Esports Ecosystem
for SEO
Esports Ecosystem

Review ASUS ROG Delta S: Headset Gaming Premium dengan Teknologi QUAD DAC

5 April 2021Yabes Elia

Headset yang dibanderol dengan harga di atas Rp3 jutaan ini masih belum wireless. Apakah ia layak dibawa pulang?

Jika sebelumnya ASUS ROG mengirimkan ROG Chakram Core ke saya, kali ini mereka mengirimkan satu gaming peripheral baru yaitu sebuah headset gaming yaitu ASUS ROG Delta S.

Seperti biasa, saya harus mengatakan jika review gaming peripheral itu akan selalu subjektif apalagi jika kita berbicara soal headset. Telinga masing-masing sang reviewer yang akan menjadi pembeda utama dari setiap review. Maka dari itu, saya harus menyebutkan bahwa telinga saya sudah terbiasa mendengar suara dari HyperX Cloud Flight yang saya biasa gunakan setiap hari dari bulan Oktober 2020. Sebelum itu, saya juga sudah menggunakan dan mencicipi berbagai gaming headset lain mulai dari besutan SteelSeries, Logitech, Razer, dan kawan-kawannya sejak saya mulai bekerja di media game dari 2008.

Selain itu, seperti yang saya tuliskan tadi ASUS Indonesia yang mengirimkan ROG Delta S ini namun demikian hal tersebut tidak akan mengubah hasil review atas headset gaming yang satu ini.

Tanpa panjang lebar lagi, mari kita masuk ke review ASUS ROG Delta S kali ini.

 

Desain dan Build Quality

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid

ASUS ROG Delta S dibanderol dengan harga yang tinggi untuk sebuah gaming headset yang masih pakai kabel. Saat saya menulis artikel ini, saya menemukan headset ini dibanderol dengan harga Rp3,2 – 3,7 jutaan di berbagai toko online. Meski begitu, bulid quality yang disuguhkan produk ASUS ini sepadan dengan harga yang harus Anda bayarkan. Bodinya solid dan finishing-nya sungguh terkesan premium di semua bagian (dari headbad, earcup, sampai kabelnya). Sesuai dengan ekspektasi saya dari brand ROG — dibanderol dengan harga di atas rata-rata namun selalu menawarkan build quality yang bisa dibanggakan.

Mekanisme headband yang digunakan di headband ROG ini juga sangat nyaman digunakan, tidak melorot tapi juga tidak terlalu ketat. Apalagi ditambah dengan bobotnya yang ringan (hanya 300g), saya bisa berjam-jam menggunakan headset ini tanpa terasa.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid

Dari sisi konektor, saya merasa ada kelebihan dan kekurangan dari headset ini. Defaultnya, headset ini menggunakan konektor USB Type-C. Jadi, kemungkinan besar, Anda akan membutuhkan konverter Type-C ke Type-A (USB biasa) karena kebanyakan motherboard mungkin tidak memiliki colokan USB Type-C. Untungnya, ASUS memberikan konverter itu dalam paket penjualannya. Jadi Anda sebenarnya tak perlu risau. Meski demikian, dengan konverter yang terpisah tadi, jika Anda teledor suka meletakkan barang sembarangan, konverternya bisa hilang dan Anda harus membeli konverter baru sebelum bisa menggunakannya kembali.

Jika berbicara soal konektor, hal tersebut tidak akan jadi masalah jika konektor default-nya adalah 3.5mm — sebelum terhubung ke DAC yang berakhir jadi interface USB 2.0, misalnya. Karena setidaknya, Anda bisa menggunakannya tanpa konverter jika defaultnya 3.5mm.

Meski begitu, jika saya harus memilih, saya lebih memilih konektor USB Type-C seperti yang ditawarkan ASUS. Pasalnya, sebelum-sebelumnya, headset saya yang menggunakan konektor 3.5mm seringnya berakhir dengan konektor yang aus sehingga akan mengeluarkan suara-suara mengganggu saat konektornya bergeser sedikit saja. Dengan USB Type-C, permasalahan konektor yang aus tadi harusnya hilang — atau setidaknya bisa jauh bertahan lebih awet ketimbang konektor 3.5mm.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid

Terakhir, yang ingin saya bahas dari sisi desain adalah bentuk earcups. Sama seperti kebanyakan headset besutan ROG, Delta S juga menggunakan earcups yang berbentuk segitiga (D-shaped). Meski memang masih sangat nyaman digunakan dan ASUS pun memberikan 2 set ear cushion di paket penjualannya, saya lebih suka earcups yang berbentuk bulat ataupun kotak.

Kenapa? Karena headset untuk audiophile juga kebanyakan menggunakan earcups berbentuk bulat atau kotak. Dengan begitu, saya bisa membeli sepasang ear cushion baru yang sebenarnya ditujukan untuk headset audiophile — seperti yang saya lakukan di HyperX Cloud Flight saya. Dengan opsi yang lebih mudah untuk mengganti ear cushion, saya bisa mengubah warna suara headset ataupun menggantinya jika ear cushion nya sudah tak lagi nyaman digunakan satu saat nanti.

 

Performa dan Kualitas Suara

Jika berbicara soal kualitas suaranya, saya sempat terkejut saat menggunakan headset ini pertama kali karena suaranya jelek sekali dan sangat tidak pantas untuk sebuah headset yang dibanderol dengan harga di kisaran Rp3,5 jutaan.

Namun demikian, ternyata saya yang keliru karena belum menginstall softwarenya (Armoury Crate). Setelah saya menginstall Armoury Crate, saya menemukan banyak opsi premium yang baru bisa menyuguhkan kualitas headset ini yang sesungguhnya.

Hal ini memang sedikit berbeda dari yang biasanya saya alami. Kebanyakan headset gaming memang sudah menyuguhkan kualitas audio yang optimal out-of-the-box. Barulah ketika saya ingin bermain-main dengan equalizer ataupun fitur lainnya, saya akan menggunakan software.

Armoury Crate ROG Delta S
Armoury Crate ROG Delta S

Sistem seperti ini mungkin memang mungkin kurang ideal karena Anda jadi terpaksa menginstall software, apalagi saya sempat bermasalah saat menginstall Armoury Crate saat mencoba ROG Chakram Core.

Meski begitu, untungnya memang saya tak bermasalah saat menginstall softwarenya saat saya menguji headset ini. Lagipula, opsi yang disuguhkan lewat softwarenya sungguh lengkap dan Anda mungkin bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencoba berbagai kombinasi setting di sini.

Sayangnya, dibandingkan dengan suara HyperX Cloud Flight, saya lebih suka warna suara headset itu. Fidelity yang disuguhkan HyperX Cloud Flight bahkan di kondisi default/out-of-the-box (tanpa software) sudah lebih baik. Bass yang dihasilkan pun lebih smooth.

Sebaliknya, warna suara yang dihasilkan oleh ROG Delta S ini masih kalah dalam hal fidelity — meski cukup detail juga. Suara bass yang dihasilkan pun sebenarnya garang dan tajam tapi kurang smooth. Entahlah, mungkin saya saja yang kurang berhasil menemukan kombinasi setting yang saya mau meski saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan softwarenya.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid

Jadi, headset ini mungkin masih kalah jika digunakan untuk musik. Namun, karena memang ditujukan untuk gaming, headset ini memang layak diacungi 2 jempol. Suara ambience-nya benar-benar terasa dan fitur surround-nya pun menggelegar. Detail seperti langkah kaki dan arah suara tembakan pun bisa terdengar jelas di sini. Dengan begitu, selain untuk bermain game, headset ini juga sangat cocok untuk menonton film.

 

Fitur Tambahan

Dengan banderol harga premiumnya, ROG Delta S ini dibekali dengan berbagai fitur premium juga. ROG Delta S dibekali dengan Hi-Res ESS 9281 QUAD DAC dan MQA Technology. Sayangnya, seperti yang saya bahas tadi, hasil kualitas audionya mungkin kurang cocok dengan telinga saya. Atau sayanya saja yang tidak berhasil menemukan setting ideal yang saya inginkan.

Meski begitu, tetap saja, jika Anda cukup berpengalaman dengan DAC, Anda mungkin bisa mendapatkan kualitas audio yang lebih optimal.

Selain itu, ROG Delta S juga dilengkapi dengan ASUS AI Noise-Canceling microphone yang sangat berguna jika Anda bermain di warnet ataupun ruang keluarga yang biasanya penuh dengan keributan. Hasil microphonenya pun juga sangat jernih meski mungkin bukan yang terbaik yang pernah saya coba.

Dokumentasi: Hybrid
Dokumentasi: Hybrid

Sayangnya, jika kita berbicara soal fitur yang absen di headset harga premium ini adalah koneksi wireless. Seperti tadi yang saya bilang, saya sudah terbiasa menggunakan HyperX Cloud Flight S yang tanpa kabel. Saat saya kembali menggunakan Delta S yang masih pakai kabel selama beberapa pekan, saya jadi merasa riweh dengan kabel-kabel yang menjuntai. Ditambah lagi, saya juga sebenarnya sudah terbiasa jalan-jalan atau duduk di balkon saat sedang telepon lewat Discord jika menggunakan wireless headset. Padahal Cloud Flight S dibanderol dengan harga sekitar Rp1 jutaan lebih murah ketimbang ROG Delta S.

Tetapi, jika Anda suka dengan RGB, ROG Delta juga cocok untuk Anda karena ia bisa dikustomisasi dengan begitu mudah lewat softwarenya. Sayangnya, memang tak banyak area lampu RGB yang ada di headset ini — meski memang RGB untuk headset biasanya tidak seheboh RGB untuk mechanical gaming keyboard.

 

Kesimpulan

Akhirnya, ROG Delta S sebenarnya produk yang cukup menarik. Ia punya build quality yang sangat solid, suara yang galak dengan berbagai setting software yang lengkap, dan sangat nyaman digunakan.

Sayangnya, bagi saya, ia masih jauh dari kata sempurna. Saya tidak berhasil menemukan warna suara yang saya inginkan meski saya sudah menghabiskan waktu berjam-jam mencari setting terbaik — yang bisa saya dapatkan dari headset saya out-of-the-box. Dengan harga Rp3,5 jutaan, ia juga masih belum menawarkan koneksi wireless sedangkan saya sudah tidak terbiasa dengan kabel.

Bentuk earcups-nya juga kurang ideal karena Anda mungkin akan kesulitan mencari ear cushion dari pihak ketiga. Terakhir, meski memang cukup ideal digunakan untuk bermain game dan menonton film, sayangnya saya sendiri memang setiap hari mendengarkan musik. Jadi, saya pribadi lebih suka dengan headset yang bisa cukup balanced untuk semua kebutuhan baik itu bermain game, mendengarkan musik, ataupun menonton film.