26 January 2018

by Glenn Kaonang

Spire Studio Ibarat Studio Rekaman Profesional yang Bisa Dibawa-bawa

Tanpa aksesori atau dongle ekstra, sesi jamming dadakan bisa langsung direkam dan diproses secara profesional

Kehadiran smartphone dan aplikasi pendukung seperti GarageBand memungkinkan sesi rekaman musik untuk dilangsungkan di mana saja dan kapan saja. Namun pada prakteknya kita masih membutuhkan sejumlah aksesori pendukung, macam iRig untuk menyambungkan gitar, atau yang sesederhana mic eksternal dikarenakan mikrofon milik smartphone sudah pasti payah.

Lain halnya dengan Spire Studio. Perangkat berdimensi kurang lebih sekepalan tangan ini ibarat studio rekaman profesional yang bisa dengan mudah diselipkan ke dalam tas. Latar belakang pengembangnya sebagai ahli software untuk mixing dan mastering audio adalah alasan untuk tidak menyepelekan wujud mungilnya.

Kalau disuruh memilih satu kata kunci untuk menggambarkan kelebihan Spire Studio, jawabannya adalah konektivitas. Di bagian depannya ada sebuah mikrofon dan jack headphone, sedangkan di belakang ada jack headphone lagi, plus dua jack XLR/TS yang ditenagai oleh preamp besutan Grace Design, serta phantom power 48V untuk mikrofon kondensor.

Semua tombol pengoperasiannya terletak di atas, termasuk tombol untuk melakukan soundcheck, di mana Spire akan memonitor audio di sekitarnya dan menyesuaikan input level-nya secara otomatis. Melengkapi itu semua adalah kemampuan untuk menciptakan jaringan Wi-Fi sendiri, sehingga semua yang direkam bisa diteruskan ke aplikasi pendamping di iPhone atau iPad secara wireless.

Spire memungkinkan pengguna untuk merekam hingga delapan track atau layer yang berbeda, yang berarti gitar, vokal, drum dan lainnya bisa dipisahkan satu sama lain. Setiap layer-nya ini juga bisa diedit secara terpisah di aplikasinya, sebelum akhirnya digabungkan menjadi satu untuk dibagikan ke platform seperti SoundCloud, atau diproses lebih lanjut menggunakan Digital Audio Workstation (DAW).

Agar kualitas suaranya bisa maksimal, Spire merekam semuanya dalam format FLAC (lossless). Perangkat sanggup menyimpan total enam jam hasil rekaman, sedangkan baterainya bisa bertahan selama sekitar empat jam penggunaan sebelum perlu diisi ulang.

Spire Studio pada dasarnya merupakan solusi tepat bagi mereka yang hendak menyalurkan naluri bermusiknya yang sering kali muncul secara tak terduga. Ketimbang harus membawa bermacam aksesori dan dongle seperti yang saya jelaskan di awal tadi, satu perangkat kecil ini sudah bisa menemani sesi jamming dadakan dari awal sampai akhir. Jika berminat, Spire Studio sudah bisa dibeli seharga $349.

Sumber: The Verge.