Di Forum UNCTAD 2026, CEO Ant International Dorong Pemanfaatan AI untuk Bantu UMKM Tembus Pasar Global

4 mins read
October 30, 2026

CEO Ant International, Peng Yang, menyerukan pentingnya inisiatif re-globalisasi yang lebih inklusif melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan konektivitas digital guna membuka akses pasar global yang setara bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Seruan tersebut disampaikan dalam sesi diskusi panel bertajuk “Investing in AI for an Inclusive Digital Future” pada perhelatan World Investment Forum (WIF) 2026 ke-9 yang diselenggarakan oleh United Nations Trade and Development (UNCTAD).

Dalam paparannya, Peng Yang menyoroti bahwa era Globalisasi 1.0 sebelumnya cenderung memusatkan manfaat ekonomi pada korporasi berskala besar. Meskipun usaha kecil mencakup lebih dari 90% total populasi bisnis di dunia,keterbatasan teknologi, talenta, dan sumber daya membuat mereka tertinggal dalam mengelola kompleksitas perdagangan lintas batas.

“Globalisasi 1.0 sebagian besar memberikan manfaat bagi perusahaan besar, sementara banyak UMKM hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berpartisipasi dalam perekonomian global,” ujar Yang. “Inklusi sangat penting bagi re-globalisasi, dan AI akan mempercepatnya dengan membuka akses yang setara terhadap peluang.”

Berdasarkan data World Trade Report 2024 dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), tercatat baru 8% usaha kecil dan 15% usaha menengah yang melakukan ekspor secara langsung, berbanding 30% pada kelompok perusahaan besar.

Tantangan serupa juga terlihat pada adopsi teknologi; survei Organisation for Economic Co-operation and Development(OECD) tahun 2025 menunjukkan bahwa 52% perusahaan besar telah mengadopsi AI, sementara tingkat adopsi di kalangan usaha kecil baru mencapai 17,4%.

Transaksi Lintas Negara UMKM Tumbuh 50% per Tahun Lewat Solusi AI

Kendati terdapat kesenjangan adopsi, Ant International mencatat bahwa demokratisasi akses AI terbukti mampu mendongkrak daya saing pelaku usaha kecil di panggung internasional. Saat ini, Ant International memproses sekitar 25 juta transaksi setiap hari dengan total basis pelanggan global mencapai 150 juta merchant, di mana 95% di antaranya merupakan sektor UMKM.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, perusahaan telah merangkul lebih dari 1 juta pedagang kecil baru dari 54 pasar baru di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam perdagangan global.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami melihat pertumbuhan UMKM yang sangat pesat ketika inovasi bertemu dengan inklusi. Ketika kami menawarkan solusi berbasis AI yang komprehensif dan terintegrasi (full-stack AI-native) kepada mereka, volume transaksi lintas negara UMKM di seluruh lini bisnis kami tumbuh sekitar 50% setiap tahun, atau 10 kali lipat dari tingkat pertumbuhan total volume perdagangan global,” ujar Peng Yang.

“Hal ini menunjukkan bahwa jika kita dapat melakukan berbagai hal dengan benar, mendorong inovasi, menyediakan teknologi AI, dan membuatnya lebih mudah diakses oleh pelaku usaha kecil, mereka dapat tampil di panggung global untuk tumbuh dan berkembang,” tambahnya.

Empat Pilar Solusi Full-Stack AI-Native dari Ant International

Menindaklanjuti peluncuran arsitektur full-stack AI-native pada September 2026 lalu, Ant International mengintegrasikan teknologi AI ke dalam empat lini layanan utama untuk mengatasi hambatan operasional dan finansial UMKM:

  • Demokratisasi Model Valas Falcon TST FX: Guna menekan tingginya biaya dan risiko nilai tukar mata uang asing (FX) bagi UMKM, Ant International membuka akses model prediksi Falcon TST AI. Model yang meraih performa state-of-the-art (SOTA) pada metrik MASE di benchmark global ini memiliki tingkat akurasi prediksi konsisten di atas 93% serta didukung jaringan perbankan global untuk mengefisiensikan transaksi lintas batas.

  • Otomatisasi Rekening Global via WorldFirst Autopilot: Platform Global Account WorldFirst telah membantu lebih dari 2 juta UKM di lebih dari 210 pasar dengan nilai transaksi kumulatif melampaui US$500 miliar, serta terhubung ke lebih dari 130 platform e-commerce dan 600 mitra ekosistem. Lewat hadirnya agen AI WorldFirst Autopilot, pelaku UKM dapat mengelola penerimaan dana, pembayaran lintas negara, valas, hingga modal kerja secara otomatis hanya menggunakan instruksi bahasa sehari-hari tanpa memerlukan tim keuangan khusus.

  • Efisiensi Pembayaran Merchant via Antom Autopilot: Pada lini Global Payment, Antom Autopilotmempercepat proses onboarding, integrasi teknis, analisis risiko, hingga rekonsiliasi transaksi. Pada akhir 2026,sebanyak 95% merchant diproyeksikan dapat merampungkan proses onboarding di Antom hanya dalam waktu 1 jam. Selain itu, fitur SmartDispute berhasil meningkatkan rasio keberhasilan banding sengketa transaksi menjadi 41,8% (dibandingkan 24,5% tanpa alat tersebut), sementara fitur otomatis AutoDispute membantu merchantmemulihkan rata-rata 18% kerugian akibat chargeback.

  • Ekspansi Pemasaran Lintas Negara via Alipay+: Menghubungkan lebih dari 50 dompet digital dengan 150 juta merchant global, Alipay+ membekali UMKM dengan solusi pemasaran berbasis AI yang memadukan kampanye media sosial sebelum perjalanan (pre-trip) dan promosi di lokasi fisik. Di Bali, Indonesia, sebuah merek perawatan kulit lokal mencatatkan lonjakan Total Payment Volume (TPV) sebesar 137% dan kenaikan jumlah pesanan 140%selama masa promosi. Dampak serupa juga tercatat di Siam Square, Bangkok, Thailand (TPV naik 66%, pesanan naik 115%) serta di Gaya Street, Kota Kinabalu, Malaysia (TPV naik lebih dari 120%, pesanan naik 140%).

Kolaborasi Regulasi, Standar Know Your Agent (KYA), dan Antom AgentSafePay

Seiring beralihnya fungsi agen AI ke pengelolaan tugas finansial dan eksekusi transaksi, Peng Yang menekankan bahwa faktor kepercayaan (trust) dan keamanan memerlukan sinergi erat antara sektor publik dan swasta.

“Kepercayaan adalah hal yang paling utama dalam layanan pembayaran dan keuangan, dan perannya menjadi semakin penting di era AI. Kita perlu bekerja sama erat dengan organisasi internasional dan regulator untuk mengembangkan kerangka kerja yang tepat, sekaligus membangun sistem perlindungan yang memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan agen AI dengan aman. Kolaborasi di sektor swasta juga perlu didukung oleh lembaga internasional dan regulator untuk menetapkan standar bersama serta membangun infrastruktur yang tepercaya,” ujar Yang.

Untuk mewujudkan infrastruktur keamanan tersebut, Ant International telah menjalankan sejumlah kolaborasi strategis dan inovasi perlindungan transaksi:

  • Kemitraan Regulator Regional: Bekerja sama dengan Infocomm Media Development Authority (IMDA) Singapura dalam pengembangan teknologi pelindung privasi (privacy-enhancing technologies), serta berpartisipasi dalam inisiatif BuildFin.ai besutan Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk penerapan AI yang bertanggung jawab di sektor keuangan.

  • Interoperabilitas Know Your Agent (KYA): Bermitra dengan jaringan pembayaran global Visa dan Mastercarduntuk menyusun standar interoperabilitas Know Your Agent (KYA) guna memverifikasi keabsahan agen AI yang bertransaksi mewakili konsumen maupun korporasi.

  • Perlindungan Antom AgentSafePay: Meluncurkan solusi keamanan yang memverifikasi niat pembelian secara multidimensi dan real-time. Fitur ini turut memberikan jaminan perlindungan dana atas potensi kerugian akibat kesalahan interpretasi niat beli, serangan manipulasi perintah (malicious prompt injection), maupun risiko teknis lain pada agen AI milik merchant.

Menutup sesi diskusi tersebut, Peng Yang menegaskan optimisme perusahaannya bahwa penurunan biaya komputasi AI dan kemudahan akses teknologi berstandar korporasi akan membawa pelaku usaha kecil ikut menikmati pertumbuhan ekonomi global secara merata.

“Kami percaya pada masa depan di mana new normal dari Globalisation tidak akan meninggalkan siapa pun. Ketika inovasi bertemu dengan inklusi, semua orang dapat mengejar peluang mereka seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di masa lalu,” tutup Yang.

—

Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.

Previous Story

Visa dan Bank Jago Luncurkan Kartu Debit MLBB M8 Limited Edition, Permudah Gamer Atur Anggaran Transaksi

Latest from Blog

Don't Miss

Riset Sumsub: 64% Organisasi Indonesia Pernah Alami Masalah Keputusan AI Tanpa Jejak Audit Memadai

Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di kalangan organisasi Indonesia kini tengah
Papan nama PicEditor AI

Cara Menjaga Tulisan Papan Toko Dengan PicEditor AI

Papan nama di depan toko kecil gagal kalau hurufnya pecah,