Esports Ecosystem

ESL Ingin Ajarkan Audiens Etika Menonton Pertandingan Esports

21 Feb 2020 | Ellavie Ichlasa Amalia
Dengan begitu, diharapkan para penonton tidak membantu para peserta

Dalam pertandingan final ESL Pro League terjadi sebuah kejadian dimana salah satu tim yang bertanding diuntungkan oleh penonton. Salah satu pemain Astralis, Andreas “Xyp9x” Højsleth bisa mengetahui posisi musuhnya berkat teriakan dari para fans mereka. Højsleth membantah hal ini. Namun, kejadian tersebut memicu perdebatan apakah penyelenggara turnamen harus menyediakan booth kedap suara untuk para peserta turnamen sehingga mereka tidak bisa mendengar sorakan para penonton.

Menurut laporan Dexerto, perdebatan tentang booth kedap suara telah ada sebelum kejadian ini terjadi. Para pemain tidak keberatan jika mereka harus bermain di dalam booth. Namun, pihak penyelenggara turnamen justru enggan untuk menggunakan booth kedap suara. Salah satu alasannya adalah karena itu berarti penyelenggara harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membuat booth.

Kepada HLTV, Vice President of Professional Gaming for ESL, Michal “Carmac” Blicharz menjelaskan, booth yang sama seperti booth yang digunakan dalam turnamen Dota 2, The International memakan biaya sekitar US$700 ribu sampai US$800 ribu. Mereka memang bisa menekan biaya itu menjadi US$300 ribu jika mereka membuatnya sendiri. Namun, untuk memastikan bahwa semua turnamen ESL dan DreamHack diselenggarakan dengan keadaan yang sama, mereka tetap harus membuat banyak booth. Alasan lain penyelenggara enggan untuk membiarkan peserta bertanding di dalam booth adalah karena ini akan memengaruhi pengalaman menonton yang dirasakan para penonton.

Turnamen ESL tidak menggunakan booth kedap suara. | Sumber; ESL / Helena Kristiansson via Dexerto
Turnamen ESL tidak menggunakan booth kedap suara. | Sumber; ESL / Helena Kristiansson via Dexerto

Lebih lanjut, Blicharz menjelaskan, “Kami percaya bahwa para pemain profesional dan audiens memiliki chemistry. Kami tidak ingin peserta turnamen terisolasi dan tidak tahu apa yang terjadi di sekitar mereka. Justru sebaliknya. Kami ingin para pemain sadar bahwa mereka bertanding di hadapan ribuan orang.”

ESL percaya, masalah ini bisa diselesaikan dengan mengedukasi penonton tentang etika menonton, mencakup apa yang boleh mereka lakukan dan tindakan apa yang dilarang. “Bersorak sebelum pemain membunuh dengan pisau, bersorak di saat-saat genting, bersorak untuk menandai sesuatu yang seharusnya pemain tidak tahu, dan lain sebagainya, dalam semua kasus ini, penonton seharusnya menunggu sampai sang pemain mengeksekusi aksinya sebelum bersorak,” kata Blicharz. Untuk menyampaikan pesan ini pada penonton, ESL akan menampilkan video. Tak hanya itu, sang MC juga akan menyampaikan tentang apa yang boleh dilakukan penonton.

Memang, tidak ada jaminan bahwa metode yang digunakan oleh ESL itu akan sukses. Namun, ESL bersedia untuk mencoba cara ini. “Kami akan mencoba metode ini dalam turnamen yang kami adakan di masa depan. Mengajarkan etika pada para penonton bukanlah hal yang mudah, tapi saya rasa, kami bisa melakukan itu,” katanya, menurut laporan VP Esports.

Blicharz menambahkan, jika para penonton tidak mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan, maka ESL akan menerapkan saran Chad “SPUNJ” Burchill, yaitu mematikan x-ray di arena selama 20 menit untuk setiap pelanggaran yang dilakukan oleh penonton. Untungnya, hal ini hanya akan memengaruhi penonton yang datang langsung ke tempat pertandingan dan tidak memengaruhi apa yang dilihat oleh para penonton streaming.