Esports Ecosystem

Gravity Game Link dan Peran Publisher Dalam Ekosistem Game Indonesia

10 Jan 2020 | Akbar Priono
Membuat game lokal bukan merupakan satu-satunya jalan untuk menambal kebocoran kas negara karena game.

Tanggal 9 Januari 2020 kemarin, salah satu pengembang asal Korea Selatan, Gravity Co.Ltd, menyelenggarakan acara bertajuk Gravity Day di XXI Plaza Senayan, Jakarta. Gelaran tersebut menjadi ajang bagi Gravity mengumumkan beberapa hal, mulai dari strategi pemasaran salah satu IP terbesar mereka, Ragnarok, di Indonesia, pengumuman game terbaru yang akan rilis, Brand Ambassador, dan lain sebagainya.

Gravity Game Link, berbagai game baru dan Ragnarok Festival di tahun 2020

Sebelumnya, ada Lyto Games yang menjadi publisher dari game Ragnarok Online, yang rilis pertama kali pada tahun 2003 lalu. Beberapa tahun berlalu, layanan Ragnarok Online sempat dipindah menjadi RO Gravindo. Lalu akhirnya pada Januari 2019 kemarin, kerja sama antara Lyto dan Gravity menghasilkan Gravity Game Link sebagai perpanjangan tangan resmi Gravity Korea di Indonesia.

Strategi ini sudah membuahkan Ragnarok Forever Love yang rilis bulan Agustus 2019 lalu. Setelah itu, apa selanjutnya yang menanti para gamers di tahun 2020? Dalam acara Gravity Day, Harry Choi co-President Gravity Game Link mengumumkan 3 game yang akan dihadirkan oleh Gravity Game Link.

Sumber: Hybrid - Akbar Priono
Sumber: Hybrid – Akbar Priono

Tiga game tersebut adalah Ragnarok Tactics, Ragnarok Frontier, dan Ragnarok Next Generation. Berbasis di mobile, Ragnarok Tactics sudah dapat dimainkan sejak dari bulan Januari 2020 ini. Masih dengan membawa tema dan cerita dari seri sebelumnya, namun Ragnarok Tactics hadir dengan genre gabungan antara strategy RPG dengan Idle-Game.

Lalu yang berikutnya ada Ragnarok Frontier. Juga membawa konsep idle RPG, game ini akan hadir pada Q1 2020 ini. Dalam game tersebut, pemain memainkan 5 karakter untuk bertarung melawan monster-monster khas Ragnarok. Namun satu yang menarik dari Ragnarok Frontier adalah sifatnya yang crossplatform. Jadi game ini nantinya akan dapat dimainkan di mobile baik smartphone atau tablets, dan juga Laptop serta PC. Tak hanya itu, akan ada juga fitur untuk menaikkan level karakter tanpa harus online di dalam permainan. Sehingga karakter Anda tetap berkembang jadi lebih kuat walau Anda tidak sedang memainkannya.

Sumber: Hybrid - Akbar Priono
Sumber: Hybrid – Akbar Priono

Terakhir ada Ragnarok Next Generation yang memiliki genre MMORPG dan akan rilis pada Q4 2020. Game ini akan membawa pengalaman MMORPG open-world di mobile dengan gaya grafis 3D. Namun demikian, game ini akan tetap membawa nostalgia Ragnarok lewat nuansa khas yang ditampilkan.

Gravity Day kemarin tak hanya menjelaskan soal game Ragnarok terbaru saja. Pada tahun 2020 ini, sebagai bentuk rasa cinta Gravity kepada pecinta Ragnarok, akan hadir juga sebuah event bertajuk Ragnarok Festival 2020. Gelaran ini akan hadir di Pluit Vilage Mall pada tanggal 21 sampai 22 Maret 2020 mendatang. Tak lupa, momen ini juga digunakan Gravity untuk mengumumkan Amanda Rawles sebagai brand ambassador Ragnarok di Indonesia.

Bicara soal game luar negeri yang rugikan Indonesia

Dalam kesempatan tersebut, kami juga bertemu dengan Andi Suryanto, CEO Lyto Games yang juga menjabat sebagai co-President di Gravity Game Link. Melihat inisiatif Gravity dalam membuat sebuah perpanjangan tangan resminya di Indonesia, menarik sepertinya jika kita juga membicarakan isu soal game luar negeri, seperti PUBG, yang katanya merugikan negara.

Isu ini pertama mencuat dari artikel milik CNBC. Dalam pembahasan tersebut, CNBC mewawancara Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Satu pernyataan yang kerap dikutip adalah, soal bagaimana bahwa ada uang Indonesia yang melayang ke luar negeri saat para gamers bermain dan membeli suatu dari game tersebut.

Menanggapi hal ini, Andi membuka pembahasan lewat fenomena penerimaan video-game di kalangan masyarakat, yang kini jadi semakin masif dan umum. Namun demikian, Andi juga menambahkan, bahwa Indonesia memang cenderung terlalu terbuka terhadap arus globalisasi, atau masuknya berbagai bisnis digital (termasuk game) dari luar negeri ke Indonesia.

Sumber: Hybrid - Akbar Priono
Sumber: Hybrid – Akbar Priono

“Saya sendiri sebagai salah satu pendiri Asosiasi Game Indonesia (AGI), sebetulnya masih beberapa kali bertemu dengan pemerintah dan pelaku industri untuk membahas ini. Fokus saya dan AGI sebenarnya satu, adalah bagaimana agar semua perusahaan game, baik dari lokal atau luar negeri, bisa taat hukum dan memberi manfaat bagi para penggunanya juga bagi negara. Ini semua tentunya masih dalam proses. Bisnis game bisa jadi menguntungkan bagi berbagai macam pihak kok, tetapi menurut saya itu baru bisa terjadi dengan aturan yang jelas.” Ucap Andi melanjutkan pandangannya.

Untuk mengatasi soal uang Indonesia yang “bocor” ke luar negeri karena game, mendorong para pengembang untuk membuat game lokal, biasanya jadi narasi yang kerap dipublikasikan, tak terkecuali pendapat dari Mirza. Namun pertanyaannya, apakah hanya itu satu-satunya jalan? Sebenarnya, kerja sama antara Lyto sebagai publisher lokal Indonesia, dengan Gravity untuk menerbitkan Ragnarok di pasar lokal mungkin bisa jadi salah satu cara.

“Saya sangat setuju jika ada regulasi yang mewajibkan pengembang luar negeri untuk menggandeng publisher lokal dalam memasarkan gamenya di Indonesia.” Tukas Andi.

“Namun, satu yang sulit adalah masing-masing pihak punya sudut pandangnya tersendiri terhadap hal ini. Maka dari itu dalam kasus Gravity Game Link, saya sebagai publisher lokal mencoba menggandeng mereka. Untungnya Gravity sendiri melihat memang ada benefit, karena penggemar mereka banyak di Indonesia, sampai akhirnya memutuskan untuk buat perusahaan di sini dan membuatnya jadi lebih resmi. Mudah-mudahan contoh kerja sama Gravity dengan Lyto bisa membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang menyenangkan kedua belah pihak. Toh dalam kasus ini, Gravity juga hepi kok punya perusahaan cabang di Indonesia.” Andi menutup penjelasannya.

Pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa era globalisasi membuat batas antar negara semakin buram, kemajuan teknologi juga membuat semua hal berubah begitu cepat. Maka sudah sejatinya pihak pemerintah harus bergerak cepat, bereaksi dengan tangkas, dan merangkul para pelaku industri agar Indonesia tidak tertinggal, dan terus-terusan hanya menjadi negara pasar tanpa menerima apapun sebagai timbal baliknya.