Gaming News

Perilisan Dead or Alive 6 Diundur, Koei Tecmo Siapkan Versi Demo?

08 Jan 2019 | Ayyub Mustofa
Team Ninja ingin Dead or Alive 6 layak tampil sebagai esports, bukan hanya pamer keseksian

Para penggemar yang menunggu Dead or Alive 6 harus bersabar sedikit lebih lama dari ekspektasi awalnya. Fighting game yang dulu diumumkan akan terbit pada tanggal 15 Februari, ternyata kini diundur sedikit menjadi 1 Maret 2019. Hanya terlambat dua minggu dari rencana semula. Menurut Koei Tecmo dan Team Ninja, pemunduran ini dilakukan untuk memoles kualitas dan keseimbangan permainan Dead or Alive 6 lebih jauh lagi.

“Saya sungguh meminta maaf untuk ketidaknyamanan yang muncul karena penundaan rilis Dead or Alive 6. Pengembangan judul ini sudah nyaris selesai, akan tetapi, kami ingin menggunakan lebih banyak waktu untuk lebih menyempurnakan keseimbangan, gameplay, dan ekspresivitasnya. Sebagai balasan atas kesabaran Anda, kami berkomitmen memberikan pengalaman gaming terbaik,” demikian ujar Yohei Shimbori, director sekaligus produser Dead or Alive 6 dalam pengumuman di situs resminya.

Dead or Alive 6 - Screenshot 1
Dead or Alive tak lagi hanya soal seksi | Sumber: Team Ninja

Dalam wawancara yang dilakukan Red Bull pada acara EVO 2018, Team Ninja memang menyatakan bahwa kali ini mereka ingin menciptakan Dead or Alive yang lebih serius. Dead of Alive dikenal sebagai fighting game yang mengutamakan fanservice dan menomorduakan gameplay (meskipun gameplay di dalamnya sama sekali tidak jelek). Tapi Team Ninja ingin agar image itu menghilang.

“Orang-orang mengenal (Dead or Alive) sebagai fighting game dengan karakter-karakter seksi. Tapi Anda tidak bisa menilai buku dari sampulnya, terutama untuk game yang ini,” ujar Tom Lee, creative director Team Ninja kepada Red Bull.

Dead or Alive 6 - Screenshot 2
Environmental damage, salah satu ciri khas Dead or Alive | Sumber: Team Ninja

Keseriusan ini juga didorong oleh keinginan Team Ninja untuk ikut terjun ke dunia esports. “Franchise ini selalu punya elemen-elemen yang dapat menciptakan pengalaman kompetitif fantastis,” kata Tom Lee, “Kami hanya memperkuat elemen-elemen itu.”

Bila Team Ninja ingin menciptakan ekosistem esports di sekitar Dead or Alive, salah satu kunci penting tentu membuat game ini lebih dapat dipertontonkan di hadapan orang banyak. Selain mengurangi kadar keseksian, Team Ninja menciptakan fitur-fitur visual yang akan membuat pertarungan terasa lebih buas. Misalnya fitur slow motion, serta karakter yang bisa terluka atau memar bila mendapat pukulan di bagian tubuh tertentu.

Dead or Alive 6 - Screenshot 3
Siapa karakter Dead or Alive favorit Anda? | Sumber: Team Ninja

Selain melakukan pemolesan sendiri, Team Ninja juga memberi kisi-kisi lewat Twitter tentang kemungkinan adanya versi demo atau beta dari Dead or Alive 6. “Kami harap video-video (yang kami bagikan) belakangan ini bisa membuat Anda lapar akan aksi DOA. Mungkin sudah waktunya kami memberikan kesempatan pada para petarung untuk MENGETES kemampuan mereka. Jangan lupa follow agar tak ketinggalan update,” demikian bunyi cuitan di akun resmi tersebut.

Keberadaan beta testing memang sangat penting bagi game kompetitif, apalagi yang menggunakan elemen online. Terkadang developer bisa melewatkan hal-hal kecil yang dapat memunculkan masalah atau lag. Street Fighter V dan Dissidia Final Fantasy NT pun sempat mendapatkan fase beta sebelum perilisannya. Mungkinkan Dead or Alive 6 akan berdiri sejajar dengan fighting game besar lainnya di EVO 2019 nanti? Kita tunggu saja.

Sumber: Koei Tecmo, Red Bull, EventHubs