Dark
Light

Perjuangan Atlet Indonesia dalam Turnamen Dragon Ball FighterZ World Tour Saga

3 mins read
November 26, 2018

Nama Dragon Ball FighterZ (DBFZ) di Indonesia mungkin tidak begitu terkenal, masih kalah tenar dengan fighting game lain seperti Tekken 7 atau Street Fighter V. Akan tetapi game ini sebetulnya sangat populer di luar negeri. Sejak dirilis awal tahun 2018 kemarin, Dragon Ball FighterZ langganan menjadi salah satu kompetisi utama di turnamen-turnamen fighting game kelas dunia, termasuk Evolution Championship Series (EVO) 2018.

Bandai Namco selaku penerbit Dragon Ball FighterZ juga mengadakan sirkuit turnamen global dengan tajuk Dragon Ball FighterZ World Tour Saga. Mirip seperti cerita komik Dragon Ball itu sendiri, Dragon Ball FighterZ World Tour Saga terdiri dari tujuh turnamen di berbagai belahan dunia, dan juara masing-masing turnamen berhak mendapat sebuah bola naga. Turnamen ini terbuka untuk semua orang, dan semakin banyak pemain mendapat bola naga, semakin tinggi keuntungan yang ia dapat saat mengikuti kompetisi World Tour Saga Finals, Januari 2019 nanti.

Berikut ini tujuh turnamen yang merupakan bagian dari Dragon Ball FighterZ World Tour Saga:

  • Amerika Serikat: Community Effort Orlando (CEO) 2018, Florida 28 Juni – 1 Juli 2018
  • Inggris Raya: VSFighting, Birmingham 20 – 22 Juli 2018
  • Perancis: Ultimate Fighting Arena, Paris 2 September 2018
  • Meksiko: Thunderstruck 2018, Monterrey 6 – 7 Oktober 2018
  • Asia Tenggara: South East Asia (SEA) Major 2018, Singapura 13 – 14 Oktober 2018
  • Jepang: Dragon Ball FighterZ World Tour Saga 6 Japan Round, Tokyo 24 – 25 November 2018
  • Australia: CouchWarriors Crossup, Coburg North 15 – 16 Desember 2018

Meski seluruh turnamen DBFZ World Tour Saga ini terbuka untuk umum, lokasinya yang hanya ada tujuh tempat di seluruh dunia tentu sedikit menyulitkan partisipan yang berdomisili jauh. Karena itu, Bandai Namco juga mengadakan turnamen-turnamen lebih kecil dengan nama Dragon Radar Tournament. Juara Dragon Radar Tournament ini berhak mendapatkan akomodasi dan transportasi gratis untuk mengikuti event DBFZ World Tour Saga berikutnya.

Salah satu Dragon Radar Tournament itu berlangsung saat acara C3 AFA Jakarta, akhir Agustus lalu. Dalam turnamen ini, seorang kontestan asal Indonesia berhasil keluar sebagai juara. Dia adalah Drek, pemain Dragon Ball FighterZ asal Jakarta. Drek berhasil menjuarai Dragon Radar Tournament setelah babak Grand Final yang sengit melawan kontestan asal Filipina, Alden.

Dragon Ball FighterZ - Vegito
Vegito, karakter Dragon Ball FighterZ andalan Drek

Dua petarung Indonesia menantang Jepang

Sebagai juara Dragon Radar Tournament, Drek berhak maju ke salah satu turnamen DBFZ World Tour Saga. Selain itu, prestasi ini juga membuat Drek direkrut oleh tim ABUGET GAMING. Bersama dengan co-founder tim ABUGET GAMING yaitu Kontoru (Rindra), Drek pun berangkat ke Shinjuku, Tokyo, untuk bertarung di DBFZ World Tour Saga 6 Japan Round.

ABUGET GAMING dulunya juga merupakan sponsor perdana R-Tech sebelum ia pindah ke Alter Ego Esports

Sebelum bertanding di Saga Japan, Drek dan Kontoru sempat bermain kasual di Red Bull Gaming Sphere Nakano, serta Esports Arena Akihabara. Di sana mereka bertemu dengan para atlet Dragon Ball FighterZ papan atas, seperti Kazunoko, Kaimart, Kindevu, dan sebagainya. Permainan Drek mendapat apresiasi, karena ia menjagokan karakter Vegito yang termasuk tidak populer. Kurangnya tools untuk pertarungan darat serta sulitnya mempertahankan corner pressure adalah beberapa alasan mengapa karakter ini dianggap lemah, beda dengan karakter-karakter seperti Android 16 atau Bardock.

Twitter - Kaimart
Kaimart (salah satu pemain DBFZ) mengaku terkejut menemukan pemain Vegito dari Indonesia | Sumber: Kaimart

Pertandingan Saga Japan sendiri dimulai pada tanggal 24 November 2018 kemarin, dengan Drek di pool Group P sementara Kontoru di pool Group J. Mereka bertemu dengan banyak sekali pemain Jepang yang tangguh, wajar mengingat posisi Jepang memang merupakan tuan rumah. Kontoru kandas di dua pertandingan pertama, sementara Drek sempat mencapai final lower bracket Group P sebelum akhirnya tereliminasi oleh pemain Jepang, Tahichi.

Drek vs Tahichi
Drek ketika bertanding melawan Tahichi di final lower bracket Group P

“Menurut saya, skill pemain Indonesia masih belum cukup kuat untuk melawan Tier 2 Jepang,” demikian kata Kontoru mengakui. Tier 2 yang dimaksud di sini adalah pemain lapis menengah di dunia fighting game Jepang, seperti Tahichi atau Inuchiyo. Sementara Tier 1 sendiri adalah nama-nama yang sudah langganan tampil di turnamen dunia, seperti Kazunoko, Go1, Dogura, atau Kindevu.

Menurut Bram Arman dari Advance Guard, dapat dimaklumi bila permainan para atlet Dragon Ball FighterZ Indonesia masih kalah dengan pemain Jepang, karena memang di negara ini masih banyak kendala. Selain karena jumlah pemain yang tidak terlalu banyak, online experience di sini juga cenderung sepi, beda dengan Jepang atau Amerika.

Meski belum meraih juara, kesempatan berlaga di Dragon Ball FighterZ World Tour Saga ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman seperti inilah yang dibutuhkan oleh para pemain Indonesia, agar mereka bisa belajar dari pemain-pemain luar negeri dan berkembang menjadi lebih kuat lagi. Semoga saja dengan bekal pengalaman ini, ke depannya mereka bisa lebih berprestasi lagi.

Disclosure: Hybrid merupakan media partner Advance Guard

Previous Story

Laporan Terkini Ungkap Rencana Logitech Mengakuisisi Plantronics (Updated)

Pos Indonesia to introduce fintech services consist of payment, remittance, and "peer-to-peer lending" scheme payment
Next Story

Pos Indonesia to Introduce Three Fintech Services

Latest from Blog

Don't Miss

EVO 2020 Umumkan Lineup Game yang Dipertandingkan

Lama ditunggu-tunggu, penyelenggara Evolution Championship Series (biasa disebut EVO) akhirnya

Juara Asia Regional Finals SEA Major 2019, Fujimura Langsung Maju ke Capcom Cup

Akhir pekan lalu, tanggal 12 – 13 Oktober 2019, baru