HuggingChat Ramaikan Tren Alternatif Open-Source ChatGPT

1 min read
May 2, 2023
HuggingChat, alternatif open-source ChatGPT

Semakin hari pesaing ChatGPT semakin bertambah. Salah satu yang terbaru datang dari Hugging Face. Platform yang sering disebut-sebut sebagai ‘GitHub-nya sistem artificial intelligence (AI)’ itu pekan lalu memperkenalkan chatbot AI-nya sendiri yang mereka beri nama HuggingChat.

HuggingChat sudah bisa diakses langsung oleh publik melalui situs resminya, atau melalui aplikasi maupun layanan yang memanfaatkan API milik Hugging Face. Sesuai dugaan, HuggingChat mampu melakukan banyak hal yang menjadi daya tarik utama ChatGPT, mulai dari menulis email, coding, maupun menulis lirik lagu.

Salah satu faktor pembeda utamanya adalah, HuggingChat merupakan sebuah proyek open-source. Model AI yang menjadi basisnya berasal dari Open Assistant, sebuah proyek yang dikembangkan oleh organisasi nirlaba LAION — yang sendirinya bertanggung jawab atas pembuatan dataset yang dipakai untuk melatih AI pembuat gambar Stable Diffusion.

Co-founder sekaligus CEO Hugging Face, Clement Delangue, percaya bahwa ada tempat bagi sebuah chatbot AI yang lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang ChatGPT.

“Saya percaya bahwa kita membutuhkan alternatif open-source dari ChatGPT demi mendapatkan transparansi, inklusivitas, akuntabilitas, dan distribusi kekuasaan yang lebih baik,” tulis Clement di Twitter. Ia tidak lupa menjelaskan bahwa HuggingChat sejauh ini baru sebatas prototipe tahap awal yang punya banyak keterbatasan.

Ya, sama seperti ChatGPT, Bing, dan deretan chatbot AI lainnya, HuggingChat pun tidak luput dari kecenderungan untuk berhalusinasi alias mengarang jawaban. Untungnya, Hugging Face tidak lupa menyelipkan sejumlah filter untuk mencegah HuggingChat dieksploitasi dan melontarkan respons-respons yang membahayakan. HuggingChat bahkan bakal menolak merespons prompt yang dinilai toxic.

HuggingChat bukan satu-satunya alternatif open-source ChatGPT yang tersedia saat ini. Hanya beberapa hari sebelum peluncuran HuggingChat, Stability AI (pengembang Stable Diffusion) lebih dulu merilis chatbot AI open-source yang bernama StableLM.

Keberadaan sejumlah chatbot AI open-source ini mungkin memicu kecemasan tersendiri bagi sejumlah pihak, terutama yang khawatir sistem AI semacam ini bakal disalahgunakan untuk tujuan jahat, seperti misalnya menulis email penipuan.

Meski hal itu ada benarnya, kenyataannya model AI komersial dan tertutup seperti ChatGPT pun tidak luput dari risiko eksploitasi. Jadi selagi topik ini masih diperdebatkan, sepertinya tren AI open-source masih akan terus berlanjut ke depannya.

Sumber: TechCrunch.

apa itu deepfake
Previous Story

Deepfake: Definisi dan Contoh Penggunaan Agar Anda Bisa Waspada

pentingnya-kamera-depan-smartphone-1
Next Story

Alasan Kenapa Anda Membutuhkan Smartphone dengan Kamera Depan yang Lebih Bagus

Latest from Blog

Don't Miss

Penggunaan AI di Samsung Galaxy Foldable Makin Diminati di Asia Tenggara, Ini Buktinya!

Minat masyarakat modern terhadap fitur kecerdasan buatan (AI) terintegrasi pada

Kisah Sukses Anak Muda Bali: Rintis Usaha Modal Rp500 Ribu dengan ChatGPT sebagai Mentor Bisnis

Memulai bisnis dari nol sering kali menjadi jalan terjal bagi