Dark
Light

Genexyz Hadirkan Platform Agregator Virtual Influencer dengan Mengandalkan Teknologi Meta Human

1 min read
August 31, 2022

Tren virtual idol — atau yang mungkin lebih dikenal dengan istilah VTuber — terus bertambah populer dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di Jepang, tren VTuber kini juga telah merambah banyak negara lain, termasuk halnya Indonesia, yang ditandai dengan kemunculan sejumlah agensi VTuber. Yang terbaru, ada platform lokal bernama Genexyz yang mencoba mendalami tren VTuber dengan pendekatan yang berbeda.

Seperti yang kita tahu, sebagian besar VTuber memang tampil dalam wujud menyerupai karakter anime. Ini sangat berbeda dari yang ditawarkan Genexyz, yang memilih untuk mengadopsi teknologi meta human dalam proses penciptaan virtual idol-nya. Kalau Anda merasa familier dengan istilah meta human, kemungkinan besar itu karena Anda pernah mendengar soal tool bernama MetaHuman Creator bikinan Epic Games, yang memungkinkan pengguna untuk menciptakan karakter 3D yang amat realistis dalam ekosistem Unreal Engine.

Salah satu misi utama Genexyz adalah menghadirkan platform agregator virtual influencer. Kenapa harus virtual? Karena Genexyz ingin mengatasi problem seputar skalabilitas dan ketidakpastian yang muncul akibat keterbatasan fisik seorang influencer. Dengan mengadopsi teknologi meta human, deretan virtual influencer ini dapat diperkerjakan tanpa henti layaknya robot, sehingga pada akhirnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan dan brand yang tertarik.

“Teknologi meta human akan menjadi partner baru dalam perjalanan brand di setiap perusahaan. Meta human dapat dikembangkan menjadi selebriti, pemengaruh, interactive customer service, market makers, dan market shakers baru yang berdampak di dunia kreatif dan periklanan,” ucap Christian Melvin, co-founder dan CPO Genexyz.

Para pendiri Genexyz
Para pendiri Genexyz, dari kiri ke kanan: Andrianka Anka, Belinda Luis, Christian Melvin / Genexyz

Platform Genexyz juga memanfaatkan sistem berbasis data sehingga para kliennya dapat menciptakan sendiri DNA dari IP virtual influencer yang tengah dibangunnya. Andai butuh pivot demi menyesuaikan permintaan pasar, prosesnya juga akan dimudahkan berkat kontrol penuh atas narasi yang dibangun. Tanpa perlu terkejut, Genexyz juga dibangun untuk menyiapkan brand dalam menyambut ekosistem Web3.

Sejak didirikan pada pertengahan 2022, Genexyz sejauh ini telah meraih pendanaan awal dari sejumlah investor: Future Creative Network (FCN), PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi (EBIT) sebagai anak perusahaan BOLA (Bali United), dan Infia Group sebagai media holding group untuk Dagelan, Volix, dan Folkative. Tidak ketinggalan, Benz Budiman dari Creative Gorilla Capital juga tercatat sebagai strategic investor Genexyz.

Penyanyi dangdut virtual Lavcaca
Sebagai virtual influencer, Lavcaca juga aktif di media sosial / Genexyz

Kita juga sudah bisa menjumpai kreasi perdana Genexyz, yakni penyanyi dangdut virtual bernama Laverda Salsabila, atau yang akrab dipanggil Lavcaca. Lavcaca juga sudah menerima peran untuk menjadi ikon dari Ujung-ujungnya Dangdut (UUD), platform musik digital baru besutan Denny Caknan.

Ke depannya, Genexyz dan UUD akan menggelar tur di beberapa wilayah di Indonesia demi memperkenalkan kecanggihan teknologi meta human di kalangan millenial dan Gen Z. Bukan cuma itu, Genexyz juga berencana menghadirkan karakter IP lainnya lewat sederet virtual influencer baru melalui kolaborasi bersama Infia dan Volux di tahun ini juga.

AI video The Crow
Previous Story

Bukan Cuma Gambar, AI Juga Bisa Ciptakan Video dari Input Teks

Next Story

MPL ID S10 Week 3: Rebellion Zion Sukses Tundukkan Aura dan RRQ Hoshi

Latest from Blog

Don't Miss

Sugartown Zynga

Zynga Umumkan Game Web3 Pertamanya, Sugartown

Perlahan tapi pasti, popularitas game Web3 masih terus ada. Tidak
Bursa kripto Indonesia

Indonesia Resmi Punya Bursa Kripto, Apa Signifikansinya?

Setelah sekian lama, Indonesia akhirnya punya bursa kripto sendiri. Badan