Dark
Light

[Manic Monday] Menghindari Digital Hanya Untuk Digital

2 mins read
May 20, 2013

Kumpul-kumpul diskusi kelompok Musik, Kewirausahaan dan Teknologi yang kedua sukses terlaksana hari Sabtu lalu, menampilkan beberapa diskusi yang menarik, yang digawangi oleh beberapa pembicara yang piawai di bidangnya. Oon sempat bercerita soal pembuatan aplikasi mobile untuk musik, kemudian Arian menjelaskan potensi bisnis yang datang dari music merchandising. Bangwin, yang sudah belasan tahun berkecimpung di digital communities, menceritakan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dalam mengelola komunitas fans, dan Ricky Andrey membagikan sesuatu yang menarik: melihat band sebagai startup dari sisi legal.

Tujuan forum ini memang untuk menyediakan tempat diskusi, tukar pendapat dan sharing ilmu untuk para pegiat dan pemerhati industri musik, yang mudah-mudahan memberi landasan ilmu dan ide yang sama untuk memajukan industri musik Indonesia secara umum. Semakin banyak orang yang terlibat, baik dari dalam industri maupun dari luar industri, semakin baik, karena semuanya akan menyumbangkan sesuatu pada wacana perkembangan industri musik. Seperti yang telah saya sering ceritakan lewat kolom ini, semakin banyak pihak yang terlibat dalam pengembangan industri musik, semakin baik, dan semakin baik lagi kalau semua pemain ini terhubung dalam sebuah ekosistem yang saling mempengaruhi dan saling menguntungkan. Jadi, ekosistem harus membesar, dan menciptakan situasi yang menganjurkan simbiosis mutualisme antara fans, musisi dan pekerja industrinya.

Ada satu hal yang menarik muncul dari bagian diskusi yang dipimpin oleh Bangwin, yaitu adanya band atau label yang menciptakan akun media sosial hanya demi ‘ada’. Akun media sosial ini, baik itu di Twitter, Facebook, atau bahkan sebagai akun chat pada layanan seperti LINE atau KakaoTalk, banyak hanya digunakan untuk informasi mengenai jadwal manggung, rilisan album bahkan kode RBT yang bersifat satu arah, dan tidak banyak melakukan interaksi berarti dengan fans, yang padahal secara praktis adalah konsumen produk band atau label itu sendiri. Sayangnya, fenomena ini tidak terbatas pada media sosial.

Tidak terbatas di musik – banyak pihak yang seolah ‘memaksakan’ diri untuk, misalnya, bikin akun media sosial untuk kantornya, atau mencari cara untuk menjual kontennya secara online, yang dilakukan seperti seolah-olah untuk memenuhi “syarat” belaka, dan tidak dikelola dan distrategikan dengan baik. Seperti semacam menandakan wilayah, sementara wilayahnya sendiri dibiarkan relatif kosong dan sepi. Musik yang diupayakan dijual lewat iTunes, “hanya” dipromosikan dengan sekali tweet atau dua tweet, dan hanya dengan cara seperti pengumuman saja ke followersnya. Walaupun memang dalam banyak hal, menyiapkan sebuah identitas online untuk sebuah band atau brand itu bisa dengan biaya relatif sedikit, sikap ini bisa berimbas turunnya brand equity yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Kesalahan-kesalahan – ya, saya sebut ini kesalahan ya, bukan kekeliruan – seperti ini bisa sebodoh tidak mencantumkan alamat website yang sudah dibuat dengan susah payah pada media pemasaran yang lain. Digital bukan dunia khayal yang terlepas dari kehidupan kita sehari-hari, karena seharusnya sebuah ‘kehadiran’ di ranah digital itu merupakan perpanjangan tangan dan bagian yang menyatu dengan seluruh kegiatan band atau brand. Sebuah website itu adalah rumah atau kantor yang berisi segala hal yang ingin kita sampaikan pada pelanggan kita, dan alangkah lebih baik ada sebuah ruang tamu di mana mereka dapat berbincang dengan kita atau dengan sesama pelanggan lain. Media-media digital ini bukan corong satu arah, tapi merupakan titik temu yang mudah dikomunikasikan ke banyak pihak, dan digunakan untuk bergerak ke berbagai komunikasi selanjutnya.

Begitupun penjualan konten secara digital. Yang beli konten kita itu masih orang, bukan bot atau program. Memang pembelian tersebut akan dilakukan melalui berbagai pihak yang membantu soal pembayaran maupun distribusi produknya ke pelanggan, tapi yang mengambil keputusan beli atau tidak, berlangganan atau tidak itu ya manusia juga. Jadi, sisi manusianya perlu dipikirkan juga sebelum melakukan sebuah usaha penjualan digital. Pelanggan saya siapa, dan di mana mereka? Apakah sebuah strategi digital akan mempermudah saya menjual sesuatu ke mereka atau tidak? Apakah mereka mau membayar; dan kalau mau, bagaimana cara yang paling mudah untuk mereka? Dan tentunya, kita tidak akan bisa 100% mengenal pelanggan kita siapa, kecuali kita membuka pembicaraan dua arah dengan mereka. Media digital mempermudah pembicaraan ini terjadi pada skala besar.

Jadi, jangan pancang tiang saja di toko atau media digital apapun yang ada – pastikan investasi waktu dan uang yang dikeluarkan itu ada tujuan yang lebih dari sekedar teritorial. Manfaatkan sifat ranah digital yang multifungsi untuk memperkaya pengalaman band atau brand, dan tingkatkan diskusi dengan pelanggan untuk meningkatkan kesetiaan, atau paling tidak menambah pengetahuan soal pelanggannya sendiri.

Ario adalah co-founder dari Ohd.io, layanan streaming musik asal Indonesia. Ario bekerja di industri musik Indonesia dari tahun 2003 sampai 2010, sebelum bekerja di industri film dan TV di Vietnam. Anda bisa follow akunnya di Twitter – @barijoe atau membaca blog-nya di http://barijoe.wordpress.com.

Previous Story

Pengumuman Yahoo Akuisisi Tumblr Akan Segera Dirilis

Next Story

YouTube Ulang Tahun Kedelapan, Kini Lebih dari 100 Jam Durasi Video Diunggah Tiap Menit

Latest from Blog

Don't Miss

utimaco-hadirkan-solusi-keamanan-data-terkini-untuk-pelaku-industri-di-indonesia

Utimaco Hadirkan Solusi Keamanan Data Terkini untuk Pelaku Industri di Indonesia

Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil melebihi 5% sejak

Mencermati Tempat NFT Di Industri Musik

Tak lama setelah lulus kuliah, saya sudah bekerja di industri