Minat masyarakat modern terhadap fitur kecerdasan buatan (AI) terintegrasi pada ponsel pintar menunjukkan tren yang terus menanjak.
Melalui ajang jumpa pers pasca peluncuran Samsung Galaxy Z8 Series di London, jajaran eksekutif Samsung mengungkap fakta bahwa teknologi AI kini telah bertransformasi dari sekadar tren eksperimental menjadi instrumen esensial dalam rutinitas harian konsumen, khususnya di wilayah Asia Tenggara dan Oseania.
Pernyataan tersebut merujuk pada data historis performa Galaxy Z7 Series (generasi ke-7) yang mencatatkan rapor positif. CU Kim, President & CEO Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania, memaparkan bahwa penjualan ponsel lipat (foldable) generasi ketujuh di kawasan ini mengalami lonjakan hingga 15 persen dibandingkan pendahulunya. Fenomena ini berjalan beriringan dengan tingkat pemanfaatan Galaxy AI yang meroket drastis.
Lonjakan Adopsi AI pada Perangkat Ponsel Lipat (Foldable)
Berdasarkan paparan dalam diskusi media tersebut, ponsel pintar kini menduduki posisi sebagai gerbang utama bagi masyarakat di Asia Tenggara untuk mengakses teknologi kecerdasan buatan. Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai tren adopsi AI pada perangkat foldable Samsung, berikut adalah rincian datanya:
“Fase berikutnya dari AI bukan lagi tentang menghadirkan lebih banyak fitur, melainkan menghadirkan pengalaman yang semakin relevan bagi setiap pengguna,” tegas CU Kim terkait tingginya adopsi teknologi tersebut.
Sebagai wujud komitmen pelokalan, ekosistem kecerdasan buatan Samsung saat ini telah mengantongi dukungan operasional dalam 22 bahasa global. Pembaruan ini mencakup bahasa-bahasa utama di kawasan Asia Tenggara, seperti Bahasa Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Tagalog (Filipina).
Bagaimana “Agentic AI” Mengubah Pengalaman di Galaxy Z8 Series?
Menyusul kesuksesan integrasi pada generasi sebelumnya dan fondasi yang dibangun lewat Galaxy S26 Series, fokus Samsung kini bergeser pada peningkatan kepekaan kontekstual AI. Won-Joon Choi, President & COO Mobile eXperience (MX) Business sekaligus Head of R&D Office Samsung Electronics, menekankan bahwa ekosistem ini tengah dirancang untuk menjadi wadah kolaboratif bagi berbagai agen AI cerdas.
Berjalan di atas sistem operasi One UI 9, lini terbaru Galaxy Z8 Series memperkenalkan konsep agentic AI. Konsep ini membawa pembaruan dalam interaksi sistem:
-
Sistem Proaktif: AI tidak hanya merespons perintah, tetapi mampu bekerja secara mulus (seamless) melintasi berbagai aplikasi bawaan tanpa harus diminta secara manual.
-
Fleksibilitas Pengguna: Mengakomodasi kebutuhan personal dengan membiarkan pengguna memilih pendekatan agen cerdas mana yang paling sesuai untuk skenario tertentu.
“Dari perspektif konsumen, tidak ada satu AI yang cocok untuk semua orang. Karena itu, kami membangun Galaxy AI sebagai sebuah platform yang memungkinkan berbagai AI agent bekerja secara bersamaan,” tambah Won-Joon Choi.
Fokus Ekspansi Portofolio Ekosistem Samsung
Sejak memelopori kategori perangkat lipat secara global pada tahun 2019, portofolio gawai Samsung terus mengalami diferensiasi untuk menyasar berbagai ceruk pasar. Diversifikasi perangkat ini dinilai sebagai langkah strategis perusahaan asal Korea Selatan tersebut untuk memastikan pengalaman kecerdasan buatan yang mobile-first dapat dinikmati oleh berbagai lapisan demografi konsumen.
Kehadiran Galaxy Z8 Series menjadi pembuktian lanjutan bahwa inovasi perangkat keras yang dibalut dengan integrasi kecerdasan buatan tingkat sistem (system-level integration) akan terus menjadi poros persaingan utama industri ponsel pintar di masa mendatang.
Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.