Esports Ecosystem

Diana Tjong Bicara Tantangan Bagi Yamisok Menghadirkan Inovasi di Esports Indonesia

03 Dec 2019 | Akbar Priono
Diana Tjong Co-Founder Yamisok Tech Indonesia, berbagi pengalamannya menghadirkan inovasi di ekosistem esports lewat unit bisnis yang tidak biasa

Ekosistem esports Indonesia semakin besar, namun bisa dibilang belum banyak peluang dalam ekosistem ini yang digarap. Secara awam, event organizer serta organisasi esports jadi dua bisnis yang kerap kali dianggap punya peluang besar.

Namun Diana Tjong Co-Founder Yamisok Tech Indonesia, tidak berpikir demikian. Ia merasa bahwa ekosistem esports Indonesia masih punya lahan lain selain dari event organizer dan membuat tim esports untuk digarap. Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari kita berkenalan lebih dahulu dengan Yamisok Tech Indonesia.

Membawa jargon “For Gamers”, Diana menjelaskan bahwa tujuan ia membuat Yamisok untuk membantu kawan-kawan gamers di dunia esports. Maka dari itu, unit bisnis Yamisok pun selaras dengan visi yang disebut Diana barusan.

Sumber: Dokumentasi Hybrid - Ajie Zata
Diana Tjong, Co-Founder Yamisok Tech Indonesia. Sumber: Dokumentasi Hybrid – Ajie Zata

Pertama ada Yamisok Platformtournament platform yang mencoba mengakomodir semua kebutuhan komunitas esports Indonesia, bukan hanya para gamers tapi juga pemangku kepentingan lain di dalam ekosistem. Kedua ada Highgrounds Indonesia, iCafe yang juga memiliki Cafe Resto, serta Bar dan Arena, yang dibuat untuk menjadi “One Stop Place for Gamers”.  Terakhir ada Esports ID, news platform bagi para gamers mencari berbagai informasi seputar game dan esports.

Tantangan menghadirkan inovasi sambil mengelola tiga unit bisnis sekaligus

Mengelola tiga unit bisnis sekaligus tentu bukan hal mudah, apalagi Yamisok juga punya satu unit bisnis yang bidangnya terbilang baru di ekosistem esports Indonesia, yaitu tournament platform. Diana lalu menceritakan soal tantangan dari mengelola masing-masing unit bisnis.

Yang pertama adalah soal tournament platform. Sebagai jenis bisnis baru, Yamisok bahkan terbilang yang pertama pada masanya. Akibatnya, tantangan yang dihadapi oleh Diana adalah soal sosialisasi. Soal sosialisasi, ia menceritakan bahwa ekosistem esports di Indonesia masih terbiasa dengan cara yang lama.

Jadi tantangannya adalah untuk melakukan edukasi kepada ekosistem agar mau menggunakan platform yang sebenarnya bisa memudahkan mereka. “Bahkan beberapa penyelenggara turnamen yang menggunakan platform kami terkadang baru sadar ada fungsi tertentu yang bisa digunakan dan mempermudah proses turnamen mereka.” ujar Diana.

Lanjut soal Highgrounds, menurut Diana tantangannya kini adalah soal sisi identitas. Sebagai iCafe high-end Diana mengaku pada awalnya memang menyasar pasar keluarga, yaitu untuk para orang tua yang butuh tempat bermain warnet yang nyaman bagi anak-anaknya. Namun, ia bercerita bahwa ada diskusi internal untuk menambahkan Bar di dalam Highgrounds. “Wacana ini sempat membuat para orang tua bicara bertanya pada saya, mengapa ada wacana menambahkan Bar kepada Highgrounds sebagai tempat yang ramah anak. Ini yang memunculkan konflik identitas pada Highgrounds, karena sebetulnya tempat ini tidak bisa dibilang khusus anak-anak dan orang tua juga.” Diana melanjutkan ceritanya.

Terakhir soal menjalani bisnis media. Menurut cerita Diana, perkembangan Esports ID banyak terbantu dari brand Yamisok itu sendiri. Ia mengatakan bahwa tantangannya untuk soal media ada pada langkah lanjutan dan pemilihan konten untuk dihadirkan pada news platform tersebut. “Kita sedang mencoba dan menggodok hal baru, mempersiapkan fitur-fitur khusus untuk media. Ini sebetulnya masih belum bisa diungkap, jadi tunggu saja kelanjutannya dari Esports ID.” cerita Diana.