XLSMART secara resmi mengumumkan penyelesaian proyek migrasi public cloud berskala masif dengan menggandeng Tencent Cloud sebagai mitra teknologi strategis.
Proyek ini mencetak pencapaian baru di industri telekomunikasi Indonesia karena menjadi implementasi pertama yang sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengakselerasi pemindahan sistem.
Lewat kolaborasi ini, proses transformasi infrastruktur digital yang kompleks pasca-merger perusahaan sukses dirampungkan hanya dalam kurun waktu empat setengah bulan tanpa mengganggu layanan kepada puluhan juta pelanggan.
Terbentuk dari peleburan antara XL Axiata dan Smartfren pada April 2025, integrasi infrastruktur teknologi menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi XLSMART. Mengelola layanan untuk 69 juta pengguna di bawah naungan Sinarmas Group dan Axiata Group menuntut keandalan jaringan yang absolut.
Transformasi arsitektur ini didesain tidak hanya untuk menyatukan sistem yang terpisah, melainkan sebagai fondasi digital jangka panjang untuk mendukung layanan komunikasi seluler, internet rumah, hingga solusi korporasi berbasis kecerdasan buatan di masa depan.
Mengurai Kompleksitas Infrastruktur Pasca-Merger
Tantangan utama yang dihadapi perusahaan pada akhir tahun 2025 bukanlah sekadar memindahkan data dari satu server ke server lain. Ekosistem digital peninggalan dua perusahaan sebelumnya tersebar di berbagai platform multi-cloud yang terfragmentasi, mencakup lebih dari 60 aplikasi inti dan ribuan layanan mikro (microservices).
Dalam mengeksekusi proyek ini, perusahaan menolak pendekatan konvensional ‘lift-and-shift’ (memindahkan aset secara mentah). Tim gabungan memilih strategi yang jauh lebih radikal: melakukan audit komprehensif, merancang ulang, hingga membangun kembali arsitektur sistem agar sesuai dengan standar cloud modern. Kondisi ini diperumit dengan keterlibatan lebih dari 10 vendor pihak ketiga dengan bahasa pemrograman yang bervariasi, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat krusial.
Bagaimana AI Tencent Memangkas Waktu Migrasi?
Untuk mengejar tenggat waktu yang ketat, Tencent Cloud memutuskan untuk mengintegrasikan AI di setiap tahap siklus migrasi—mulai dari identifikasi layanan, desain arsitektur, hingga peralihan sistem (cutover). Pekerjaan administratif manual yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan berhasil dipadatkan menjadi hitungan minggu.
Berikut adalah kapabilitas AI yang menjadi motor penggerak proyek ini:
-
CodeBuddy & WorkBuddy: Agen cerdas milik Tencent yang digunakan untuk mengembangkan lebih dari 20 “Skills” atau kemampuan otomatisasi migrasi cloud.
-
Pemindaian Lintas Akun Otomatis: AI bertugas memindai spesifikasi sumber daya infrastruktur lama secara instan dan memetakannya langsung ke konfigurasi server Tencent Cloud.
-
Generator Desain Arsitektur: Sistem mampu menganalisis aset dan secara otomatis merilis dokumen teknis Low-Level Design (LLD) lengkap dengan diagram visualnya, membebaskan teknisi dari pendataan manual via lembar kerja.
-
Otomatisasi Alur Kerja: Meliputi adaptasi Software Development Kit (SDK), konversi skrip infrastruktur (Terraform), hingga penyusunan playbook cutover otomatis.
Rincian Volume Aset Digital yang Dimigrasikan
Fokus pada efisiensi operasional terbayar lunas dengan rekam jejak migrasi yang bersih tanpa downtime (waktu henti). Untuk memastikan keamanan, Tencent Cloud juga mengaplikasikan pemindaian celah keamanan dan penguatan infrastruktur (hardening) secara ketat sebelum sistem diaktifkan sepenuhnya.
Tabel di bawah ini menjabarkan skala aset digital yang berhasil dipindahkan selama 4,5 bulan masa pengerjaan:
Lebih dari itu, Tencent Cloud juga melakukan modifikasi dengan merilis 200 pembaruan fitur khusus (custom features) agar ekosistem cloud global mereka relevan dengan kebiasaan operasional tim lokal di Indonesia. Pengelolaan pusat data juga diperkuat dengan teknologi Database Claw, sebuah solusi agen AI cerdas untuk pemantauan pangkalan data.
Pandangan Pimpinan dan Masa Depan Operasional
Keberhasilan proyek ini menjadi preseden penting bagi industri telekomunikasi Asia Tenggara. Kumpulan “Skills” otomatisasi yang diciptakan selama proyek ini telah dipatenkan menjadi platform migrasi AI independen yang akan digunakan kembali untuk proyek global Tencent Cloud di masa depan.
Senior Vice President Tencent Cloud Internasional, Poshu Yeung, menegaskan komitmennya terhadap pasar Indonesia. “Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan XLSMART dalam proyek yang menjadi tolok ukur bagi industri ini, dan kami akan terus memberikan dukungan teknis yang kuat untuk mendukung fase pertumbuhan selanjutnya,”ungkapnya.
Di sisi lain, Director and Chief Information & Technology Officer XLSMART, Yessie D. Yosetya, menyoroti dampak bisnis dari kolaborasi ini. “Proyek ini lebih dari sekadar migrasi ke cloud. Proyek ini membangun fondasi digital yang lebih kokoh, memungkinkan XLSMART untuk berinovasi lebih cepat, meningkatkan ketahanan operasional, dan terus meningkatkan pengalaman pelanggan secara andal,” tutup Yessie.
Ekspansi Tencent Cloud yang kini telah menjangkau lebih dari 80 negara diproyeksikan akan semakin memperkuat posisinya di Asia Tenggara, sejalan dengan eratnya kerja sama bersama konglomerasi lokal seperti Sinarmas dan Axiata Group.
—
Disclosure: Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan dalam pengawasan editor.