidaknya menurut saya yang sudah menamatkan sekitar 2000 judul game PC dan menyukai musik-musik jazz.

Di sana mungkin letak dilema yang saya alami saat menggunakan salah satu headset gaming terbaru dari Logitech ini, G431. G431 ini adalah headset 7.1 yang dibanderol dengan harga Rp1,4 jutaan yang menawarkan 2 koneksi yaitu 3.5mm dan USB.

Sebelum kita masuk ke pengalaman saya menggunakan headset ini, mari kita lihat spesifikasinya dulu.

SPESIFIKASI FISIK

  • Tinggi: 172 mm
  • Lebar: 81,7 mm
  • Tebal: 182 mm
  • Berat: (tanpa kabel): 259 g
  • Panjang Kabel: 2 m

SPESIFIKASI TEKNIS

Headphone
  • Driver: 50 mm
  • Respons frekuensi: 20 Hz-20 KHz
  • Impedansi: 39 Ohm (pasif), 5k Ohm (aktif)
  • Sensitivitas: 107 dB SPL/mW
Mikrofon (Boom)
  • Pola Pickup Mikrofon: Cardioid (Unidireksional)
  • Ukuran: 6 mm
  • Respons frekuensi: 100 Hz–20 KHz

Itu tadi speknya yang cukup baik untuk harganya yang di bawah Rp.1,5 juta meski memang frekuensinya bukan yang paling luas – kalah dengan Razer Kraken 7.1 yang kisaran harganya sama persis. Saat saya tes di frekuensi rendah, G431 ini cukup sesuai dengan yang diklaimnya karena masih terdengar di frekuensi 23Hz – selisih 3Hz nya bisa jadi ada anomali di telinga saya.

Namun demikian, setidaknya dari pengalaman saya menguji produk gaming peripheral selama 9 tahun terakhir, spesifikasi tak mampu bercerita utuh menggambarkan kualitas produk itu sendiri. Jadi, ijinkan saya bercerita tentang pengalaman saya menggunakan Logitech G431.

Sebelumnya, disclaimer dulu; dari pengalaman saya mencoba ratusan produk gaming peripheral, review produk di kategori ini memang bisa sepenuhnya terbilang subjektif. Karena, ukuran tubuh kita berbeda-beda antara satu dan yang lainnya (ukuran tangan atau telinga misalnya) dan kepekaan kita masing-masing yang sepenuhnya bergantung pada produk di kelas mana yang biasa kita gunakan sehari-hari.

Kualitas Suara

Seperti yang saya tuliskan di awal, saya cukup dilema dengan produk ini dan mungkin justru karena opsi 2 konektor yang ditawarkannya. Kenapa? Hal ini berkaitan dengan hasil dendangan suara berbeda yang dihasilkan saat menggunakan USB dan 3.5mm. Saat saya menggunakannya dengan konektor USB, suara Logitech G431 bisa dibanggakan. Mungkin memang bukan yang terbaik dari semua headset yang pernah saya coba tapi setidaknya yang lebih baik dari produk ini biasanya ada di kisaran harga Rp2 jutaan atau lebih.

Suara surround 7.1 nya begitu terasa sangat imersif saat saya coba untuk semua kebutuhan dari mulai bermain game, menonton film (Blu-Ray – 5.1 Dolby AC-3 audio), mendengarkan musik (FLAC – 5.1 Surround 24bit / 96kHz), ataupun sekadar menikmati YouTube (lowest quality format). Suara ambience lebih jadi fokus saya untuk bermain game ataupun menonton film. Sedangkan detail suara yang jadi fokus untuk mendengarkan musik.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid – Lukman Azis

Sayangnya, hal ini tak mampu diimbangi dengan suara yang dihasilkan saat saya menggunakannya dengan konektor 3.5mm. Memang tidak buruk juga sebenarnya tapi suaranya jadi tak jauh berbeda dengan headset gaming lain yang berada di kisaran Rp.1 juta – SteelSeries Siberia 200 misalnya. To be fair, hal itu memang ada di keterbatasan konektor 3.5mm nya. Meski memang, ada beberapa produk headset lain yang menawarkan virtualisasi surround dengan konektor 3.5mm.

Dengan konektor 3.5mm, suaranya sedikit memekakan telinga saat disetel di volume 100% (apalagi saat dicoba di ponsel). 80% adalah volume maksimum yang masih nyaman didengar di headset ini saat menggunakan konektor 3.5mm. Padahal, ada produk lainnya yang masih cukup nyaman di 100% meski menggunakan 3.5mm.

Di sisi lain, slot USB sendiri mungkin boleh dibilang lebih langka karena tak ada di ponsel. Di laptop juga bisa jadi sangat terbatas jumlahnya dan digunakan untuk perangkat lainnya – mouse atau flashdrive misalnya. Sedangkan konektor 3.5mm itu biasanya memang khusus untuk output audio. Buat kelas sultan, mungkin Anda memang tak ada masalah membeli lebih dari satu headset untuk keperluan yang berbeda. Namun, kelas sultan juga mungkin tak akan membeli headset di harga Rp1,5 jutaan.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid – Lukman Azis

Sekali lagi, sebenarnya ini dilema yang justru ditawarkan dari fitur itunya sendiri. Bisa jadi, ketika tak ada opsi USB, mungkin saya sendiri juga tak akan membandingkan kualitas suara untuk konektor yang berbeda. Walau memang, jika hanya menawarkan konektor 3.5mm, headset ini mungkin jadi tak terlalu menarik juga karena harga resminya yang nyaris menyentuh Rp1,5 juta.

Di sisi lain, frekuensi yang lebih luas (setidaknya dibanding Siberia 200 yang saya punya tadi) bisa jadi juga salah satu faktor kenapa ia kurang nyaman saat di volume 100% di konektor 3.5mm. Mungkin ada frekuensi yang terlalu tinggi yang memang tersalurkan mentah via konektor 3.5mm nya.

Kenyamaan Penggunaan

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid – Lukman Azis

Dari sisi kenyamanan, G431 juga cukup ideal meski mungkin juga bukan yang terbaik. Bantalan ear-cup nya cukup nyaman di telinga saya yang mungkin terbilang cukup besar. Mekanisme geser penyangganya juga terasa solid dan tak mudah patah. Saya betah berlama-lama menggunakan headset ini tanpa merasa terhimpit kepala ataupun telinganya meski digunakan sampai 5 jam bermain game.

Meski begitu, menurut saya pribadi, mekanisme geser penyangga yang standar seperti yang disuguhkan Logitech G431 ini masih kalah nyaman dengan sistem ‘bando’ yang ditawarkan oleh SteelSeries. Walau memang, mekanisme ‘bando’ tadi biasanya memang tak bertahan lama (punya saya putus kawatnya setelah 2 tahun digunakan).

Software dan Fitur Lainnya

Logitech G Hubs
Logitech G Hubs

Saat saya mencoba headset ini, Logitech sudah mengupdate software gaming mereka jadi Logitech G Hub (menggantikan Logitech Gaming Software). Tak ada keluhan yang berarti meski juga tak ada keistimewaan yang ditawarkan oleh softwarenya. Meskipun, memang tak banyak juga fitur yang bisa ditawarkan untuk software headset (tak seperti mouse ataupun keyboard).

Untuk mic nya sendiri, berhubung memang saya jarang sekali menemukan mic yang bisa dikeluhkan dari sebuah gaming headset, demikian juga yang saya rasakan dari milik G431. Kebanyakan gaming headset (asal bukan yang merek abal-abal) memang sudah cukup baik dalam menyediakan mic yang mampu menyaring suara berisik di sekitar.

Terakhir, absennya kabel perpanjangan mungkin bisa jadi satu kekurangan buat setting tertentu (seperti front panel 3.5mm yang mati dan jarak jauh antara back panel ke kursi). Namun panjang kabel yang sampai 2 meter mungkin sudah cukup untuk sebagian besar pengguna. Still, a cable extension is a nice thing to be included.

Kesimpulan

Akhirnya, jika boleh saya menyimpulkan dari cerita di atas, Logitech G431 sebenarnya sungguh mampu berdendang cukup nendang jika konektor USB nya yang digunakan. Sayangnya, ia tak terasa berbeda kualitas suaranya dengan produk lainnya yang banderol harganya sedikit lebih rendah saat digunakan lewat slot 3.5mm. Ia juga nyaman digunakan selama lebih dari 5 jam meski bukan yang paling nyaman. Meski demikian, semua kekurangannya sebenarnya masih dapat dimaklumi mengingat harganya yang mungkin memang masih terjangkau untuk kelas menengah.

Jadi, andai headset ini sedikit saja turun harga, ia bisa jadi favorit baru buat para gamer kelas menengah seperti saya.