Gaming News

Google Indie Games Accelerator 2018, Ajang Pertapaan Developer Game Delapan Negara

30 Nov 2018 | Ayyub Mustofa
Menurut developer peserta bootcamp, aspek terbaik IGA 2018 adalah para mentornya

Google baru saja menyelesaikan program bootcamp yang digelar untuk developer mobile game dari delapan negara—India, Indonesia, Malaysia, Paksitan, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Berjudul Indie Games Accelerator 2018 (IGA 2018), program ini bertujuan untuk melejitkan pertumbuhan mobile game di negara-negara tersebut, dan melibatkan sejumlah mentor dari perusahaan-perusahaan game top dunia dalam sebuah kurikulum yang komprehensif.

Google menyebut Indie Games Accelerator sebagai “edisi spesial dari program Launchpad Accelerator”. Artinya, IGA 2018 bukan hanya membantu para developer menciptakan game yang menarik, tapi juga mengajarkan mereka cara mendirikan perusahaan yang sustainable untuk jangka panjang. Membuat sebuah game dan membuat sebuah perusahaan game adalah dua hal yang berbeda, dan Google ingin agar para studio game dapat melakukan keduanya secara maksimal.

Indie Games Accelerator 2018 - Cohorts
Beberapa peserta IGA 2018 | Sumber: Dokumentasi Google

Seleksi ketat 30 peserta

IGA 2018 adalah program IGA pertama yang diadakan Google. Untuk saat ini, Google hanya menargetkan delapan negara di atas, namun mereka juga ingin melebarkan jangkauan ke wilayah lainnya di masa depan. “Kami ingin memastikan bahwa Google Play mendukung dan memberdayakan developer game dari skala apa pun dan dari negara apa pun,” demikian kata Kunal Soni, Director of Business Development Google Play SEA & India.

Selama masa registrasi tanggal 27 Juni – 31 Juli 2018 lalu, Google telah menerima pendaftaran dari beribu-ribu developer, dan menyaring semuanya jelas bukan hal mudah. Pada akhirnya, terpilih 30 developer yang menjalani bootcamp Indie Games Accelerator perdana ini. Berikut ini daftar developer tersebut.

India:

  • 2Pi Interactive
  • Bombay Play
  • GoLIVE Games Studio
  • Jambav
  • Lucid Labs
  • Octathorpe Web Consultant
  • Threye Interactive
  • Underdogs Gaming Studio

Indonesia:

Indie Games Accelerator 2018 - Kunal Soni
Kunal Soni menjelaskan isi program mentorship IGA 2018 | Sumber: Dokumentasi Google

Malaysia:

  • Gameka

Pakistan:

  • Dreamnode Studios
  • we.R.play

Filipina:

  • MochiBits
  • Monstronauts

Singapura:

  • Battle Brew Productions
  • Boomzap
  • The Gentlebros
  • Springloaded
  • Touch Dimensions

Thailand:

  • Bit Egg
  • Extend Interactive
  • Urnique Studio

Vietnam:

  • Beemob Hanoi Studio
  • CSCMobi
  • Gemmob Studio
  • Suga Studio
  • Tope Box
  • WolfFun Game

Tiga puluh developer ini kemudian mengikuti bootcamp dan bimbingan secara intensif bersama pembicara dan mentor yang merupakan pakar industri game dari seluruh dunia. Termasuk di antaranya Rami Ismail dari Vlambeer, Mark Skaggs dari Electronic Arts, Alvin Chung dari Rayark, Jay Santos dari Unity, Angelo Lobo dari Zynga, dan banyak lagi! Anda yang familier dengan dunia game indie pasti sudah akrab dengan nama-nama mentor atau perusahaan tersebut.

“Bagian terbaik dari program ini adalah para mentornya,” kata Howard Go dari MochiBits. “Mereka dapat memberi tahu kita kenyataan-kenyataan pahit di lapangan dan bagaimana cara mengatasinya.” Interaksi antara para mentor dan developer peserta IGA memang terjadi dengan sangat dekat dan intens. Para mentor dikenal sebagai pakar di bidangnya masing-masing, jadi mereka selalu dapat memberikan feedback tajam dan tepat sasaran. Terkadang, wawasan dari para mentor itu bahkan sama sekali tak terpikirkan oleh developer sebelumnya.

Indie Games Accelerator 2018 - David McLaughlin
David McLaughlin dalam konferensi pers IGA 2018 | Sumber: Dokumentasi Google

Pilar-pilar utama Indie Games Accelerator 2018

“Kami tidak ingin game untuk menjadi one hit wonder saja. Kami ingin menciptakan perusahaan-perusahaan yang sustainable di seluruh Asia, yang dapat membuat game hit lagi dan lagi,” demikian kata David McLaughlin, Director of Global Developer Ecosystem di Google. Untuk mencapai hal itu, program IGA tidak memiliki tiga pilar utama yang disebut Discovery, Mentorship, dan Recognition.

Discovery atau Penemuan adalah tahap pencarian developer-developer bertalenta melalui seleksi. Kemudian Mentorship atau Bimbingan adalah inti dari program IGA itu sendiri, di mana para developer diajarkan berbagai best practice dalam pengembangan game maupun manajemen perusahaan. Terakhir, Recognition atau Pengakuan adalah tahap di mana Google memberi reward, baik jangka pendek ataupun jangka panjang, untuk membantu kesuksesan developer-developer itu.

Hal yang membuat IGA unik dibanding bootcamp lainnya adalah kurikulum mentorship yang didesain khusus untuk acara ini. Kurikulum tersebut meliputi lima proses tahapan, yaitu:

  • BUILD – Game Development & Design
  • GROW – Business Development
  • EARN – Monetization and User Connections
  • TEST – Game Testing
  • LEAD – Building A Company
Indie Games Accelerator 2018 - Mentors
Mentor IGA 2018, Mark Skaggs (EA) dan Kamina Vincent (Mountains Games) | Sumber: Dokumentasi Google

Tiga tahap yang paling menjadi perhatian intensif dalam kurikulum ini adalah BUILD, TEST, dan LEAD. Google paham bahwa di tengah banyaknya mobile game yang beredar dewasa sekarang, tak ada lagi ruang untuk game berkualitas jelek. Oleh karena itu Google benar-benar menghabiskan banyak waktu di tahap BUILD untuk memastikan game buatan peserta IGA berjalan dengan baik di semua platform.

Google memiliki tools tersendiri untuk deteksi bug, pelaporan eror, dan sebagainya. Dengan memberikan akses tools tersebut pada para peserta, mereka bisa langsung tahu device apa saja yang memiliki risiko terjadinya bug atau crash. Ini membantu para developer untuk meluncurkan game dalam keadaan sudah terpoles sangat baik.

Selain itu, TEST adalah tahap yang unik di IGA. Perusahaan-perusahaan developer besar umumnya memiliki divisi tersendiri untuk melakukan testing secara menyeluruh. Bahkan di luar sana ada perusahaan-perusahaan yang bergerak khusus di bidang game testing. Tapi developer indie tidak memiliki sumber daya semacam ini. Google menyediakan sumber daya testing bagi para developer, baik itu berupa automated test maupun tes manual dari para mentor.

“Kami mengajarkan startup untuk melakukan iterasi dan beradaptasi. Di sini kami pun melakukan hal yang sama,” ujar McLaughlin. IGA mengajarkan studio-studio game teknik manajemen perusahaan dengan metode OKR (Objectives and Key Results). Menurut beberapa peserta, metode ini benar-benar mengubah cara mereka mengatur perusahaan, dan membuat mereka dapat melihat masa depan secara lebih pasti. Google sendiri sudah mengadopsi sistem OKR sejak lama, dan mereka merupakan bukti nyata keberhasilan metode tersebut.

Di tahap LEAD, IGA memiliki sesi khusus yang disebut LeadersLab. Google menginvestasikan banyak waktu dan tenaga untuk menciptakan para pemimpin yang hebat, berani berbicara tentang kegagalan, dan mampu bekerja sama dengan sesama co-founder. LeadersLab sebelumnya juga sudah ada di program LaunchPad Accelerator. Ini adalah salah satu cara Google melatih perusahaan-perusahaan baru agar dapat tumbuh menjadi perusahaan dengan bisnis yang sehat.

Indie Games Accelerator 2018 - Gaco Games
Gaco Games di upacara kelulusan IGA 2018 | Sumber: Dokumentasi Hybrid

IGA 2018 hanyalah langkah awal

Indie Games Accelerator kini telah berakhir, dan seluruh peserta telah melalui upacara “wisuda” di kantor Google Asia Pacific di Singapura. Akan tetapi ini bukanlah akhir dari perjalanan mereka. Justru semua baru dimulai.

Satu hal yang mungkin terkesan sepele namun sebetulnya berpengaruh besar dari IGA 2018, adalah kesempatan para developer untuk menciptakan sebuah komunitas developer yang kuat. Pertemuan dengan sesama developer game indie dari berbagai negara, serta perkenalan dengan pakar industri game dari seluruh dunia, semuanya merupakan hal berharga yang akan membuka banyak opotunitas menarik di masa depan.

“Ada beberapa developer dari Vietnam yang sejak awal bootcamp selalu berkumpul untuk minum-minum setiap malam. Kini setelah program berakhir ternyata mereka membentuk asosiasi developer game di Vietnam,”kata Marcus Foon, Program Manager Google dalam bincang-bincang singkat dengan Hybrid. Kejadian tadi hanya salah satu contoh bagaimana IGA dapat memunculkan manfaat di luar bootcamp itu sendiri. Satu studio peserta lain bahkan berhasil menjalin kerja sama dengan publisher besar lewat acara ini. Para peserta IGA juga telah menjalin ikatan sendiri secara organik, misalnya lewat grup WhatsApp atau interaksi-interaksi lainnya.

Indie Games Accelerator 2018 - Booth
Pengunjung dapat mencoba game buatan peserta bootcamp | Sumber: Dokumentasi Hybrid

Bagi para developer senior, Google Indie Games Accelerator adalah kesempatan mereka untuk berkontribusi kembali ke dunia industri ini. Itulah salah satu sisi menariknya industri game, terutama game indie. Dengan pasar yang begitu besar, banyak developer bisa sama-sama sukses tanpa harus menganggap satu sama lain saingan. Mereka juga selalu terbuka untuk berbagi ilmu dengan developer lain, dan mereka ingin semua developer sukses bersama-sama.

“Ketika saya baru memulai dulu, saya sangat terbantu oleh para developer lain yang berkenan membagikan pengetahuan kepada saya. Sekarang saatnya saya melakukan hal yang sama untuk developer baru lainnya,” demikan ujar Kamina Vincent, salah satu mentor dari Mountain Games Studio.