Industri gim Indonesia diproyeksikan menyumbang nilai tambah ekonomi hingga 3,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp59 triliun dan menyerap 476.600 tenaga kerja pada 2030. Syaratnya, pertumbuhan industri ini harus dipercepat lewat penguatan kekayaan intelektual (IP) lokal, talenta, dan teknologi.
Proyeksi tersebut berasal dari white paper hasil studi Access Partnership dan Tencent yang dirilis dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta.
White paper bertajuk “The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in Southeast Asia” itu diserahkan kepada Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Luat Sihombing. Penyerahan dilakukan oleh Cheng Wei Swee dari Access Partnership dan Monrawee Ampolpittayanant dari Tencent.
Pasar Besar, Porsi Pengembang Kecil
Saat ini, Indonesia sudah tergolong pasar gim yang besar. Pada 2025, pendapatan industri gim nasional diperkirakan mencapai 1,3 miliar dolar AS (Rp23,4 triliun). Kontribusinya terhadap perekonomian sebesar 1,8 miliar dolar AS (Rp32,4 triliun), dengan sekitar 257.400 lapangan kerja.
Masalahnya, sebagian besar nilai itu tidak datang dari pembuatan gim. Hampir separuhnya (47 persen) berasal dari penjualan perangkat keras dan periferal. Esports menyumbang 24 persen dan ritel 22 persen. Pengembangan dan penerbitan gim hanya menyumbang 7 persen.
Menurut laporan tersebut, komposisi ini menunjukkan ruang besar bagi Indonesia untuk naik kelas. Indonesia bisa berperan lebih banyak di bagian ekosistem yang menciptakan nilai jangka panjang, seperti IP lokal, pengembangan gim, teknologi, talenta, dan akses ke pasar global.
Laporan ini memetakan dua skenario. Dalam skenario moderat, nilai tambah industri gim Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai sekitar 2,8 miliar dolar AS dengan 416.600 lapangan kerja. Dalam skenario percepatan, angkanya naik menjadi 3,3 miliar dolar AS dan 476.600 lapangan kerja.
Tiga Kunci Kebijakan
Untuk mencapai skenario percepatan, studi ini mengusulkan tiga fokus kebijakan.
Pertama, memperluas akses pembiayaan bagi studio lokal, misalnya lewat hibah untuk pembuatan prototipe, dana pendamping, dan pinjaman berbunga rendah. Dengan pembiayaan seperti ini, lebih banyak gim buatan dalam negeri bisa sampai ke pasar.
Kedua, menyederhanakan proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan IP gim. Langkah ini diharapkan membantu studio mempertahankan lebih banyak nilai dari karyanya dan membangun bisnis penerbitan yang berkelanjutan.
Ketiga, memperkuat jalur pengembangan talenta dan ekspansi ke luar negeri, melalui kurikulum khusus, program magang di industri, serta kegiatan penjajakan bisnis dengan mitra internasional.
Gambaran Asia Tenggara
Studi ini mencakup lima negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Seluruh rantai nilai dikaji, mulai dari pengembangan dan penerbitan gim, perangkat keras, ritel, hingga esports.
Secara regional, industri gim diproyeksikan menghasilkan nilai tambah 12,2 miliar dolar AS (Rp219,6 triliun) dan mendukung sekitar 1,01 juta lapangan kerja pada 2030.
Laporan ini juga menyoroti dampak di luar angka ekonomi. Industri gim membuka jalur karier di bidang desain, animasi, pemrograman, pemasaran, hingga pembuatan konten. Industri ini juga ikut menggerakkan pariwisata, penyelenggaraan acara, dan ekonomi kreatif secara lebih luas.
Director of Global Public Affairs (APAC) Tencent, Monrawee Ampolpittayanant, menilai momentum ini perlu dimanfaatkan. “Peluang saat ini adalah mengubah kekuatan pasar Indonesia menjadi ekosistem kreatif,” ujarnya. Ia berharap riset tersebut bisa mendorong dialog lanjutan antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas kreatif.
White paper ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan Indonesia ke depan tidak cukup hanya mengandalkan naiknya permintaan gim. Diperlukan ekosistem yang mendukung pengembang lokal, serta kebijakan yang melindungi pengguna sekaligus memberi ruang bagi inovasi dan investasi.
Dengan dukungan yang tepat, Asia Tenggara berpeluang berubah dari sekadar pasar konsumen menjadi pusat pengembangan gim yang kompetitif di tingkat global.
Dukungan Dalam Bentuk ‘Lain’
3 Syarat yang ditawarkan white paper ini cukup masuk akal dan bisa berdampang langsung. Terutama tentang pembiayaan dengan syarat ‘rendah’ yang tidak bikin ribet. Dukungan dana atau investasi ke studio gim lokal memang tidak seheboh dukungan dana investor ke startup ketika masa jaya sebelum terjun bebas.
Nah, dorongan VC untuk masuk dan mengembangkan studio gim lokal ini harus terus didorong, selain dari pelaku industri yang sudah matang bisa juga peran pemerintah ada di sini.
Satu hal kecil lain yang menurut hemat penulis yang juga bisa mendorong kreativitas para gim lokal menembus pasar regional adalah tidak ‘diharuskannya’ nuansa lokal untuk masuk dalam unsur atau tema gim ketika mereka mendapatkan dukungan dari pemerintah.
Bebaskan saja para studio gim ini untuk berkreasi dengan tema yang mereka anggap akan sesuai dengan permintaan pasar. Unsur-unsur lokal yang membawa nama tanah air memang menarik, tetapi toh sudah banyak contoh kegagalan gim yang terlalu fokus untuk memasukkan unsur tanah air dalam gim mereka tetapi tidak serta merta mengerti betul apa yang membuat gamers terus memainkan gim itu.
Apapun tema yang dibawa para studio gim lokal ini nantinya, toh ketika alamat kantor mereka, atau kewarganegaraan founder dan timnya masuk dalam detail gim yang dibuat, itu akan tetap membawa nama Indonesia ke kancah regional bahkan global.
Industri gim lokal Indonesia ini punya potensi, tetapi ada hal yang harus dijawab ketika sudah kurang lebih 2 dekade, industri gim di tanah air masih seperti mau tinggal landas, belum terbang dan mengepakkan sayapnya secara lebar.
Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.