Dark
Light

[Manic Monday] Sentuhan Manusia Dalam Era Hiburan Digital

2 mins read
February 3, 2014

Minggu lalu saya menulis tentang perbandingan industri musik di Indonesia maupun di Vietnam. Perbedaan yang paling mencolok adalah tidak adanya major label, sehingga struktur industri yang biasanya ada dari perputaran lagu baru dan lama, siklus promosi dan media, bahkan distribusi musik sekalipun, dilakukan dengan berbeda. Aliran uang pun berbeda karena di negara lain umumnya infrastruktur distribusi rekaman musik itu sudah ada (seperti toko kaset dan CD) dan alur distribusinya dari perusahaan rekaman, gudang, distributor, hingga toko. Di Vietnam, toko khusus kaset dan CD tidak ada  — kalaupun sebelumnya ada, isinya barang-barang bajakan dan sudah lama hilang.

Yang ingin saya soroti lebih rinci di sini adalah proses promosi sebuah lagu — dan secara otomatis, artis yang menyanyikannya. Umumnya di Indonesia, sebuah “lagu baru” akan didistribusikan ke radio dan media lain, terkadang dengan rilisan pers, atau bahkan konferensi pers. Lagu ini akan diputar dan dibahas oleh media hingga publik makin menyukainya (atau tidak), sehingga bila tiba saatnya mulai menjual lagu atau albumnya, lagu tersebut sudah mendapatkan pengenalan yang maksimal ke publik, menaikkan kemungkinannya untuk mendapatkan penjualan yang tinggi.

Siklus “mendorong lagu baru, melupakan yang lama” ini penting untuk semua pelaku industri musik rekaman, karena media (seperti radio) pasti membutuhkan konten supaya pendengar kembali secara terus-menerus. Adanya “lagu baru” yang bisa dijual tentunya merupakan bahan jualan baru dan menjadi sumber pemasukan baru.

Untuk membentuk kebiasaan membedakan “lagu baru” dan “lagu lama” ini, sejak lama media seperti radio memiliki radio chart sendiri. Radio chart pada intinya mencerminkan tingkat popularitas lagu di suatu periode dan diperbarui setiap minggu. Chart ini selain dipengaruhi oleh song request dari pendengar, juga banyak dipengaruhi oleh music director sebuah radio.

Meskipun chart lagu-lagu seperti ini layaknya mencerminkan popularitas sebuah lagu di industri secara keseluruhan (radio play, penjualan kaset dan CD, atau bahkan format digital), di Indonesia sebenarnya belum ada chart yang sebanding dengan chart Billboard. Chart Billboard sedikit banyak mencerminkan lagu apa yang sedang disukai masyarakat dan bukan lagu yang sedang diusahakan terkenal oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Perlahan banyak radio pun sudah mulai meninggalkan chart demi hanya memainkan lagu-lagu hits.

Persoalan mengenai “lagu hits” versus “lagu baru yang sedang dipromosikan” ini mirip dengan persoalan yang dialami oleh Twitter dengan Trending Topics beberapa tahun lalu. Semula Trending Topics akan menampilkan apapun yang paling banyak dibicarakan saat itu. Pada akhirnya selama berbulan-bulan Justin Bieber menjadi trending topics paling atas di media sosial tersebut.

Karena kasus ini dan protes pengguna, Twitter mengubah algoritma Trending Topics-nya menjadi lebih mendekati “apa yang baru yang sedang dibicarakan di Twitter”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sebenarnya yang lebih relevan untuk pengguna itu yang mana? Yang ‘baru’ atau ‘hits’?”

Menurut saya, kedua hal itu penting. Manusia memiliki rasa bosan, sehingga selalu perlu diberikan hal-hal baru (atau dipersepsikan baru, seperti shampoo yang diberikan branding berbeda padahal isinya sama saja). Tapi manusia juga terkadang akan terpaku di satu hal yang ia sukai, seperti lagu lama yang didengarkan terus-menerus.

Adanya layanan-layanan digital masa kini membuat lagu hits dan lagu baru lebih mudah dilacak pergerakannya. Hal itu bisa dicapai dengan/tanpa dorongan kebutuhan promosi ataupun seorang music director  — karena toh music director bertanggung jawab atas keseluruhan konten musik sebuah radio atau layanan, bukan hanya charts.

Jika kita membiarkan sebuah industri berbasis konten dikuasai oleh algoritma dan angka, rasa kemanusiaan yang terkandung di tiap lagu akan hilang. Sentuhan manusia, justru makin penting di masa hiburan digital. Selain konten sudah sedemikian banyaknya, torehan kurasi konten (curated content) itu, baik untuk “lagu baru” atau “lagu hits”, yang akan menentukan setia atau tidaknya para pelanggan.

Ario adalah co-founder Ohdio, layanan streaming musik asal Indonesia. Ario bekerja di industri musik Indonesia dari tahun 2003 sampai 2010 dan sempat bekerja di industri film dan TV di Vietnam. Anda bisa mengikuti akunnya di Twitter @barijoe atau membaca blog-nya di http://barijoe.wordpress.com.

[Ilustrasi foto: Shutterstock]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous Story

Pasar Tablet Tembus Angka 200 Juta Unit, Naik 50% Selama 2013

Next Story

Akankah Nexus 5 Warna Merah Hadir di Indonesia?

Latest from Blog

Don't Miss

Mencermati Tempat NFT Di Industri Musik

Tak lama setelah lulus kuliah, saya sudah bekerja di industri
Meskipun platform streaming musik lokal masih sulit bersaing dengan platform global, podcast mungkin menjadi penentu masa depan platform musik.

Lagu Sendu untuk Aplikasi Streaming Musik Lokal

Peta persaingan aplikasi streaming musik di Indonesia hari ini ramai