Dark
Light

Nyawa Go-Jek Sebagai Startup Digital Tak Bisa Diukur dengan Metrik Tradisional

2 mins read
November 3, 2015

Go-Jek mulai besok tersedia di Makassar / Go-Jek

Keputusan Go-Jek untuk menurunkan tarif dan insentif untuk pengemudi disambut negatif oleh para pengemudi mitranya. Dinilai mengurangi potensi penghasilan, para pengemudi mengancam akan mogok kerja. Skema ini dijalankan Go-Jek untuk menyeimbangkan kesehatan arus kas yang dikabarkan merugi. Tidak sedikit pihak yang menanggapi hal ini sebagai akhir dari popularitas Go-Jek sebagai layanan pemesanan transportasi ojek online. Apakah Go-Jek hanyalah “bubble” sesaat lalu meletup dan menghilang begitu saja?

Go-Jek telah menjadi top-of-mind startup digital Indonesia dalam waktu kurang dari setahun belakangan ini. Berbasiskan teknologi, Go-Jek “mengganggu” tatanan layanan transportasi konvensional dan memperkenalkan bagaimana layaknya sebuah perusahaan digital bergerak. Pihaknya secara agresif memberikan tarif promo demi mengakuisisi pengguna dalam jumlah masif dalam waktu yang relatif singkat. Meninggalkan banyak pertanyaan bagi pihak-pihak yang kurang memahami bagaimana startup bekerja.

Bagi yang belum terlalu akrab, mungkin bisa dimulai dengan mendengarkan kisah tentang mahasiswa drop out dari universitas yang mendadak menjadi miliarder setelah membangun aplikasi maupun produk IT di kamar atau garasi rumah mereka.

Berangkat dari sekedar ide, seseorang dapat ikut bermain dalam industri digital dan berperan “mengganggu” layanan konvensional dalam kesempatan yang nyaris sama. Skalabilitas menjadi faktor pembeda yang esensial dalam bisnis ini, itulah sebabnya mayoritas startup memilih untuk menanggung beban biaya dari tiap akuisisi pengguna sebagai bukti bahwa mereka mampu tumbuh dan layanannya bisa diadopsi dengan masif dalam waktu sesingkat-singkatnya. Market yang besar dan tervalidasi bisa memancing siapapun untuk terjun sebagai kompetitor dari sebuah layanan, persaingan memaksa pemainnya untuk terus berinovasi. Namun pada akhirnya akan ada satu market leader dari tiap-tiap vertikal industri yang paling dominan, dengan pengguna terbanyak yang bisa menjadi salah satu parameter utamanya.

Lihat saja bagaimana Go-Jek bersaing dengan GrabBike, BlueJek, Topjek, Ladyjek, dan layanan sejenisnya. “Mudahnya” membangun perusahaan digital nyatanya berbanding lurus dengan turut mudahnya perusahaan tersebut runtuh dan menutup layanan. Dominasi market leader menyisakan ruang gerak yang sangat sempit bagi pemain yang bergerak lambat dan tak ada skalabilitas.

Go-jek di jalanan Jakarta / DailySocial

Beberapa waktu lalu VP Business Development Ideosource Andrias Ekoyuono berujar bahwa untuk meraih lalu mempertahankan posisi market leader, startup harus menjaga momentum. Prosesnya memang begitu menyakitkan karena tak hanya melibatkan banyak uang, para pendiri harus mengasah skillset, networking, dan lain sebagainya. Menariknya, menurut Andrias proses tersebut dialami lebih menyakitkan oleh market runner-up untuk mengejar ketertinggalannya.

Kondisi yang sekarang dialami Go-Jek, mengantarkan opini publik pada asumsi bahwa perusahaan digital tersebut takkan berumur panjang. Ketua DPD Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan sendiri meramalkan Go-Jek akan ditinggalkan pelanggannya oleh para pengguna bila nantinya subsidi pada layanan mereka dicabut.

Sejatinya startup lifecycle adalah berkisar tentang validasi ide, launching produk, scaling, lalu menuju initial public offering (IPO) atau akuisisi. Pivot maupun penyesuaian layanan akan terus dijalankan sebagai bagian pencarian jati diri. Dengan basis pengguna yang masif di Indonesia, Go-Jek telah memiliki modal untuk bisa leluasa bereksperimen pada layanan-layanan yang sekiranya mampu meraih cakupan market yang besar. Kalaupun pada akhirnya Go-Ride akan berakhir (yang mana saya percaya tidak akan terjadi dalam waktu setidaknya setahun ke depan), Go-Jek masih memiliki Go-Mart, Go-Send, Go-Food, Go-Box, dan go-go lainnya di waktu mendatang.

Mungkin saja Go-Jek saat ini merelakan kenyamanan driver demi mengakuisisi pengguna yang signifikan sebagai showcase untuk melakukan putaran pendanaan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Carousell sediakan platform web untuk jangkau lebih banyak pengguna / Shutterstock
Previous Story

Carousell Akhirnya Sediakan Web Platform

Next Story

Lima Poin Penting Pola Pikir Pendiri Startup Menurut Kevin Rose

Latest from Blog

nubia V60 Design Hadir di Indonesia

ZTE Mobile Devices Indonesia secara resmi memperkenalkan smartphone terbarunya, nubia V60 Design di Indonesia. Smartphone ini dirancang dengan menghadirkan estetika dan teknologi,

Don't Miss

Kesuksesan membangun bisnis dipengaruhi berbagai hal, salah satunya "timing" atau momentum yang tepat

Pentingnya Startup Menangkap Momentum

“Momentum adalah hal yang tidak kekal, selalu naik dan turun.

Menyusuri Tanah Berbatu: Perjalanan Gojek Menuju Bursa Saham

Gojek lahir dari rasa frustrasi co-founder dan mantan CEO Nadiem