Esports Ecosystem

Overwatch League Cari Pendapatan Ekstra dari Sponsorship

14 Aug 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Sistem monetisasi Overwatch League semakin menyerupai sistem turnamen olahraga konvensional

Sponsorship adalah sumber pendapatan terbesar dalam industri esports. Menurut Newzoo, sponsorship menyumbangkan 41,5 persen dari total pendapatan US$1,1 miliar industri esports pada tahun ini.

Tidak heran jika sponsorship masih menjadi sumber utama pendapatan industri esports. Studi dari Nielsen menunjukkan bahwa esports tidak hanya diminati oleh merek-merek endemik seperti perusahaan pembuat prosesor, komputer, dan aksesori, tapi juga oleh merek non-endemik.

Di Overwatch League, sponsorship juga merupakan sumber pendapatan penting, baik dalam penyelenggaraan turnamen atau untuk tim esports yang bermain dalam kompetisi tersebut. Belakangan, tim peserta dalam Overwatch League juga mulai memikirkan cara mendapatkan keuntungan dan tidak sekadar menjadi pemenang.

Inilah alasan mengapa Overwatch League akan mulai membantu tim-tim yang bertanding dalam turnamen itu untuk meningkatkan pendapatan dari sponsorship. Hal ini dikonfirmasi oleh CEO Activision Blizzard, Pete Vlastelica pada Sports Business Journal.

“Ini penting — kami terus mencari cara untuk memperbanyak properti yang bisa dijual ke pasar oleh para tim profesional,” kata Vlastelica, seperti yang dikutip dari Esports Observer. “Kami juga terus mencari cara untuk mendekatkan rekan dalam liga untuk dengan para tim profesional.”

Saat ini, Overwatch League hanyalah salah satu dari banyak turnamen esports yang ada. Salah satu hal yang membuat kompetisi tersebut menjadi unik adalah karena tim-tim yang bertanding menjadi perwakilan dari sebuah kota atau kawasan. Sistem ini serupa dengan sistem yang digunakan oleh pertandingan olahraga tradisional.

Biasanya, turnamen esports mengadu tim-tim profesional tak peduli darimana mereka berasal. Di Indonesia, kebanyakan tim esports profesional masih berasal dari Jakarta, meski mereka merekrut pemain dari berbagai daerah.

Kemiripan Overwatch League dengan turnamen olahraga konvensional tak berhenti sampai di situ. Mulai tahun depan, Overwatch League juga akan menggunakan sistem kandang-tandang, mengharuskan semua tim yang ikut serta memiliki stadion markas sendiri.

Dari segi monetisasi, Overwatch League juga mirip dengan turnamen olahraga tradisional. Selain sponsorship, Overwatch League mendapatkan uang dari menjual hak siar pada media, penjualan tiket, serta merchandise.

Sekarang, Overwatch League ingin membantu para tim untuk mendapatkan sumber pendapatan ekstra dari sponsor. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan eksposur sponsor saat pertandingan disiarkan.

Menurut Esports Observer, beberapa narasumber yang tahu tentang hal ini menyebutkan bahwa salah satu cara yang tengah dipertimbangkan adalah membuat agar logo para sponsor tampil lebih lama dalam siaran. Dengan begitu, tim di Overwatch League akan dapat mencari sponsor lokal.

Cara lain yang dipertimbangkan oleh Overwatch League adalah berhenti menawarkan eksklusivitas di salah satu kategori sponsorship. Menurut BizFluent, ada empat jenis sponsorship: sponsor finansial, sponsor media, rekan promosi, dan sponsor yang menyediakan layanan saat sebuah acara berlangsung.

Overwatch League tidak menjelaskan kategori apa yang akan mereka buka. Sejauh ini, beberapa rekan mereka adalah Bud Light, Coca-Cola, Intel, Omen by HP, T-Mobile, Toyota, dan State Farm.

Meski sering disebut sebagai industri besar yang tengah berkembang pesat, masih belum ada cara pasti bagi pelaku esports untuk mendapatkan keuntungan yang sustainable. Menarik untuk melihat bagaimana turnamen esports menggunakan cara yang berbeda-beda untuk mendapatkan pendapatan.

Sumber: Esports Observer, Fortune