Esports Ecosystem

2023, Nilai Industri Game di Asia Tenggara dan Taiwan Diperkirakan Capai Rp116,8 Triliun

18 Nov 2019 | Ellavie Ichlasa Amalia
Esports menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri game

Pendapatan industri game untuk kawasan Greater Southeast Asia (GSEA), yang mencakup Asia Tenggara dan Taiwan, diperkirakan akan naik dari US$5 miliar (sekitar Rp70,4 triliun) pada 2019 menjadi lebih dari US$8,3 miliar (sekitar Rp116,8 triliun) pada 2023, menurut laporan dari Niko Partners. Salah satu hal yang mendorong pertumbuhan industri game adalah bertambahnya jumlah gamer, baik gamer mobile maupun gamer PC. Jumlah gamer mobile diduga akan naik dari 227 juta orang pada 2019 menjadi 290,2 juta pada 2023. Sementara jumlah gamer PC akan menjadi 186,3 juta pada 2023, naik dari 154,3 juta pada tahun ini. Esports menjadi salah satu hal lain yang mendorong pertumbuhan industri game di kawasan Asia. Karena, kebanyakan gamer di Asia juga aktif dalam esports. Data dari Niko Partners menunjukkan, sebanyak 95 persen gamer PC dan 90 persen gamer mobile aktif dalam esports.

“Asia Tenggara tidak hanya menjadi tempat berkembangnya industri game, kawasan ini juga menjadi pusat dari esports secara global,” kaat Lisa Cosmas Hanson, Managing Partner, Niko Partners, dikutip dari VentureBeat. “Perusahaan Asia Tenggara, Garena telah mendapatkan pendapatan lebih dari US$1 miliar (Rp14 triliun). Ini berarti, kawasan tersebut tak lagi bisa diacuhkan.” Game Free Fire dari Garena terbukti sukses di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Belum lama ini, secara global, game itu telah menghasilkan pendapatan lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun). Tak hanya itu, di kawasan Asia Tenggara, Free Fire sukses menjadi game battle royale nomor satu. Total jumlah pemain Free Fire mengalahkan total jumlah pemain Fortnite dan Player Unknown’s Battleground.

Sumber: Niko Partners via VentureBeat
Sumber: Niko Partners via VentureBeat

Hal lain yang mendorong pertumbuhan pasar gaming di kawasan GSEA adalah keberadaan jaringan 5G. Diperkirakan, jaringan 5G akan digelar di negara-negara GSEA pada 2020. Hal ini akan memicu pertumbuhan industri mobile gaming. Pada 2023, penetrasi internet di kawasan Asia Tenggara dan Taiwan diperkirakan akan mencapai lebih dari 99 persen, naik dari 77 persen pada 2019. Meskipun begitu, negara-negara GSEA tampaknya tetap menjadi negara mobile-first, yang berarti, kebanyakan orang mengakses internet melalui smartphone. Pengguna smartphone di kawasan GSEA juga diperkirakan akan naik, dari 527 juta orang menjadi 679 juta pda 2023. Sekitar 40 persen pengguna smartphone bermain game. Karena itulah, semakin banyak pengguna smartphone, semakin bertambah pula jumlah gamer mobile.

Sementara itu, pada Juni 2019, Newzoo mengeluarkan laporan tentang keadaan industri game secara global. Pada tahun 2019, pendapatan dari industri game mencapai US$152,1 miliar (sekitar Rp2.141 triliun), naik 9,6 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Asia Pasifik menjadi kawasan dengan kontribusi terbesar. Dengan pemasukan indutri game mencapai US$72,2 miliar (sekitar Rp1.016 triliun), kawasan Asia Pasifik berkontribusi hingga 47 persen pada total pasar game di dunia. Game mobile masih menjadi segmen dengan pertumbuhan paling besar. Pada 2022, pendapatan dari mobile gaming diperkirakan mencapai US$95,4 miliar (sekitar Rp1.343 triliun). Smartphone menjadi pendorong utama dari pertumbuhan industri mobile game, dengan kontribusi pada pendapatan industri mobile gaming sebesar US$79,7 miliar (sekitar Rp1.122 triliun). Meskipun begitu, pertumbuhan industri mobile game di kawasan negara-negara berkembang seperti Amerika Utara, Eropa Barat, dan Jepang mulai melambat. Pertumbuhan industri mobile game terbesar justru terjadi di kawasan negara berkembang, seperti Asia Tenggara, India, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Sumber header: Pixabay